Tubuh anak sering lakukan gerakan sama dan berulang? Waspada kelainan langka ini!

Tubuh anak sering lakukan gerakan sama dan berulang? Waspada kelainan langka ini!

Gejala sindrom tourette memang mudah terlihat, tapi Parents juga perlu berkonsultasi kepada dokter untuk memastikan kondisi ini.

Banyak masyarakat awam yang masih asing dengan sindrom tourette, mungkin Parents juga salah satunya? Perlu diketahui, seseorang yang mengidap sindrom ini tidak bisa mengendalikan gerak-gerik tubuhnya.

Maksudnya, gerakan yang mereka lakukan terjadi secara tiba-tiba, tak disengaja, berulang dan di luar kendali. Gerakan pada penderita sindrom ini juga disebut ‘tics‘, bisa terlihat di setiap penderita.

Tics dapat berupa kedipan mata, sentakan kepala, gerakan mengangkat bahu, pandangan mata yang beralih. Kemudian kedutan hidung, gerakan mulut yang tak biasa dan bahkan pada beberapa kasus, ticsnya lebih kompleks.

Meski jenis tics bisa beragam, tapi yang pasti, gerakan mendadak yang terjadi secara berulang pada penderita sindrom tourettebukanlah karena disengaja.

Lalu, seperti apakah penjelasan lainnya terkait sindrom ini?

Mengenal sindrom tourette, kelainan langka pada syaraf

sindrom tourette

Hingga saat ini, penyebab pasti sindrom tourettemasih belum diketahui. Namun, para ahli menduga, kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kelainan pada sistem saraf otak, keturunan, dan lingkungan.

Selain itu, kondisi fisik bayi saat lahir juga dipercaya dapat jadi penyebab munculnya sindrom ini, misalnya jika berat lahir rendah. Serta, kuman streptococcus pada anak diduga bisa menyebabkan sindrom ini.

Apabila si kecil mengalaminya, maka kelainan mulai tampak ketika usia 2 tahun, hingga menginjak usia remaja 15 tahun. Di samping itu, penelitian menunjukkan jika kelainan ini lebih berisiko terjadi kepada anak laki-laki.

Artikel terkait : Sindrom asperger, apa bedanya dari autisme? Waspadai 10 ciri ini

Gejala sindrom tourette

Gejala umum sindrom touretteadalah tics, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, di antaranya yaitu :

1. Motor tics

Melakukan gerakan yang sama dan berulang. Jenis ini dapat melibatkan kelompok otot dalam jumlah terbatas (simple tics) maupun beberapa otot sekaligus (complex tics).

Beberapa gerakan yang termasuk ke dalam simple motor tics adalah berkedip, mengangguk, menggeleng, dan menggerak-gerakkan mulut. Sedangkan complex motor tics, penderita umumnya mengulang gerakan seperti menyentuh atau mengendus suatu benda, meniru pergerakan suatu benda, menekuk atau memutar badan, meloncat, dan melangkah dalam pola tertentu.

2. Vocal tics

Tics berupa suara yang berulang, bentuknya seperti batuk, berdeham, dan membuat suara menyerupai binatang bahkan sampai menggonggong. Namun, latah tidak termasuk sindrom tourette.

3. Complex vocal tics

Gejala yang muncul antara lain mengulang perkataan sendiri (palilalia) atau perkataan orang lain (echophenomena), dan mengucapkan kata-kata kasar dan vulgar (koprolalia).

Saat pengidapnya merasa stres, cemas, kelelahan, atau saat terlalu semangat, tics bisa makin parah. Di awal masa remaja, ketika beralih dari masa remaja ke masa dewasa, tics juga makin terlihat dan makin menguat dari biasanya.

Diagnosis sindrom tourette

sindrom tourette

Diagnosis sindrom ini dilakukan dengan mengetahui riwayat gejala yang dialami pasien. Dokter memeriksa penyebab tics yang terjadi pada penderita yang belum berusia 18 tahun.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan bahwa tics yang muncul bukan karena penggunaan obat-obatan, zat, atau kondisi medis lainnya. Lalu, dokter akan melihat apakah tics yang dialami terjadi beberapa kali sehari, hampir setiap hari atau berselang-seling, dan terjadi selama lebih dari satu tahun.

Meski tak ada tes spesifik memeriksa sindrom ini, beberapa rangkaian tes dilakukan untuk mendiagnosis sindrom ini. Antara lain melalui tes darah hingga MRI.

Sindrom tourette memang bukan kondisi yang mengganggu psikis, tapi penderitanya disarankan bertemu psikiater atau pun terapis. Dengan begitu, stres yang mereka alami karena keadaannya dapat teratasi.

Ini baik dilakukan agar penderitanya dapat mengetahui teknik relaksasi yang tepat. Dalam sesi psikoterapi, terapis juga dapat menggunakan beberapa metode bantuan seperti hipnosis, meditasi, dan teknik pernapasan.

Bertemu psikiater ataupun terapis dapat membantu mereka mengomunikasikan masalah yang dialaminya berkaitan dengan sindrom ini. Meskipun, tidak dapat menghilangkan tics mereka.

Artikel terkait : Waspada bila anak terlambat jalan dan bicara, bisa jadi alami gangguan ini!

Gangguan perilaku pada anak yang menderitanya

Perilaku melukai diri sendiri, gangguan suasana hati sampai depresi hingga kesulitan belajar kerap dialami oleh anak penderita tourette. Bahkan, biasanya juga disertai ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), OCD (obsessive-compulsive disorder) atau OCB (obsessive-compulsive behavior). Kondisi tersebut memerlukan bantuan terapis.

Cara menanganinya

Tubuh anak sering lakukan gerakan sama dan berulang? Waspada kelainan langka ini!

Sindrom tourette dengan gejala yang ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan. Namun, jika gejala yang dialami sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membahayakan diri maka psikoterapi bisa jadi solusi.

Terapi perilaku kognitif juga dapat meringankan gejala dari ADHD, OCD dan depresi yang dialami penderitanya.

Obat-obatan

Meski belum ditemukan obatnya, beberapa obat dapat membantu pasien mengendalikan tics, seperti obat-obat antipsikotik seperti haloperidol, antidepresan, suntik botox, atau obat antikonvulsan.

DBS (deep brain stimulation)

Elektroda ditanam ke dalam otak pasien, untuk merangsang reaksi otak dalam. Namun, DBS hanya direkomendasikan bagi penderita dengan gejala yang parah, dan tidak tertangani dengan terapi lain.

Penderita Tourette umumnya sulit berinteraksi dengan orang lain. Kepercayaan diri karena kondisi yang mereka miliki meningkatkan stres dan depresi.

Jika anak mengalami sindrom tourette, lakukan hal ini

sindrom tourette

  • Usahakan untuk selalu mendapatkan informasi yang akurat mengenai tourette, baik bagi penderita maupun keluarga.
  • Puncaknya tics terjadi saat penderita mencapai usia remaja, tapi kondisi tersebut akan membaik seiring bertambahnya usia.
  • Dukung penderita tourette syndrom dengan mengedukasi orang lain di sekitar anak secara rutin.
  • Anak dengan sindrom tourettedapat berkembang lebih baik dalam lingkungan belajar yang lebih kecil, misalnya home schooling atau belajar secara privat.
  • Gabung dengan komunitas dukungan sesuai kebutuhan kondisi penderita tourette.
  • Dukung anak agar percaya diri, misalnya mendukung hobi kreatif, olahraga, atau kegiatan lain yang ia sukai.
  • Jaga hubungan baik dengan teman bermainnya.
  • Pahami bahwa setiap anak berhak belajar, bermain, dan menjalani hari-hari yang bahagia sama seperti anak lainnya.

Faktanya, sindrom tourettetidak mengurangi kepintaran penderitanya. Gejala sindrom tourettedapat membaik seiring bertambahnya usia, tapi dapat juga bertambah parah dan membutuhkan perawatan lanjutan.

Dukungan sangat diperlukan untuk penderita, karena serangan panik, cemas, dan depresi berasal dari lingkungan mereka sendiri. Maka, edukasi, terapi, dan kelompok dukungan amat berperan penting bagi perkembangan kondisi penderita.

Demikian informasi ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa juga untuk selalu berkonsultasi kepada dokter, ya.

Referensi : Kidshealth, Alodokter

Baca juga :

Stimulasi kemampuan motorik anak dengan 5 aktivitas sederhana, bisa coba di rumah!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

febri

Country ...

Jumlah kasus

...+ 0 Hari ini

Jumlah sembuh

...

Jumlah kematian

...+ 0 Hari ini

Jumlah kritis

...

Untuk mengetahui update terbaru tentang Covid-19