Penyakit Gangguan Bipolar – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penyakit Gangguan Bipolar – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental yang membuat suasana hati seseorang mudah berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.

Gangguan bipolar, atau disebut juga gangguan manik depresi, adalah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan perubahan ekstrem pada suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, dan kemampuan untuk menjalani fungsi sehari-hari. Individu dengan gangguan ini terkadang merasa sangat gembira, impulsif, atau irasional, dan di lain waktu, dapat merasa sangat sedih.

Kurang lebih 1-3 persen populasi di dunia memiliki gangguan bipolar. Risiko meningkat apabila individu memiliki riwayat keluarga dengan gangguan yang sama. Biasanya, gejala pertama kali muncul antara usia 15 sampai 30 tahun, tidak di masa kanak-kanak atau di atas usia 65 tahun. 

Artikel terkait: Mengaku alami gangguan mental, Rachel Vennya dan Niko, “Kami saling menguatkan”

Gejala Gangguan Bipolar

Gejala yang tampak bergantung pada suasana hati yang sedang dialami.

gangguan bipolar

1. Manik

Kondisi manik menyebabkan seseorang terus-menerus merasa bahagia, marah, hiperaktif, impulsif, dan irasional di waktu yang berbeda. Perasaan ini berlangsung paling sedikit selama satu minggu dan bisa cukup berat hingga perlu dirawat di rumah sakit.

Gejala lain yang dapat muncul, yakni:

  • Merasa memiliki kekuatan dan keunggulan khusus
  • Kualitas dan kuantitas tidur menurun, gelisah
  • Banyak bicara
  • Aktivitas meningkat
  • Pikiran yang cepat berpindah atau berulang-ulang, terlalu banyak ide
  • Rentang perhatian yang pendek
  • Bercanda atau tertawa yang tidak pantas atau terlibat banyak pertengkaran
  • Belanja yang berlebihan atau aktivitas seksual yang tidak pantas

Kondisi manik membuat penderitanya sulit menjaga hubungan interpersonal dengan teman dan keluarga, serta mengganggu pekerjaan dan tanggung jawab lainnya. Selama episode ini, suasana hati seseorang dapat berubah dengan cepat dari euforia menjadi depresi atau mudah tersinggung.

2. Hipomanik

Kondisi ini lebih ringan daripada manik, tetapi membuat perubahan suasana hati yang tidak normal. Episode hipomanik biasanya lebih singkat ketimbang manik, tetapi paling sedikit berlangsung selama empat hari.

Kondisi hipomanik tidak terlalu memengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja atau belajar. Sebagian orang bahkan berfungsi lebih baik selama episode ini. Meski tak perlu dirawat di rumah sakit, kondisi hipomanik perlu diatasi dengan obat-obatan agar tidak berkembang menjadi episode manik atau depresi.

Artikel terkait: Hari bipolar sedunia, 5 artis ini berjuang hadapi gangguan mental ini

3. Depresi

Individu dengan depresi merasa sangat sedih dan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas rutin seperti mandi, berpakaian, atau memasak. Selama episode ini, seseorang dapat merasa sedih sepanjang hari atau memiliki sedikit atau sama sekali tidak berminat melakukan aktivitas apapun.

Gejala lain yang dapat muncul, yakni:

  • Penurunan atau peningkatan berat badan (akibat perubahan porsi yang dimakan)
  • Sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau sebaliknya menjadi tidur berlebihan
  • Sangat mudah tersinggung
  • Merasa kelelahan, kehilangan energi, lesu
  • Merasa tidak berharga atau bersalah
  • Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan
  • Muncul pikiran berulang tentang kematian atau keinginan untuk bunuh diri

gangguan bipolar

Tidak seperti perubahan suasana hati pada umumnya, setiap episode ekstrem dari gangguan bipolar dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan lebih lama.

Diagnosis bipolar membutuhkan waktu bertahun-tahun oleh karena pola kemunculannya sangat bervariasi. Sebagai contoh, sebagian individu mungkin hanya mengalami beberapa episode bipolar sepanjang hidupnya dan cenderung stabil di antaranya. Sedangkan yang lain, dapat mengalami banyak episode.

Sampai saat ini, tidak ada tes khusus yang dapat mendiagnosis gangguan bipolar. Diagnosis hanya didasarkan pada riwayat gangguan serta pemeriksaan status fisik dan mental. Pemeriksaan laboratorium bisa saja dilakukan tetapi lebih untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis lainnya.

Penyebab Gangguan Bipolar

Penyebab pasti gangguan bipolar masih belum diketahui. Para pakar meyakini ada sejumlah faktor yang saling berhubungan dan membuat seseorang lebih mungkin mengalaminya. Ini merupakan kombinasi yang kompleks dari faktor fisik, sosial, dan lingkungan.

gangguan bipolar

  • Ketidakseimbangan zat kimia dalam otak. Zat-zat kimia yang bertanggung jawab untuk mengendalikan fungsi-fungsi otak disebut dengan neurotransmitter. Yang termasuk neurotransmitter penting, yakni noradrenaline, serotonin, dan dopamine. Beberapa studi menunjukkan ketika terjadi ketidakseimbangan dalam kadar salah satu atau lebih neurotransmitter tersebut, seseorang akan mengalami gejala gangguan bipolar.
  • Genetik. Gangguan bipolar umumnya muncul dalam satu garis keturunan. Oleh sebab itu, anggota keluarga dari penderita gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Namun, tidak ada satu gen tertentu yang bertanggung jawab atas kemunculan gangguan bipolar. Faktor genetik dan lingkungan lebih dianggap sebagai pemicu.
  • Pemicu. Keadaan atau situasi yang penuh tekanan kerap memicu episode gangguan bipolar. Contohnya meliputi putusnya suatu hubungan, pelecehan fisik, seksual atau emosional, serta kematian anggota keluarga dekat atau orang yang dicintai. Peristiwa-peristiwa yang bersifat traumatik ini dapat memicu episode depresi kapanpun dalam hidup seseorang. Adanya penyakit, gangguan tidur, kesulitan ekonomi, masalah dalam pekerjaan atau hubungan interpersonal juga dapat memicu gejala gangguan bipolar.

Artikel terkait: 5 Hikmah di Balik Kisah Hidup Marshanda

Cara Mengobati Gangguan Bipolar

Penyakit Gangguan Bipolar – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Ada beberapa pilihan pengobatan yang efektif untuk mengelola gejala dari gangguan bipolar. Umumnya ini merupakan kombinasi dari beberapa jenis pengobatan, yaitu:

  • Obat-obatan yang tergolong mood stabilizer seperti lithium, obat antikejang (asam valproat, carbamazepine, dan lamotrigine), dan obat antipsikotik (aripiprazole, olanzapine, quetiapine, dan risperidone). Obat-obatan ini ada yang dikonsumsi setiap hari untuk jangka panjang, ada pula yang digunakan untuk mengatasi gejala yang muncul saat episode manik atau depresi. 
  • Mengenali pemicu dan tanda-tanda kemunculan episode manik atau depresi. Tenaga medis yang merawat dapat membantu untuk mengenali tanda-tanda ini dari riwayat gangguan sebelumnya.
  • Terapi psikologis yang mencakup edukasi penyakit, cognitive behavioral therapy (terapi bicara untuk mengubah cara berpikir dan berperilaku seseorang), dan terapi bicara yang berfokus pada hubungan antaranggota keluarga agar saling membantu dan suportif terhadap penderita gangguan bipolar.
  • Perbaikan gaya hidup seperti rutin berolahraga, merencanakan aktivitas yang disukai dan memberikan kepuasan, memperbaiki pola makan dan pola tidur.

Sebagian besar individu dengan gangguan bipolar tidak perlu dirawat di rumah sakit kecuali gejala berat atau membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Gangguan bipolar merupakan kondisi yang akan dialami seumur hidup penderitanya. Episode manik dan depresi bisa kembali muncul kapan saja.

Di antara dua episode, sebagian besar penderitanya bebas dari gejala, tetapi ada pula yang gejalanya menetap. Perawatan gangguan bipolar jangka panjang yang berkelanjutan dapat membantu orang mengelola gejala-gejala ini serta terhindar dari risiko penyalahgunaan alkohol dan obat-obat terlarang serta bunuh diri.

Baca juga:

Waspada! Ini 4 jenis gangguan bipolar yang bisa menyerang anak

Parents, Perhatikan 10 Ciri Penyakit Mental yang diderita oleh Anak ini

Ibu yang Mempunyai Gangguan Mental Tetap Bisa Punya Anak, Asal …

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner