Anak Speech Delay Sampai Usia 4 Tahun, Ayah ini Tetap Optimis

Anak Speech Delay Sampai Usia 4 Tahun, Ayah ini Tetap Optimis

Mengalami anak yang speech delay memang tidak bisa sembarangan. Saat ini, upaya Kokok yang telaten dan kebesaran hatinya ini membuahkan hasil yang manis.

Wacana speech delay pada anak memang menjadi momok bagi orangtua. Banyak orangtua yang jadi ‘patah hati’ mengetahui bahwa anaknya punya kekurangan. Namun hal itu tidak terjadi pada Kokok Dirgantoro, ia justru berbesar hati saat mengetahui anaknya speech delay atau terlambat bicara.

Melalui Tweetnya, Kokok bercerita tentang caranya mengatasi speech delay yang dialami oleh sang anak.

 

Berbeda dengan orangtua lain yang mengaitkan keterlambatan bicara anak dengan gadget, Kokok justru tidak yakin bahwa anaknya mengalami speech delay disebabkan oleh penggunaan gadget.

“Djaduk tidak suka gadget/komputer sampai usia TK A. Djaduk pegang gawai sendiri usia SMP. Waktu SD kelas 5 dibelikan tapi tidak pernah dipakai” jelas pemilik akun Twitter yang memiliki pengikut lebih dari 21 ribu akun ini.

Saat akhirnya bisa bicara pun, Djaduk anaknya yang cukup haus ilmu pengetahuan. Banyak pertanyaan yang ia ajukan hingga membuat orangtuanya cukup kerepotan.

“Pertanyaannya bisa menyangkut makanan sampai menyangkut hal-hal yang bisa dia protes,” ungkap Kokok,

Namun, psikolog menjelaskan bahwa Djaduk mengalami susah bicara kemungkinan karena ayah dan ibunya (Dini Afiaty) bicara dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, Djaduk biasa menonton TV yang acaranya kartun berbahasa Inggris.

“Sehingga, psikolog itu menyarankan kami untuk menggunakan bahasa ibu saat menonton kartun,” tegasnya.

Saat ini, anak yang bernama lengkap Raffi Djaduk Baskoro sudah menginjak bangku SMP. Ia bersekolah di SMP 11 Tangsel.

Kemampuan membaca dan berhitungnya pun berkembang cukup pesat sejak TK A. Menurut Kokok, jika ada kekurangan, mungkin salah satunya adalah interaksi dengan teman sebayanya karena dia cenderung pemalu.

“Barulah saat SD kelas 4 sampai sekarang, ia bisa punya banyak teman,” terang ayah dari Djaduk (13), Pravda Reva Amartya (11), dan Lula Athena Khoiriyah (5) ini.

Kokok bersyukur bahwa tidak ada anaknya yang mengalami masalah seputar speech delay lagi. Bahkan, dua anak perempuannya termasuk anak-anak cerewet yang memiliki banyak kosa kata.

Sebagai orangtua yang pernah mengalami anak yang speech delay, Kokok menyarankan orangtua untuk menemukan bantuan dari profesional. Baginya, harga sebuah tempat terapi bukan jaminan. Bisa jadi, tempat pelayanan konsultasi dan bimbingan speech delay a la ruko sederhana layanannya lebih baik dari yang berada di tempat tumbuh kembang mahal lainnya.

“Yang penting anaknya nyaman dan bahagia. Tidak usah terlalu diambil hati dengan banyak omongan orang,” tutur CEO yang memberikan cuti kerja pada karyawatinya yang hamil dan melahirkan sebanyak 6 bulan ini.

Ketegaran Kokok dalam menghadapi anaknya yang speech delay bisa kita tiru. Apalagi, sikap tegasnya untuk mencari opsi kedua dari diagnosa anaknya adalah langkah nyata agar tak terpuruk dalam kesedihan yang disebabkan keterlambatan tumbuh kembang anak.

Mengingat bahwa ada banyak orangtua yang langsung panik dan putus asa jika anaknya mengalami keterlambatan wicara, maka ketenangan Kokok dan Dini ini patut ditiru oleh para orangtua.

Jika anak Anda adalah salah satu anak yang mengalami speech delay, jangan khawatir bahwa dia akan tumbuh jadi anak yang kurang cerdas. Karena Albert Einstein pun dikenal sebagai anak yang mengalami keterlambatan wicara yang cukup parah.

Jadi, jangan sedih dulu jika anak tampak berbeda dengan anak lainnya. Karena siapa tahu dia justru anak yang memiliki kecerdasan tinggi hingga susah dimengerti orang awam dan kelak akan jadi orang penting di Republik ini.

 

Baca juga:

Perjuangan Seorang Ibu Mengatasi Anaknya yang Kecanduan Menonton Televisi

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner