Kenali 10 Ciri Sindrom Asperger pada Anak

Sindrom Asperger pada anak belum banyak dikenal oleh masyarakat. Anak dengan Asperger Syndrome juga sering dianggap aneh oleh orang lain. Kenali tanda sindrom ini

Sindrom Asperger atau Asperger syndrome (ASG) diperkenalkan pertama kali oleh Hans Asperger pada tahun 1944. Ia menjelaskan bahwa sindrom ini berasal dari genetik ataupun dari sistem neuron, bukan berasal dari faktor lingkungan maupun permasalahan psikologis anak.

Sindrom Asperger pada anak termasuk gangguan dalam Autisme. Dibanding dengan Autisme pada umumnya, penderita Sindrom Asperger memiliki ciri gangguan mental yang tidak terlalu tampak pada perilaku.

Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki kecenderungan Sindrom Asperger, seseorang harus melalui proses screening dari dokter. Namun, ada 10 ciri sindrom Asperger pada anak yang dapat kita perhatikan.

Ciri tersebut antara lain:

1. Tidak dapat menjalin pertemanan

Sindrom Asperger pada anak ditandai dengan adanya kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal, sehingga ia cenderung tak memiliki kemampuan untuk berteman. Ia tak tahu bagaimana caranya menjalin relasi pertemanan dengan orang lain sekalipun sebenarnya ia ingin punya teman.

Beberapa anak dengan kecenderungan ini kebanyakan memutuskan untuk tak perlu menjalin pertemanan. Ia akan terlihat asik dengan dirinya sendiri.

2. Mutisme Selektif

Mutisme selektif adalah kemampuan berbicara hanya pada orang-orang yang anak percaya. Misalnya anggota keluarga.

Jika anak telah percaya pada seseorang, maka ia dapat mengatakan segala yang ia pikirkan. Kebalikannya, anak akan menolak untuk bicara sama sekali kepada orang asing atau di depan umum.

3. Tidak dapat berempati

Anak dengan ASG akan kesulitan untuk merespon orang lain. Ia tidak tahu caranya menunjukkan empati atau merespon secara "normal" tentang kabar tertentu. Sehingga ia sering tampak kasar dan tidak punya perasaan.

Mereka tidak akan mengerti hal-hal emosional seputar topik yang dibahas. Hal ini sering membuat orang lain di sekitarnya marah.

4. Menghindari kontak mata atau justru memaksa kontak mata

Kontak mata bagi penderita ASG adalah hal yang menyakitkan. Sebagian peneliti mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh ketidakpercayaan diri.

Namun, banyak juga yang meyakini bahwa ini juga jadi sebuah tanda bahwa ia tak mengerti pentingnya kontak mata pada komunikasi. Ini merupakan konsekuensi dari ketidakmampuannya dalam bersosialisasi.

Namun, jika penderita ASG mengerti bahwa menghindari kontak mata akan dianggap aneh oleh lawan bicaranya, maka ia akan melakukan hal sebaliknya agar lebih bisa diterima. Yaitu memaksakan kontak mata dengan orang lain.

Hal tersebut ia lakukan agar orang tidak menganggapnya aneh. Sekalipun, tindakannya justru membuat orang lain tidak nyaman.

5. Kekikukan sosial

Tidak semua penderita ASG bersikap pasif. Justru, banyak orang yang mengalami ASG justru sangat aktif, namun dengan berbagai sikap aneh yang muncul di publik.

Ini biasa dilakukan oleh penderita ASG yang ingin menyembunykan sindromnya. Ada keinginan untuk dapat diterima oleh orang lain. Sayangnya, keanehan ini sering disalahpahami orang-orang sehingga penderita ASG masih kesulitan untuk berteman.

5 ciri lainnya di halaman berikut..

6. Ketertarikan khusus

Anak dengan ASG memang cenderung tak memiliki nilai bagus di sekolah. Tapi bukan berarti mereka tak memiliki ketertarikan khusus terhadap sesuatu.

Misalnya mereka senang sekali menggambar, menyusun puzzle, menganalisa sesuatu, berhitung, dan hal lainnya. Jika mereka dipaksa untuk melepaskan hal yang mereka suka, maka mereka akan mengalami stres berat.

Sama halnya jika proyek yang ia kerjakan gagal. Ketertarikan mendalam pada sesuatu ini membutuhkan dukungan lingkungan sekitar. Jika potensinya dikembangkan, ia bisa menjadi seorang yang jenius di bidangnya.

7. Rutinitas tetap

Asperger sindrom pada anak membuat mereka punya rutinitas tetap. Ia akan bersikap sangat disiplin dengan jadwalnya. Mengubah rutinitasnya akan membuatnya sangat bingung dan ketakutan.

8. Tak mengerti kata kiasan

Jangan berharap ia akan mengerti arti sesungguhnya kalimat, "jantungnya mau copot" dan "berlari secepat kilat". Karena ia akan ketakutan membayangkan ada orang yang jantungnya benar-benar mau lepas dan ada orang yang berlari dengan kecepatan kilat.

Karena tidak mengerti bahasa kiasan inilah, anak dengan ASG akan sering bingung memahami pembicaraan orang lain, salah paham, atau justru menjadi bahan tertawaan orang-orang. Ia baru akan mengerti arti sesungguhnya dari kalimat kiasan tersebut jika ada penjelasannya.

9. Memiliki kemampuan menakjubkan tentang pola

Pola dalam hal ini bisa berarti ia akan mudah mengenali pola hitungan, gambar, menganalisa kebiasaan perilaku orang, dan sebagainya. Jika ia diasuh dengan benar, anak ASG seperti ini akan dapat menganalisa hal-hal yang rumit dengan mudah.

10. Kemampuan motorik yang rendah

Motorik yang rendah adalah akibat tak berfungsinya koordinasi antara mata dan tangan. Namun, ini dapat dilatih jika orangtua bisa mengidentifikasinya sejak dini. Hal ini juga yang membuat seorang dengan ASG memiliki tulisan tangan yang buruk.

Seperti anak Autis lainnya, sindrom Asperger pada anak biasanya akan dianggap sebagai ujian bagi orangtua karena memiliki anak spesial. Namun, jika terapi dan pendidikan khusus dari orang sekitar berjalan dengan baik, anak ASG akan jadi seorang jenius yang bisa diandalkan dalam banyak hal.

Banyak tokoh jenius terkenal yang memiliki sindrom asperger. Diantaranya adalah pencipta Pokemon Satoshi Tajiri, Filosof Bertrand Russell, Bill Gates, dan peraih medali Nobel John Nash.

 

Referensi : active beat

Baca juga

id-admin.theasianparent.com/kenali-gejala-autisme-pada-anak/