Darah rendah pada ibu hamil jangan disepelekan, waspadai gejala dan risikonya!

Darah rendah pada ibu hamil jangan disepelekan, waspadai gejala dan risikonya!

Darah rendah mungkin sering dianggap sepele. Namun ternyata ibu hamil sangat rentan mengalaminya, terutama saat trimester pertama.

Darah rendah? Kalau mendengar kata ini mungkin agak sepele, ya? Tetapi, bagaimana jika terjadi darah rendah pada ibu hamil? Apakah akan membahayakan kehamilan?

Pikiran itu juga-lah sempat terbesit dalam benak saya, saat beberapa waktu lalu saya mengalami hal serupa.

Saat itu, kehamilan saya masih muda sekali, menginjak sekitar 7 minggu. Karena ini adalah  kehamilan pertama yang berhasil saya alami pasca hamil ektopik tahun lalu, jujur saya memang jadi berhati-hati dan bisa dibilang sangat ‘parno-an’. Ada keluhan sedikit yang dirasakan, langsung curiga dan berpikir macam-macam.

Suatu malam, saya merasa sangat mengantuk dan kepala berat sekali. Dan saya pun memutuskan untuk tidur dengan harapan keluhan itu akan hilang besok pagi.

Keesokan paginya, saya membuka mata dengan kepala yang masih berat sekali. Saya coba bangkit perlahan. Tapi antara rasa kantuk hebat dan pusing masih bercampur jadi satu. “Kenapa ya, ini? Apa mau pingsan?” batin saya.

Cepat-cepat saya langsung teringat kejadian tahun lalu saat saya pingsan ketika hamil ektopik. Saya pun minta suami untuk mengukur tensi saya dengan alat tensi rumahan saat itu juga.

Hasilnya, tensi saya tergolong lebih rendah dari biasanya, yaitu 90/60mmHg. Meski bagi beberapa orang mungkin ukuran tersebut mungkin terbilang normal, tapi saya merasakan sensasi pusing dan kurang nyaman, dimana normalnya tensi darah saya biasanya tak jauh berkisar 110/80mmHg. Jantung pun ikut berdebar saat itu.

Khawatir dampak darah rendah pada ibu hamil, saya pun memutuskan ke UGD.

Saat mendapat penanganan di UGD, saya diberi penjelasan oleh dokter yang menangani, bahwa ibu hamil ternyata memang kerap mengalami tekanan darah yang rendah. Mengingat, kebutuhan pasokan darah akan meningkat karena janin juga harus dialiri darah.

Selain itu, keluhan mual parah dan susah makan yang saya alami saat itu juga disebut ikut memengaruhi menurunnya kondisi saya. Gula darah saya pun terbilang sangat rendah saat dicek laboratorium. Dokter yang bertugas di UGD pun memutuskan untuk memberi sebotol infusan dan menyuruh saya makan untuk mengejar kekurangan asupan.

Darah rendah pada ibu hamil kerap terjadi

Belakangan, saya baru paham memang tensi darah rendah pada ibu hamil akan sangat rentan terjadi. Itulah mengapa zat besi juga merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan ibu hamil untuk mendukung pertumbuhan janinnya.

Menurut dr. Yusfa Rasyid, SpOG, gejolak hemodinamik atau tekanan darah yang tidak stabil nyatanya memang sering terjadi pada saat kehamilan, jadi tensi ibu hamil memang tidak stabil.

Namun menurutnya, kondisi ini tidak akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin, selama si calon ibu bisa mengatasi atau mengendalikan tekanan darahnya, dengan selalu menjaga asupan sehatnya.

“Jarang sekali kasus seseorang yang didiagnosis hipotensi atau tekanan darah rendah, yang bisa berpengaruh terhadap janin. Jadi, hipotensi sebenarnya jarang menjadi masalah dalam kehamilan, kecuali sang ibu muntah-muntah berat dan asupan nutrisinya jelek, baru bisa berpengaruh pada tumbuh kembang janin, karena kecukupan keragaman makanan untuk pertumbuhannya jadi terganggu,” jelas dr. Yusfa melalui pesan singkat.

Meskipun risikonya terbilang kecil, dr. Yusfa tetap mengingatkan untuk tidak menyepelekan gejala-gejala yang bisa saja membahayakan Bunda dan janinnya.

Ada beberapa gejala tekanan darah rendah pada ibu hamil yang harus diwaspadai, seperti rasa pusing hebat, hingga pingsan. Tekanan darah systolic di bawah 90 dan diastolic di bawah 60 juga perlu diwaspadai. Sebaiknya, segera dikonsultasikan ke dokter kandungan Anda.

Ia juga menambahkan, tekanan darah rendah memang kerap rentan terjadi pada 4 bulan pertama, karena muntah yang berlebihan atau asupan nutrisi yang kurang baik. “Namun, kondisi ini seharusnya akan membaik dengan semakin tuanya usia kehamilan, sampai melewati 4 bulan pertama,”.

Penyebab tekanan darah rendah pada ibu hamil muda

Selain kebutuhan pasokan darah yang meningkat, kondisi ini bisa dibilang adalah salah satu gejolak hormonal. “Tuhan bikin 4 bulan pertama mual muntah karena gejolak hormonal, agar sang ibu tidak banyak naik berat badan, karena kenaikan berat badan yang berlebihan 4 bulan pertama bisa meningkatkan risiko banyak komplikasi pada kehamilan,” tambah dr. Yusfa. 

Atasi tekanan darah rendah saat hamil

Anda bisa mengendalikan datau mengelola tekanan darah Anda saat hamil muda dengan beberapa cara berikut:

  • Makan teratur, dengan keragaman makanan yang bernutrisi.
  • Cukupi protein, mineral, dan vitamin penting dari makanan.
  • Paparan sinar matahari pagi di waktu yang direkomendasikan.
  • Hindari beberapa gerakan tiba-tiba terutama ketika berdiri dari posisi duduk, atau dari posisi tidur.
  • Hindari berdiri untuk jangka waktu yang sangat lama.
  • Hindari minuman berkafein.
  • Konsumsi makanan dalam porsi kecil sedikit demi sedikit, tetapi sering.
  • Penuhi asupan air mineral sehari-hari yang direkomendasikan untuk ibu hamil.
Artikel terkait: Ini risiko bayi lahir dari ibu golongan darah O, Bumil wajib tahu!

Nah, itu dia pentingnya memerhatikan kesehatan tekanan darah saat hamil, Bun! Jika Anda punya alat ukur tensi rumahan, Anda juga bisa lakukan pengecekan dengan rutin ya.

 

Baca juga:

16 Hal aneh yang dialami selama kehamilan, nomor 3 paling bikin malu!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner