Speech Delay pada Anak, Bagaimana Cara Mendeteksi dan Mencegahnya?

Speech Delay pada Anak, Bagaimana Cara Mendeteksi dan Mencegahnya?

Proses tumbuh kembang anak perlu Parents perhatikan. Salah satunya yaitu masalah speech delay atau keterlambatan berbicara pada anak.

Speech delay atau dikenal juga keterlambatan berbicara merupakan kondisi perkembangan berbahasa anak tidak sesuai dengan usianya. Tidak sedikit orangtua menganggap speech delay sebagai kondisi yang wajar atau normal. Padahal, jika speech delay pada anak tidak ditangani dengan tepat, ini bisa menjadi gangguan yang serius.

Perlu Parents ketahui, periode emas tumbuh kembang anak yaitu ketika ia memasuki usia 1 hingga 3 tahun. Di masa ini si kecil akan mengalami perkembangan fisik, serta perkembangan dalam hal kemampuan berkomunikasi atau berbahasa.

Sayangnya, tidak semua anak mengalami perkembangan berbahasa yang baik, dan ini harus Parents waspadai. Salah satu masalah yang sering ditemui adalah speech delay. Menurut penelitian, kasus ini meningkat sebanyak 5 sampai 10 persen setiap tahunnya.

Membahas mengenai speech delay pada anak, theAsianparent Indonesia telah berdiskusi langsung dengan ahlinya, yaitu dr. Anggia Hapsari, SpKJ(K), Psikiater Konsultan Anak dan Remaja dari Smartkid Clinic, Jakarta.

Yuk, langsung simak pembahasannya berikut ini.

Artikel Terkait: Anak Belum Lancar Bicara? Ini Penyebab dan Cara Menanganinya

Deteksi Dini Speech Delay

Sumber gambar: Freepik

Tahapan Perkembangan Berbahasa Anak

1. Usia 1,5 Tahun (16 – 18 Bulan)

Normalnya, ketika anak memasuki usia 16 sampai 18 bulan, ia harus sudah bisa mengucapkan minimal 10 kosa kata. Di usia ini, anak juga biasanya sudah mulai mampu memahami instruksi yang diberikan Parents atau menirukan kata-kata yang sering ia dengar.

Meskipun pada masa ini anak belum bisa berbicara dengan jelas, tetapi Parents sudah bisa memahami minimal 25% dari kata-katanya.

2. Usia 2 Tahun

Memasuki usia 2 tahun, anak seharusnya sudah bisa mengucapkan lebih dari 50 kosa kata. Tidak hanya mengucapkannya, tetapi di usia ini anak sudah mulai mampu merangkai kata-kata sederhana, seperti menyambungkan dua buah kata menjadi satu kalimat.

3. Usia 3 Tahun

Ketika anak memasuki usia 3 tahun, minimal ia harus mampu mengucapkan 400 kosa kata. Anak juga sudah bisa menggabungkan 2 sampai 3 suku kata menjadi satu kalimat.

Selain itu, peniruan kata-kata juga sudah mulai berkurang. Pada usia ini, anak juga sudah bisa memahami instruksi dari orang lain sekitar 75%.

Parents, apabila anak sudah mencapai usia 2 atau 3 tahun, tetapi ia belum juga mampu berbicara dengan lancar atau hanya bisa mengucapkan potongan kata saja, maka ia dapat digolongkan mengalami speech delay atau keterlambatan berbicara.

Speech Delay Cenderung Lebih Sering Terjadi pada Anak Laki-laki

Lebih lanjut, dr. Anggia Hapsari, SpKJ(K), mengatakan bahwa masalah speech delay memang cenderung lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Hal ini karena anak laki-laki lebih hiperaktif dibanding anak perempuan.

Kondisi “hiperaktif” nya ini bisa membuat fokus anak lebih mudah teralihkan. Ia menjadi tidak hanya fokus pada berbicara, karena lebih fokus pada aktivitas lainnya.

Deteksi Dini Speech Delay

Sumber gambar: Freepik

Artikel Terkait: Waspadai tanda keterlambatan perkembangan pada anak ini, Parents!

Mencegah Speech Delay pada Anak

Speech delay bisa dicegah sedini mungkin. Beberapa tips sederhana dari dr. Anggia Hapsari, SpKJ(K), di bawah ini bisa Parents terapkan untuk mencegah terjadinya speech delay pada anak.

  • Bermain sensory play, yaitu mengenalkan/menstimulasi panca indra anak dengan mengeksplorasi tekstur benda yang berbeda, seperti pasir, lilin malam, meremas jelly, kain beludru, atau bermain boneka.
  • Mengajak anak berbicara sesering mungkin. Ketika mengajak anak berbicara, maka Parents harus melakukannya dengan perlahan atau tidak terburu-buru dan memakai bahasa yang jelas (bukan bahasa bayi, misalnya makan bukan mamam, minum bukan mimik dan sebagainya). Lalu, usahakan untuk mengajak anak berbicara dari depan agar anak dapat melihat wajah serta gerak bibir Parents.
  • Melatih otot rahang anak.
  • Membacakan buku cerita toddler atau baby sejak dini. Lakukan berulang-ulang kepada si kecil agar ia bisa mengikuti dan memahami bahasa yang Parents sampaikan.
  • Mengurangi penggunaan gadget. Selain itu, Parents juga disarankan untuk tidak mengenalkan gadget pada anak sebelum ia berusia 2 tahun.
  • Tanggapi celotehan anak atau jawab pertanyaan yang ia berikan setiap ia bertanya.

Artikel Terkait: Agar anak lancar bicara, 5 hal ini harus Parents lakukan!

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Mengalami Speech Delay?

Deteksi Dini Speech Delay

Sumber gambar: Freepik

Melansir dari berbagai sumber, apabila Parents merasakan adanya gejala keterlambatan berbicara pada anak, maka sebaiknya lakukan hal-hal berikut ini:

  • Konsultasikan masalah speech delay kepada dokter tumbuh kembang anak dan psikolog. Usahakan untuk menjelaskan kepada para ahli tentang tumbuh kembang anak dan kemampuan apa saja yang sudah ia kuasai.
  • Setelah berkonsultasi dengan para ahli, jika mereka memutuskan bahwa si kecil memerlukan terapi berbicara, maka Parents pun wajib mengikuti saran ahli. Amati seluruh proses terapi yang dijalankan si kecil agar Parents dapat memelajari caranya dan ikut berpartisipasi.
  • Berikan anak kesempatan untuk berinteraksi dan bermain dengan teman-teman sebayanya, ya, Parents. Ini dilakukan karena dengan membiarkan si kecil bermain dengan anak-anak yang lainnya dapat memotivasi agar ia belajar berbicara.

Itulah beberapa penjelasan mengenai speech delay pada anak agar Parents dapat mendeteksinya sedini mungkin, sehingga bisa mencegah terjadinya masalah tersebut. Tetap semangat, ya, Parents, selalu perhatikan proses tumbuh kembang si kecil secara cermat dan detail.

Baca Juga:

Anak Speech Delay Sampai Usia 4 Tahun, Ayah ini Tetap Optimis

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner