Hyp Dysplasia (Displasia Pinggul) pada Anak – Gejala Hingga Perawatannya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Posisi menggendong dan bedong yang salah menjadi salahsatu pemicu utama kondisi ini. Waspadai gejala dan simak cara menanganinya di sini.

 

Salah satu akibat yang timbul pada bayi dan balita jika ada kesalahan posisi menggendong atau bedong adalah hyp dysplasia atau displasia pinggul.

Displasia pinggul pada bayi kadang terjadi sejak bayi dilahirkan. Namun, pada beberapa kasus, kondisi ini baru berkembang pada satu tahun pertama kehidupan bayi.

Apa itu hyp dysplasia / displasia pinggul

Displasia pinggul adalah kondisi di mana pinggul tumbuh dengan tidak normal. Bisa karena tidak pasnya (dislokasi) posisi tulang, hingga ketidakstabilan soket tulang.

Posisi tulang bayi yang lebih rapuh dibanding orang dewasa ini berarti bahwa tulang bayi secara anatomis bisa lebih mudah bergeser keluar dari dari soketnya (acetabulum) dan tidak selaras (subluxated). Bahkan, keadaan displasia ini kadang membuat pinggul jadi sepenuhnya terkilir.

Anak yang memiliki sendi yang tidak normal bisanya memiliki kombinasi berupa sudut soket pinggul yang dangkal. Juga struktur tulang rapuh pada kepala femoralis yang rentan di dalam soket.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan sendi jadi sejajar dan bahkan menyelinap keluar, terutama jika sendi mengalami tekanan ke bawah. Jika posisi tergelincirnya sandi tersebut tidak segera ditangani, maka akan terjadi kombinasi dislokasi tulang.

Siapa saja yang berpotensi mengalami displasia pinggul?

Tak semua penyebab displasia panggul dapat dicari sebabnya. Bayi yang berpotensi mengalami displasia pinggul ada dalam posisi sebagai berikut:

  1. Bayi yang berada di rahim yang cukup sempit di dalam kandungan
  2. Berkurangnya cairan uterin yang dapat membuat janin bergerak bebas di dalam rahim
  3. Posisi kehamilan sungsang
  4. Kondisi lain yang mempengaruhi posisi bayi dalam rahim (misalnya yang terjadi pada bayi yang memiliki cacat kaki tetap)
  5. Bayi perempuan lebih berisiko
  6. Anak pertama
  7. Diturunkan secara genetik

Displasia pinggul yang sering terjadi adalah ketika pinggul kiri lebih panjang daripada pinggul kanan. Selain itu, adanya lipatan kulit pada paha, dan terjadinya perbedaan gerakan antara pinggul kanan dan kiri.

Bayi berkembang di dalam rahim dengan estrogen yang diproduksi ibu. Estrogen diduga mendorong relaksasi ligamen jelang waktu persalinan yang dapat membantu proses melahirkan.

Kekurangan estrogen ini berpotensi menyebabkan ligamen pinggul bayi jadi agak longgar dan meningkatnya risiko sendi yang tidak stabil.

hyp dysplasia yang disebabkan oleh bedong yang terlalu ketat

Hyp dysplasia yang disebabkan oleh bedong yang terlalu ketat. Sumber: hipdysplasia.org

Para dokter tulang anak juga menghimbau para orang tua untuk tidak mengendong bayi dalam keadaan kaki bayi memanjang ke bawah dan posisi pinggul bayi yang terlalu membuka lebar. Posisi ini menempatkan kepala femur (bola) dekat dengan acetabulum (soket), dan mendorong pendalaman soket.

Cara gendong yang disarankan agar bayi tidak mengalami hyp dysplasia (kanan)

Cara gendong yang salah (kiri) dan yang disarankan agar bayi tidak mengalami hyp dysplasia (kanan). Sumber: hypdysplasia.org

Sekalipun dokter menyatakan bahwa tidak banyak yang dapat orang tua lakukan saat terjadinya displasia pinggul bawaan, namun setidaknya orang tua bisa mencegah hal itu terjadi pada anak yang pinggulnya normal dengan cara menggendong atau membedong bayi dengan benar.

Mendeteksi adanya displasia

Lipatan paha terlihat ketika kaki bayi diluruskan adalah salahsatu gejala hyp dysplasia

Lipatan paha terlihat ketika kaki bayi diluruskan adalah salahsatu gejala hyp dysplasia. Sumber: Midwifery

Catatan dokter Rosendahl pada jurnal kedokteran anak tahun 1994 menyatakan bahwa masalah displasia pinggul bisa dideteksi pada 6 minggu pertama kehidupan bayi lewat pemeriksaan fisik.

Deteksi dini pinggul displasia dapat menggunakan pengecekan rutin dengan ultrasound. Pada kasus-kasus ringan displasia pinggul dapat diatasi dengan "popok ganda" untuk menjaga pinggul yang tertekuk.

Pada kasus yang lebih berat, tindakan yang harus dilakukan adalah operasi. Setelah operasi selesai anak akan dapat menjalani kehidupannya yang normal.

Jika tidak diobati, displasia pinggul akan jadi makin parah. Hal ini kadang sampai menyebabkan panjang kaki anak-anak tidak sama yang mengakibatkan berkurangnya kelincahan gerak anak.

Pada anak yang lebih dewasa, displasia akan dapat menimbulkan radang pinggul dini. Hal itu akan membuat mereka berjalan dengan menyeret jari kaki dan tumit pada lantai maupun berjalan dengan langkah pincang terutama jika kedua pinggul yang terpengaruh.

Perawatan

Anak dengan displasia pinggul membutuhkan perawatan dan alat khusus agar dapat menyamakan kaki dan membetulkan postur pinggul bayi. Perawatan tersebut antara lain:

1. Pavlik Harness

Pavlik Harness adalah sebuah alat yang dipasang pada bayi di bawah usia 6 bulan. Perangkat ini akan menumpu kaki bayi dengan posisi pinggul yang membungkuk sehingga lama kelamaan pinggul akan dapat memperoleh posisi normalnya.

http://www.webmd.com/children/pavlik-harness

Sumber gambar: Web MD

2. Spica cast

Spica cast adalah alat untuk menyeimbangkan posisi pinggang, kaki, dan panggul. Bahan yang digunakan alat ini adalah plastik ataupun fiber glass dan dapat digunakan dalam waktu 2-3 bulan.

Alat ini digunakan untuk bayi yang usianya lebih dari 6 bulan. Terdapat spasi pada kedua kaki agar dapat memperkuat posisi kaki anak tersebut.

http://www.webmd.com/children/spica-cast

Sumber gambar: Web MD

Perawatan lain yang menunjang antara lain adalah:

1. Kawat gigi atau splints

Dapat digunakan sebagai pengganti harness Pavlik atau Spica cor. Atau mereka dapat digunakan setelah operasi.

2. Operasi

Dalam beberapa kasus, ini mungkin diperlukan untuk memperbaiki cacat tulang paha atau pinggul. Seorang anak yang memiliki operasi mungkin akan perlu memakai Spica yang dilemparkan ke posisi sendi panggul sampai sembuh.

3. Terapi fisik

Seorang anak yang telah di cor spica mungkin perlu melakukan latihan untuk mendapatkan kembali gerakan dan membangun kekuatan otot pada kaki.

Jika anak Anda telah menjalani perawatan di atas, kemungkinan ia tak akan mengalami masalah pada pinggulnya lagi. Namun, Anda perlu mengecek perkembangannya ke dokter.

 

 

Referensi: Carry Me Away, Web MD, Infantino.

Baca juga:

Usia Berapa Bayi Boleh digendong Mengangkang atau Posisi M?

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kesehatan ibu dan anak