Kondisi bayi yang sehat menjadi perhatian utama orang tua, terutama jika dia baru saja lahir. Bayi bisa saja terlahir dengan kondisi tidak bisa melihat atau buta. Oleh karena itu, penting bagi Parents untuk mengetahui ciri-ciri bayi tidak bisa melihat.
Pada bayi baru lahir, penglihatan mereka belum sepenuhnya berkembang.
Elemen perkembangan mata memang sudah terbentuk sejak di dalam rahim, tetapi syaraf dan struktur internal mata masih akan terus berkembang sampai bayi berusia dua tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa cukup sulit untuk menentukan apakah bayi memiliki masalah penglihatan atau mengalami kebutaan di bulan-bulan pertama setelah mereka lahir.
Namun, ada beberapa tanda yang dapat menunjukkan adanya masalah pada penglihatan si kecil. Berikut ini penjelasan lengkapnya, Parents!
Artikel terkait: Kapan Mata Bayi Mulai Dapat Melihat?
Apa Saja Ciri-ciri Bayi Tidak Bisa Melihat atau Buta?
Beberapa ciri-ciri bayi tidak bisa melihat di antaranya adalah terdapat warna putih di pupil mata, air mata bayi keluar terus-menerus, mata tidak fokus, salah satu matanya lebih sering tertutup, hingga kedua matanya bergerak tidak sejajar. Berikut ini penjelasan lengkapnya:
1. Terdapat Warna Putih pada Pupil Mata

Ketika lahir, perkembangan mata pada bayi baru mencapai 75 persen. Mata bayi yang memiliki masalah penglihatan dan yang tidak, boleh jadi terlihat sama.
Ciri-ciri pada mata yang dapat Parents perhatikan jika terdapat masalah penglihatan misalnya terdapat ruang putih pada pupil.
Selain itu, pulil memiliki warna atau bentuk yang tidak sama.
2. Air Mata Keluar Terus-menerus

Air mata yang terus-menerus keluar melebihi batas wajar, bahkan ketika tidak menangis bisa menjadi ciri adanya penyakit atau infeksi pada mata bayi.
Lebih lanjut, mungkin juga terdapat cairan kuning atau kehijauan yang keluar dari mata bayi.
Infeksi yang mungkin dapat menjangkiti bayi baru lahir adalah konjungtivitis, yaitu peradangan yang terjadi pada bagian putih mata yang disebabkan oleh bakteri.
Beberapa bayi terkena konjungtivitis ketika mereka melalui jalan lahir (birth canal).
Beberapa infeksi yang tidak dapat diobati dapat menyebabkan kebutaan permanen.
3. Fokus Mata Terganggu

Pada bayi baru lahir, fokus belum berkembang dengan baik. Namun pada usia tiga bulan, bayi sudah dapat mengikuti objek yang bergerak dengan matanya.
Ketidakmampuan untuk fokus pada rangsangan visual dapat menjadi tanda adanya gangguan pada penglihatan.
Kondisi ini mungkin disebabkan oleh perkembangan struktur mata yang terlambat.
Ciri-ciri lainnya yaitu mata bayi tidak menghadap ke depan ketika Parents berbicara dengannya, serta kedua bola matanya tidak bergerak bersama ke arah yang sama.
Pada beberapa kasus, kurangnya fokus dapat mengindikasikan penyakit mata dan potensi kehilangan penglihatan.
4. Satu Mata Terkulai

Mata malas atau amblyopia adalah kondisi ketika rangsang yang seharusnya diterima oleh otak dari mata mengalami masalah, akibatnya otak tidak menerima rangsangan tersebut.
Gejala awal mata malas pada bayi adalah satu kelopak matanya terkulai atau satu matanya lebih sering tertutup dari yang lain.
Tanda lainnya yaitu, terkadang sebelah matanya menjadi juling untuk waktu yang lama.
Jika dibiarkan dan tidak diobati, kondisi mata malas pada bayi akan bertambah parah dan dapat menyebabkan kebutaan.
5. Mata Bergerak Tidak Sejajar

Strabismus atau mata juling adalah kondisi ketika kedua mata bergerak tidak sejajar atau salah satunya bergerak ke arah yang berbeda dari mata satunya.
Mata juling pada bayi bisa sudah ada sejak lahir maupun dapat timbul setelahnya.
Kondisi ini biasanya disebabkan oleh masalah pada otot yang menggerakkan mata, dan dapat diturunkan dalam keluarga.
Pada anak yang lebih tua, mereka biasanya akan mengeluhkan penglihatan ganda (melihat dua objek yang sebenarnya hanya satu) atau mengalami kesulitan melihat sesuatu secara umum.
Pada bayi, tanda yang dapat terlihat biasanya adalah banyak menyipitkan mata dan menoleh atau memiringkan kepala mereka upaya untuk melihat lebih jelas.
Apa Saja Tanda Awal yang Menunjukan Gangguan Penglihatan pada Anak?
Tanda awal gangguan penglihatan pada anak meliputi tidak merespons cahaya atau gerakan pada usia 0-3 bulan, mata tidak mengikuti objek bergerak, tidak ada kontak mata saat menyusui, pupil tampak putih atau keruh, dan mata bergerak cepat dari sisi ke sisi.
Pada usia 3-6 bulan, perhatikan jika anak tidak dapat fokus pada wajah orang tua, tidak tertarik pada objek berwarna cerah, sering menggosok mata berlebihan, atau mata juling menetap setelah usia 4 bulan.
Deteksi dini sangat penting untuk penanganan optimal.
Mata bayi bisa melihat usia berapa?
Mata bayi bisa melihat mulai usia 0 hari atau sejak lahir, tetapi dengan kemampuan terbatas. Bayi baru lahir dapat melihat objek pada jarak 20-25 cm dengan ketajaman visual sekitar 20/400.
Mereka dapat mendeteksi cahaya, bayangan, dan kontras hitam-putih.
Kemudian, kemampuan fokus berkembang di usia 1-2 bulan, penglihatan warna muncul usia 2-4 bulan, dan persepsi kedalaman berkembang usia 4-6 bulan.
Ketajaman visual mencapai 20/20 sekitar usia 3-5 tahun setelah perkembangan sistem visual yang berlangsung hingga usia 7-8 tahun.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Ketika menemukan tanda-tanda kelainan pada penglihatan si kecil, pastinya Parents akan menjadi sangat cemas. Tindakan terbaik yang dapat dilakukan adalah segera periksakan kondisi si kecil ke dokter spesialis mata.
Selain bertujuan untuk penanganan yang tepat, membawa anak ke dokter mata juga bertujuan untuk mendeteksi masalah dan perkembangan penglihatan si kecil.
Menurut American Optometric Association (AOA), pemeriksaan mata pada bayi dapat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah kebutaan.
Usia yang direkomendasikan oleh AOA adalah ketika baru lahir dan saat bayi berusia 6 bulan.
Parents, itu dia ciri-ciri bayi tidak bisa melihat. Jika menemukan salah satu gejala di atas pada si kecil, segera periksakan ke dokter, ya.
***
Baca juga:
6 Kelainan Kelopak Mata, Ketahui Gejala dan Cara Pengobatannya
Amankah pakai obat tetes mata saat hamil? Ini penjelasannya!
25 Cara Alami Singkirkan Mata Panda, Mau Coba?
Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.