Kapan suplemen zat besi boleh diberikan pada bayi? Ini penjelasan ahli

Kapan suplemen zat besi boleh diberikan pada bayi? Ini penjelasan ahli

Untuk mengatasi anemia pada bayi, pemberian suplemen zat besi memang diperlukan. Namun, tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus sesuai anjuran dokter.

Pemenuhan zat besi untuk bayi merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan oleh Parents. Sebab, dampak kekurangan zat besi sangat fatal, salah satunya akan mengganggu tumbuh kembang yang optimal.

Untuk bayi baru lahir, asupan zat besi mereka bisa didapatkan dari ASI. Sementara, saat usia bayi sudah 6 bulan, kebutuhan zat besi untuk bayi bisa diperoleh dari MPASI yang difortifikasi zat besi.

Sayangnya, hingga saat ini masih banyak bayi yang mengalami kekurangan zat besi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 1 dari 3 balita Indonesia mengalami anemia yang disebabkan oleh kurangnya asupan nutrien zat besi.

Apabila buah hati Parents termasuk yang mengalami kekurangan zat besi, lantas cara apakah yang sebaiknya dilakukan? Apakah si kecil boleh diberikan suplemen zat besi?

Artikel terkait : Apakah kelebihan asupan zat besi bisa berbahaya? Ini penjelasannya

zat besi untuk bayi

Bolehkah bayi diberikan suplemen zat besi?

Menurut Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, Msc., suplemen zat besi memang dapat diberikan pada bayi sejak usianya 3 bulan. Namun, pemberian suplemen zat besi tidak boleh sembarangan, serta saat kondisi si kecil benar-benar sudah mengalami anemia.

“Apabila anak mengalami kekurangan zat besi, cara pertama yang paling baik untuk mengatasinya yaitu dengan makanan, berikan makanan yang diperkaya dengan zat besi. Kalau itu sudah bisa diatasi, tidak perlu suplemen zat besi lagi,” ujarnya saat ditemui di acara peluncuran Nestle Cerelac Risenutri.

“Akan tetapi, kalau bayi sudah mengalami anemia, itu sudah harus diberi suplementasi, biasanya pada saat bayi berusia 3 bulan, karena mereka belum mendapat MPASI. Kalau sudah 6 bulan, kita khawatir bayi kurang zat besi, pertama yang dipilih adalah makanan dari MPASI,” imbuh Saptawati.

zat besi untuk bayi

Saptawati melanjutkan, jika pemberian suplemen zat besi hanya bisa dilakukan sesuai anjuran dokter. Pasalnya, suplemen zat besi juga memiliki dosis, sehingga harus dokter yang memberikannya.

Selain itu, sebelumnya si kecil juga harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Tujuannya untuk mengetahui apakah ia benar-benar membutuhkan suplemen zat besi atau tidak.

“Jadi kita harus benar-benar tahu, diperiksa darahnya, apakah hemoglobinnya rendah, zat besinya rendah, kemudian harus ke dokter untuk dilihat apakah cukup dengan makanan ataukah sudah harus dengan suplemen. Tapi, kalau sudah anemia, itu harus suplemen, ga bisa dengan makanan,” jelas Saptawati selaku Profesor Gizi Medik.

“Kalau masih defisiensi zat besi atau masih kekurangan zat besi, bisa dengan makanan untuk mencegah anemia. Tapi, kalau sudah anemia, terpaksa harus pakai suplemen,” lanjutnya menjelaskan.

Adakah efek samping pemberian suplemen zat besi untuk bayi?

zat besi untuk bayi

Belum ada penelitian terkait efek samping suplemen zat besi bagi bayi. Namun, sama halnya dengan kekurangan zat besi, kondisi kelebihan zat besi juga dapat membahayakan bayi.

“Kalau kebanyakan zat besinya maka dikhawatirkan akan menganggu selaput lendir di usus. Akibatnya bisa erosi, sehingga akan menyebabkan bakteri-bakteri di usus itu berubah, anak mengalami dysbiosis yang membuat anak akan diare dan susah buang air besar,” kata Saptawati pada Kamis, 31 Oktober 2019.

Demikian informasi tentang pemberian suplemen zat besi untuk bayi yang patut Parents ketahui, terlebih saat si kecil mengalami anemia. Semoga informasinya bermanfaat.

Kapan suplemen zat besi boleh diberikan pada bayi? Ini penjelasan ahli

Baca juga :

Suplemen zat besi untuk anak, apakah perlu? Ini penjelasan pakar gizi

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner