Polihidramnion, kondisi ketuban berlebihan yang perlu bumil ketahui

lead image

Berbicara mengenai cairan ketuban, ibu hamil bisa mengalami kelebihan cairan ketuban atau polihidroamnion lo, Bunda. Berikut penjelasannya!

Cairan ketuban merupakan cairan yang mengelilingi dan melindungi janin di dalam rahim. Selama kehamilan, bayi Anda membutuhkan cairan ketuban untuk tumbuh. Sayangnya, ada kalanya ibu hamil bisa mengalami kelebihan cairan ketuban atau polihidramnion.

Apa yang menyebabkan dan bagaimana upaya pencegahannya?

Jumlah rata-rata cairan ketuban

Polihidramnion

Cairan ketuban membantu melindungi janin dalam rahim, artinya cairan ini memiliki peran penting untuk perkembangan janin. Selama 14 minggu pertama kehamilan, cairan ketuban akan mulai mengalir dari sistem peredaran darah ke dalam kantung ketuban.

Pada awal trimester ke-2, janin akan mulai menelan cairan ketuban dan kemudian mengeluarkannya dalam bentuk urin. Proses janin menelan dan mengelurkan air ketuban ini akan menjaga jumlah cairan ketuban tetap stabil.

Artikel terkait: Kenali perbedaan cairan ketuban dan keputihan saat hamil berikut ini, Bumil wajib baca!

Ibu hamil biasanya memiliki sekitar 500 hingga 1.000 ml cairan ketuban. Terlalu banyak atau terlalu sedikit cairan ketuban, dapat memengaruhi perkembangan janin atau menyebabkan komplikasi kehamilan. Berikut perkiraan volume air ketuban yang normal dilansir dari Alodoker:

  • 60 mL pada usia 12 minggu kehamilan
  • 175 mL pada usia 16 minggu kehamilan
  • 400–1.200 mL pada usia antara 34-38 minggu kehamilan.

Kelebihan cairan ketuban atau polihidramnion

Polihidramnion

Polihidramnion terjadi ketika cairan ketuban menumpuk di rahim selama kehamilan. Meskipun polihidramnion biasanya tidak berbahaya, tetapi dalam kasus yang jarang terjadi di mana kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kehamilan yang serius. Terutama jika terjadi pada awal kehamilan.

Sayangnya, sampai saat ini belum diketahui secara pasti hal apa saja yang menjadi penyebab polihidramnion. Namun, polihidramnion ringan mungkin dapat disebabkan oleh penumpukan cairan ketuban secara bertahap selama kehamilan. Polihidramnion sedang hingga berat mungkin dapat disebabkan oleh salah satu hal di bawah ini:

  • Janin mengalami cacat bawaan

Cacat bawaan yang memengaruhi saluran pencernaan atau sistem saraf pusat janin, dapat menyebabkan kelebihan cairan ketuban.

Karena mengalami cacat bawaan, kemampuan bayi untuk menelan cairan ketuban mungkin terganggu. Jika bayi tidak dapat menelan, bisa sebabkan cairan ketuban akan menumpuk.

  • Ibu mengalami diabetes

Peningkatan kadar glukosa darah dapat menyebabkan penumpukan cairan ketuban yang berlebihan. Jadi, jika ibu hamil menderita diabetes sebelum hamil atau selama kehamilan (diabetes gestasional), ia mungkin juga memiliki cairan ketuban yang berlebih.

  • Sedang mengandung anak kembar 

Polihidramnion sangat mungkin terjadi pada kasus sindrom twin-to-twin transfusion, yaitu saat satu dari anak kembar memiliki sangat sedikit cairan ketuban, sementara kembarannya memiliki terlalu banyak cairan ketuban.

  • Jenis darah ibu dan janin tidak cocok

Ketika seorang ibu memiliki golongan darah dengan Rh-negatif, dan bayinya memiliki golongan darah Rh-positif, ini bisa saja menyebakan komplikasi, seperti polihidramnion.

  • Masalah dengan detak jantung bayi
  • Infeksi selama kehamilan
  • Kekurangan sel darah merah pada bayi (anemia janin).

Gejala polihidramnion

Polihidramnion, kondisi ketuban berlebihan yang perlu bumil ketahui

Ibu hamil yang merasakan polihidramnion ringan, mungkin tidak akan merasakan gejala apapun. Namun, kelebihan cairan ketuban sedang hingga berat dapat menyebabkan gejala-gejala berikut:

  • Sulit bernapas
  • Pembengkakan di kaki dan dinding perut
  • Tidak nyaman dan rahim sering kontraksi
  • Pembengkakan vulva
  • Produksi urin berkurang
  • Sembelit
  • Mulas
  • Perut terasa kencang.

Komplikasi kelebihan cairan ketuban

Polihidramnion, kondisi ketuban berlebihan yang perlu bumil ketahui

Polihidramnion ringan biasanya tidak menyebabkan komplikasi selama kehamilan. Tetapi dalam kasus yang parah, kelebihan cairan ketuban bisa menimbulkan beberapa risiko, seperti :

Artikel terkait: “Tangan kiri bayiku terputus di dalam rahimku,” sang ibu ungkapkan penyebabnya

  • Ketuban pecah dini
  • Kelahiran prematur
  • Solusio plasenta (pelepasan plasenta dari dinding rahim lebih awal)
  • Perdarahan postpartum (perdarahan berat setelah melahirkan)
  • Prolaps tali pusat (tali pusat keluar dari vagina terlebih dahulu)
  • Malposisi janin
  • Bayi meninggal sebelum dilahirkan.

Perawatan kelebihan cairan ketuban

Polihidramnion

Jika Bunda mengalami polihidramnion, biasanya dokter kandungan akan menyarankan untuk akan menjalani USG setiap minggu untuk memeriksa jumlah cairan ketuban.

Sebenarnya, perawatan untuk kelebihan cairan ketuban ini tergantung pada penyebab yang mendasarinya, serta melihat seberapa parahnya kondisi ini. Kasus-kasus polihidramnion yang ringan biasanya tidak memerlukan perawatan apa pun, dan dapat hilang dengan sendirinya.

Polihidramnion yang parah mungkin memerlukan pemantauan lebih lanjut dari dokter. Polihidramnion parah biasanya dapat diobati dengan prosedur yang disebut amnioreduksi (menghisap cairan ketuban dari rahim secara teratur)

Jika dokter menyimpulkan bahwa polihidramnion yang dialami diakibatkan oleh detak jantung janin, dokter mungkin memberikan obat untuk memperbaiki detak jantung janin.

Dalam beberapa kasus polihidramnion yang parah, dokter mungkin memutuskan untuk melakukan induksi persalinan lebih awal, pada 37 minggu kehamilan, atau bahkan lebih cepat.

***

Semoga informasi di atas bermnfaat!

TAP ID APP BANNER NEW (6)

Artikel ini disadur dari tuliasan Jaya di the Asianparent Singapura.

Baca juga:

5 Masalah cairan ketuban yang sering terjadi, Bumil perlu waspada nih!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner