TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

PMDD atau Depresi Saat Menstruasi: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Bacaan 5 menit
PMDD atau Depresi Saat Menstruasi: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Jangan sampai terjadi, cek gejalanya berikut ini!

Tahukah Bunda, menjelang menstruasi ada kondisi bernama PMDD atau premenstrual dysphoric disorder? PMDD adalah gangguan mood drastis yang terjadi pada perempuan ketika siklus menstruasi datang. 

Daftar isi

  • Apa Itu PMDD atau Premenstrual Dysphoric Disorder? 
  • Apa Bedanya PMS dengan PMDD?
  • Penyebab dan Faktor Risiko PMDD
  • Gejala & Ciri-ciri PMDD
  • Diagnosis PMDD 
  • Komplikasi PMDD
  • Pengobatan dan Cara Mengatasi PMDD

Apa Itu PMDD atau Premenstrual Dysphoric Disorder? 

Menjelang menstruasi, Bunda mungkin akan mengalami beberapa perubahan mood, nyeri badan, sakit kepala, dan gejala lain yang disebut sebagai premenstrual syndrome (PMS). Namun, dalam beberapa kasus yang parah, perempuan juga bisa mengalami PMDD alih-alih PMS.

Perempuan yang mengalami PMDD mengalami gejala jauh lebih parah dari PMS. Ia biasanya akan merasa kesepian, sedih, cemas berlebihan, emosi tidak stabil, depresi hingga munculnya keinginan bunuh diri. Maka itu, PMDD juga kerap dikenal sebagai kondisi depresi saat haid. 

Melansir Cleaveland Clinic, sebanyak 10% perempuan usia produktif mengalami PMDD. Kondisi ini pun perlu diwaspadai karena termasuk kondisi kronis serius yang perlu segera diatasi, Bun. 

Apa Bedanya PMS dengan PMDD?

Depresi saat menstruasi

Gejala PMS dan PMDD cenderung mirip sehingga sulit dibedakan. Namun, yang perlu dicatat, gejala PMDD umumnya lebih ekstrem. 

Perempuan dengan PMDD akan mengalami gangguan mood drastis dan depresi yang sering kali membuatnya kalut. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas harian sehingga diperlukan pertolongan medis. 

Sementara saat PMS, perempuan mungkin akan mengalami masalah mood seperti menjadi emosional, mudah marah, atau kerap kali merasa cemas. Namun, kondisinya bisa dikontrol dan ia masih dapat beraktivitas seperti biasa.

Perempuan yang mengalami PMDD juga biasanya punya riwayat depresi sebelumnya. Pada beberapa kasus, penderita PMDD juga dapat memiliki pikiran bunuh diri. 

Penyebab dan Faktor Risiko PMDD

Hingga saat ini, penyebab pasti dari PMDD belum diketahui secara pasti. Namun, ada kemungkinan kondisi PMDD disebabkan oleh perubahan hormon ekstrem yang berkaitan dengan siklus menstruasi. 

Mengutip WebMD, studi menemukan adanya keterkaitan antara PMDD dan kadar hormon serotonin rendah. 

Serotonin adalah zat Kimia di otak yang membantu mengirimkan sinyal saraf. Sel otak yang menggunakan hormon ini juga berperan dalam mengendalikan suasana hati, siklus tidur, dan rasa sakit. Nah, perubahan hormon dapat menyebabkan penurunan serotonin yang mungkin menyebabkan gejala PMDD. Meski begitu, penilitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hal ini. 

Selain itu, ada juga beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko PMDD pada perempuan, yakni:

  • Mengalami PMS 
  • Memiliki riwayat depresi, gangguan panik, depresi pascamelahirkan (postpartum depression), dan gangguan kesehatan mental lainnya. 
  • Adanya anggota keluarga yang punya riwayat PMS, PMDD, atau gangguan mood lainnya
  • Pernah mengalami trauma masa lalu seperti menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga atau pengalaman traumatis lainnya
  • Gaya hidup tidak sehat seperti kebiasaan merokok, kecanduan alkohol, jarang olahraga

Gejala & Ciri-ciri PMDD

PMDD adalah

Gejala awal PMDD biasanya mirip dengan PMS. Saat perempuan mengalami PMDD, kehidupan rumah tangga, pekerjaan, sekolah, dan hal sosial lain akan terpengaruh oleh perasaan kalut yang luar biasa.

Gejala PMDD dapat muncul 1-2 minggu sebelum hari pertama menstruasi. Biasanya, gejala dapat hilang 2-3 hari setelah menstruasi. Berikut ini sederet gejala dan ciri-ciri premenstrual dysphoric disorder yang perlu Bunda ketahui:

  1. Perasaan ketidakbahagiaan yang ekstrem
  2. Tidak dapat melihat masa depan yang positif
  3. Merasa tidak berharga dan tidak berguna dalam segala hal
  4. Sensitif terhadap penolakan atau kritik yang datang padanya
  5. Merasa sedih atau menangis tanpa alasan tertentu
  6. Mengalami rasa gelisah maupun perasaan mencekam
  7. Adanya rasa marah yang terjadi terus-menerus dan mudah merasa terganggu, sehingga terjadi peningkatan konflik dengan orang lain
  8. Sulit bertemu dengan orang lain, kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari seperti bekerja, sekolah, teman, atau hobi
  9. Kesulitan berkonsentrasi
  10. Merasa lelah sepanjang waktu, atau memiliki energi lebih sedikit dari biasanya
  11. Adanya perubahan nafsu makan
  12. Perubahan pola tidur, menjadi sulit tidur atau malah kelebihan tidur
  13. Memiliki perasaan terbebani atau tak bisa mengendalikan diri 
  14. Nyeri atau payudara bengkak
  15. Sakit kepala
  16. Nyeri sendi atau otot
  17. Memiliki sensasi ‘kembung‘ di perut

Diagnosis PMDD 

Bunda sebaiknya tidak menduga-duga atau self diagnosis terkait kondisi ini. Apabila merasa mengalami gejala PMDD, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. 

Biasanya, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda melalui beberapa tes. Dokter dapat mendiagnosis PMDD apabila:

  • Pasien memiliki setidaknya 5 gejala PMDD yang sudah disebutkan
  • Gejala yang dialami muncul 7-10 hari sebelum menstruasi 
  • Gejala hilang setelah menstruasi mulai atau sudah selesai

Jika gejala PMDD termasuk gangguan mood tidak menghilang ketika menstruasi dimulai, ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi medis lainnya. 

Komplikasi PMDD

Apakah PMDD berbahaya? Jawabannya, PMDD mungkin akan menjadi berbahaya apabila tidak segera ditangani dengan baik. PMDD yang dibiarkan bisa berkembang menjadi depresi, dan dalam beberapa kasus, bisa menyebabkan penderitanya bunuh diri. 

Selain itu, PMDD adalah salah satu penyakit kronis yang mungkin bisa memberikan efek negatif pada kehidupan sosial dan karier pasien. 

Apabila Anda atau orang terdekat mengalami gejala PMDD disertai pikiran bunuh diri, segera hubungi pertolongan darurat. 

Pengobatan dan Cara Mengatasi PMDD

premenstrual dysphoric disorder

Beberapa upaya bisa dilakukan untuk mengurangi gejala PMDD. Beberapa cara mengatasi PMDD adalah:

  • Antidepresan. Pastikan hanya mengonsumsi obat ini dengan resep dokter
  • Terapi hormon seperti pil KB
  • Terapkan gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin olahraga, dan cukup istirahat
  • Kelola stres dengan baik dengan melakukan meditasi, yoga, atau melakukan kegiatan yang disukai
  • Mengonsumsi suplemen vitamin seperti vitamin B6, kalsium, dan magnesium. Karena kondisi setiap orang berbeda, maka bisa dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum memutuskan mengonsumsi suplemen tertentu. 
  • Beberapa obat pereda nyeri yang dijual bebas di apotek juga dapat membantu meredakan gejala sakit kepala, nyeri payudara, atau kram yang kerap dialami 

Artikel terkait: Kenali perbedaan depresi dan stres berikut ini.

Ada baiknya keluarga terdekat juga mengetahui jika seseorang memiliki PMDD. Orang yang memiliki depresi saat menstruasi harus didampingi ketika masa puncak PMDD muncul. Pasalnya, keinginan bunuh diri sangat kuat dan kesepian akut akan membuatnya makin sulit melalui hari-harinya.

Penting untuk mencatat siklus haid agar pendampingan pada pasien PMDD bisa dilakukan. Bahkan, jika siklus haid tak teratur.

PMDD adalah kondisi serius yang perlu diperhatikan. Dukungan dari orang-orang sekitar adalah kunci agar perempuan yang mengalami depresi saat menstruasi tidak melakukan hal berbahaya yang dapat mengancam nyawa. 

Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Cerita mitra kami
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Si Kecil Mual Muntah Berulang? Tak Perlu Cemas, Dokter Spesialis Anak Selalu Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Kuningan
Si Kecil Mual Muntah Berulang? Tak Perlu Cemas, Dokter Spesialis Anak Selalu Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Kuningan
Bukan Hanya Gigitan - Biaya Tersembunyi Demam Berdarah untuk Keluarga di Indonesia
Bukan Hanya Gigitan - Biaya Tersembunyi Demam Berdarah untuk Keluarga di Indonesia
Kaum Sweet Tooth, Jangan Sampai Diabetes! Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya
Kaum Sweet Tooth, Jangan Sampai Diabetes! Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

PMDD 

www.webmd.com/women/pms/premenstrual-dysphoric-disorder

Premenstrual Dysphoric Disorder

my.clevelandclinic.org/health/articles/9132-premenstrual-dysphoric-disorder-pmdd

***

Baca Juga:

Kapan Waktu yang Normal untuk Menstruasi Kembali Setelah Melahirkan?

id.theasianparent.com/remaja-perempuan-berenang-saat-menstruasi

Seks Saat Siklus Menstruasi, Ini Resikonya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Shafa Nurnafisa

  • Halaman Depan
  • /
  • Penyakit
  • /
  • PMDD atau Depresi Saat Menstruasi: Penyebab, Gejala, Pengobatan
Bagikan:
  • Mengenal Batuk Rejan pada Anak, Gejala Hingga Cara Mengatasi

    Mengenal Batuk Rejan pada Anak, Gejala Hingga Cara Mengatasi

  • 3 Ciri Flu Singapura Sudah Sembuh yang Terlihat Jelas

    3 Ciri Flu Singapura Sudah Sembuh yang Terlihat Jelas

  • Parents Perlu Waspada, Ini 12 Ciri-Ciri Demam Berbahaya pada Bayi

    Parents Perlu Waspada, Ini 12 Ciri-Ciri Demam Berbahaya pada Bayi

  • Mengenal Batuk Rejan pada Anak, Gejala Hingga Cara Mengatasi

    Mengenal Batuk Rejan pada Anak, Gejala Hingga Cara Mengatasi

  • 3 Ciri Flu Singapura Sudah Sembuh yang Terlihat Jelas

    3 Ciri Flu Singapura Sudah Sembuh yang Terlihat Jelas

  • Parents Perlu Waspada, Ini 12 Ciri-Ciri Demam Berbahaya pada Bayi

    Parents Perlu Waspada, Ini 12 Ciri-Ciri Demam Berbahaya pada Bayi

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti