Awas! Marah dan sedih saat hamil bisa berdampak buruk bagi janin!

Awas! Marah dan sedih saat hamil bisa berdampak buruk bagi janin!

Perasaan kesal, sedih, marah saat hamil ternyata bisa berdampak buruk bagi bayi Anda kelak. Inilah alasan mengapa emosi ibu hamil mempengaruhi janin.

Bunda pernah mendengar bahwa emosi ibu hamil mempengaruhi janin? Perkembangan seorang anak memang dipengaruhi sejak 1000 hari pertama kehidupannya, termasuk ketika mereka masih di dalam kandungan.

Bukan hanya tentang nutrisi, tetapi juga emosi sang ibu saat hamil juga bisa memengaruhi perkembangannya kelak.

Mengapa emosi ibu hamil mempengaruhi janin?

emosi ibu hamil mempengaruhi janin

Menurut psikolog anak dan keluarga, Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., momen emas seorang anak tidak terlepas dari kondisi psikologis sang ibu, baik saat mengandung hingga setelah melahirkan.

“Sangat wajar jika ibu hamil banyak merasakan kecemasan. Nah, kecemasan ini yang harus diatasi dengan baik supaya tidak berdampak pada buah hati di kemudian hari,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunda Romy itu, dalam acara talkshow yang diadakan Pigeon beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, seorang ibu perlu mengelola perasaannya selama kehamilan, mengingat emosi ibu hamil mempengaruhi janin.

“Marahnya si ibu, rasa tidak nyaman, terlalu banyak mengeluh, merasa sedih, itu semua bisa berdampak pada sifat dan perilaku si kecil saat ia sudah tumbuh besar nanti. Makanya kalau ada pasien, saya juga tanya ke orangtuanya, sewaktu hamilnya bagaimana? Apa ada masalah? Karena dari situ kita juga bisa menilai,” lanjutnya.

Artikel terkait: Ibu hamil jangan stres, pengaruhnya bisa buruk pada anak perempuan

Penelitian tentang emosi ibu hamil mempengaruhi janin

emosi ibu hamil mempengaruhi janin

Sebuah studi dari Harvard ternyata juga sempat membahas tentang emosi ibu hamil mempengaruhi janin ini. Dalam studi disebutkan bahwa hormon stres atau kortisol sang ibu yang dihasilkan ketika ia marah saat hamil dapat diteruskan ke bayi melalui ASI.

Namun masing-masing bayi memberikan pengaruh yang berbeda, tergantung dari jenis kelaminnya.

Bayi perempuan yang diberi ASI mengandung kadar kortisol yang tinggi menunjukkan perubahan perilaku yang negatif, termasuk penakut, mudah marah, dan cepat kesal. Sedangkan pada bayi laki-laki, dampak ini tidak terlihat.

Rupanya, ‘hormon ibu’ saat hamil tersebut bisa terserap ke dalam saluran pencernaan bayi, yang kemudian mengikat diri pada reseptor stres sang anak.

Jadi bisa dikatakan, kortisol ibu saat hamil yang terserap dalam tubuh bayi berperan untuk membentuk sumbu stres saat ia dewasa kelak. Itulah alasan mengapa dikatakan emosi ibu hamil mempengaruhi janin.

Ciptakan rasa nyaman selama hamil

emosi ibu hamil mempengaruhi janin

Dalam kondisi hamil, Bunda Romy menyarankan agar seorang ibu tetap menjaga emosinya. Salah satu caranya yaitu dengan menikmati kehamilan.

“Kehamilan memang melelahkan dan banyak yang kita rasakan. Namun, kehamilan juga jangan dijadikan beban. Ibu hamil harus menikmati masa kehamilannya ini. Jadi, semua keluhan seperti rasa mual, muntah, sakit pinggang, dan ketidaknyamanan lainnya bisa terasa lebih ringan,” ungkapnya.

Anda harus menganggap kehamilan itu adalah anugerah agar selalu terasa nyaman. Maka, kenyamanan itu juga akan dirasakan bayi dan membawa dampak positif.

Ibu hamil butuh dukungan dari orang terdekat

Nyamannya seorang ibu saat hamil bisa berdampak baik bagi bayi. Namun hal ini juga harus didukung oleh orang terdekat Bunda, terutama sang suami.

“Suami juga harus ikut mendukung dengan cara membuat si ibu nyaman. Caranya bagaimana? Komunikasikanlah apa yang Bunda inginkan. Intinya buat suami berempati supaya mereka mengerti kesulitan kita, tapi bukan mencari simpati suami dengan keluhan kita. Dukungan ini bukan cuma dari suami saja, tapi juga dari anggota keluarga lainnya,” kata Bunda Romy.

Stimulasi juga penting

emosi ibu hamil mempengaruhi janin

Seperti yang kita tahu, stimulasi sangat penting untuk mengembangkan kemampuan kognitif, fisik, dan sosial emosi anak. Stimulasi saat 270 hari pertama kehidupan si kecil ketika ia masih di dalam kandungan, dapat dilakukan melalui suara maupun sentuhan atau tekanan lembut yang dilakukan ibu.  

Jadi, luangkanlah waktu setiap harinya untuk mengajak bayi di dalam kandungan berbicara, atau sekadar mengelus perut Bunda. Bukan hanya Bunda, hal ini juga perlu dilakukan oleh sang suami ya, Bun.

 

Baca juga:

Waspada! Anak bisa menerima dampak negatif dari depresi orangtua

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner