Waspada hipotiroid pada bayi, ini tanda dan gejalanya!

Waspada hipotiroid pada bayi, ini tanda dan gejalanya!

Skrining hipotiroid perlu dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tujuannya tak lain untuk mendeteksi dini hipotiroid pada bayi (hipotiroid kongenital)

Melihat bayi jarang menangis, pendiam, lesu, atau sering menggigil mungkin Parents akan bertanya-tanya, ‘wajar nggak, sih, kondisi bayi seperti ini? Bukankah umumnya bayi sering menangis dan lincah?’. Jika melihat gejala ini padi si kecil, tak ada salahnya untuk lebih mawas karena ini bisa menjadi pertanda  si kecil mengalami hipotiroid kongenital (HK) atau hipotiroid pada bayi.

Apa itu hipotiroid kongenital?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa hipotiroid merupakan keadaan menurun atau tidak berfungsinya kelenjar tiroid. Bila kondisi ini terdapat sejak lahir, maka akan disebut sebagai hipotiroid kongenital. 

Hormon tiroid sendiri berfungsi bagi pertumbuhan dan perkembangan Si Bayi, hingga bertambah usianya. Di mana kelenjar tiroid sendiri akan menghasilkan hormon tiroid yang berfungsi sebagai pengatur metabolisme tubuh, kerja jantung, perkembangan susunan syaraf pusat (otak) dan produksi panas tubuh

Maka tak mengherankan jika kelenjar ini tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka akan berisiko mengganggu tumbuh-kembang si kecil. 

Faktanya, kondisi hipotiroid kongenital ini banyak dialami oleh bayi di dunia. Setidaknya data menyebutkan sekitar 1.600 bayi dari 4,7 juta bayi yang lahir di dunia mengalami hipotiroid kongenital.

Hal yang sangat mengkhawatirkan bukan?

Oleh karena itulah, untuk mencegah atau mengetahui lebih dini apakah si kecil mengalami hipotiroid kongenital, IDAI mengatakan bahwa penting orangtua untuk melakukan skrining hipotiroid kongenital (HK). Di mana waktu yang paling disarankan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang ke rumah.

Caranya, bisa dilakukan dengan pengambilan darah bayi yang diteteskan di atas kertas saring khusus, dikeringkan kemudian bercak darah dikirim ke laboratorium.

Di laboratorim kadar hormon TSH (thyroid stimulating hormone) akan diukur dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu kurang dari 1 minggu. Bila hasil tes tidak normal, maka bayi memerlupa pemeriksaan lanjutan yang dilakukan oleh Tim Konsultan Program Skrining Bayi Baru Lahir.

Skrining HK ini sendiri merupakan prosedur rutin yang telah dilakukan di negara maju sejak tahun 1970 an. Sedangkan di Indonesia, pemeriksaan ini memang baru dilaksanakan sejak tahun 2000 dan sampai tahun 2014, baru diskrining kurang dari 1% dari jumlah seluruh bayi baru lahir.

Penyebab hipotiroid pada bayi

IDAI juga menyebutkan bahwa hipotiroid kongenital terjadi karena beberapa faktor. Di antarnya disebabkan karena kelainan primer dari kelenjar tiroid (kelenjar gondok), yaitu:

  • Kelainan pembentukan kelenjar, yaitu kelenjar tidak dibentuk, kelenjar kecil atau posisi kelenjar yang tidak pada tempatnya.
  • Gangguan pada pembuatan hormon tiroid
  • Kekurangan iodium pada ibu hamil

 Bila kelenjar gondok ini tidak berfungsi dengan baik, maka hormon yang dihasilkan tidak akan mencukupi kebutuhan tubuh sehingga sebabkan kelenjar hipofisis di otak memproduksi lebih banyak TSH (hormon di dalam otak yang mengendalikan kelenjar gondok).

Bila kadar TSH tinggi, bisa dikatakan sebagai pertanda bayi menderita hipotiroid karena kelaianan kelenjar gondok.

Tanda dan gejala hipotiroid pada bayi

Memang, kebanyakan bayi dengan hipotiroid bawaan tampak normal dilahir, artinya tidak ada tanda spesifik yang harus dikhawatirkan. Kondosi ini juga tidak terlepas karena bayi yang menderita kelainan ini pada awalnya mungkin terlihat normal karena ia masih mendapat tiroid dari tubuh ibunya.

Namun, penting untuk diperatikan bahwa bayi dengan hipotiroid bawaan biasanya akan terlihat lesu, lebih pendiam, dan jarang menangis.

Dikutip dari Kompas.com ,dr. Erwin P. Soenggoro, SpA, anggota Kelompok Kerja Nasional Skiring Hipotiroid Kongenital, gejala-gejala hipotiroid pada bayi biasanya baru muncul setelah bayi berusia satu atau dua bulan.

“Gejalanya antara lain lidahnya besar dan menjulur keluar, banyak tidur, dan muka sembab,” katanya.

IDAI juga menjelaskan bila tidak terdeteksi dini, lambat laun mulai tampak gejala lain yang lebih jelas, seperti:

  • bayi kurang aktif
  • malas menyusui
  • mengalami kuning (ikterus) yang lama
  • tangan dan kaki kurang bergerak, lidah makin besar sehingga minum sering tersedak
  • perut bunci sering dengan pusat bodong
  • kulit kering dan burik
  • bayi mudah kedinginan
Hipotiroid pada bayi

Sumber: IDAI

Tanpa pengobatan,  gejala yang timbul tentu saja akan semakin terlihat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini pun akan mengakibatlkan terjadinya hambatan tumbuh kembang yang makin terlihat, yaitu:

  • Tubuh pendek (cebol)
  • Muka hipotiroid yang khas ( muka sembab, bibir tebal, hidung pesek)
  • Mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah)/ idiot
  • Kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara

Dampak jangka panjang bila Hipotiroid pada bayi tidak diatasi

Umumnya hipotiroid pada bayi dapat bersifat permanen (menetap) atau sementara (tarsien). Disebut tarsien bila setelah beberapa bulan atau beberapa tahun kelenjar gondok dapat memproduksi hormon sendiri hormon tiroidnya. Sedangkan hipotiroid permanen membutuhkan pengobatan seumur hidup dan penanganan yang khusus.

Dampak hipotiroid pada bayi yang paling menyedihkan adalah mental terbelakang yang tidak bisa dipulihkan. Keluarga yang memiliki anak dengan hipotiroid juga akan menghadapi beban ekonomi yang berat karena anak dengan hipotiroid perluu mendapat pengasuhan, pendidikan dan pengawasan yang khusus.

Artikel terkait: Tumbuh kembang anak bisa terganggu karena anemia, waspadai gejalanya

Seperti yang telah diberitakan DetikHealth, dr Diet S. Rustama, SpA(K), bahwa terapi HK perlu dilakukan seumur hidup. Pada bayi  biasanya akan dilakukan dengan cara memberikan pil tiroksin yang telah dicampur dengan air susu ibu (ASI) atau air putih. Obat diberikan secara rutin setiap hari untuk menjaga hormon tiroid dalam tubuh tetap normal.

Sebenarnya khasiat obat ini sama seperti hormon yang dihasilkan oleh kelenjar gondok. Meskipun terapi ini memang perlu dilakukan seumur hidup, namun obat tiroksin ini mudah didapat mudah pemberiannya, dan harga obat pun cukup terjangkau.

 

Referensi: IDAI, Kompas

 


 

Baca juga: 

Bahayakah feses bayi berwarna hijau? Ketahui faktanya!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner