Infeksi ini sebabkan bayi lahir mati atau stillbirth, Bumil wajib waspada!

Infeksi ini sebabkan bayi lahir mati atau stillbirth, Bumil wajib waspada!

Waspadai berbagai gejala dan dampaknya berikut ini.

Pernah mendengar penyakit sifilis atau raja singa? Selama ini Parents mungkin sudah mengetahui kalau penyakit ini merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang cukup menbahayakan bagi kesehatan.Terutama jika dialami oleh perempuan yang sedang mengandung. Sebabnya, bisa membahayakan diri sendiri maupun membuat janin terinfeksi. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut sebagai sifilis kongenital.

Sifilis kongenital bisa diartikan sebagai suatu infeksi serius yang dapat berdampak kecacatan seumur hidup dan mematikan pada bayi baru lahir. Pada saat ibu hamil yang terinfeksi bakteri treponema pallidum ternyata bisa menularkannya pada janin melalui plasenta.

Itulah sebabnya mengapa penyakit ini tidak bisa disepelekan dan harus ditangani dengan cepat. Pada janin, kondisi ini bisa berakibat pada kondisi janin yang tidak tumbuh secara normal karena adanya gangguan pada organ hingga kelahiran mati atau stillbirth.

Badan kesehatan dunia (WHO) juga menyatakan kalau sifilis dalam kehamilan merupakan penyebab kedua terbanyak yang menyebabkan stillbirth, prematuritas, berat lahir rendah kematian neonatal, dan infeksi pada bayi baru lahir.

Ibu hamil bisa terinfeski sejak trimester awal

Sifilis Kongenital

Dalam acara Seminar Media : Sifilis, Silent Disease, Si Perusak Organ yang dilangsungkan, Rabu (12/02) di Jakarta, Dr. dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid, Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menegasakan bahwa ibu hamil yang terinfeksi sifilis tentunya bisa menginfeksi janin dalam kandungan. Kondisi ini bahkan sudah bisa terjadi sejak kehamilan minggu ke-12.

Menurutnya, kondisi ini terjadi lantaran pada saat ini organ plasenta sudah terbentuk sehingga bakteri bisa masuk dan menginfeksi janin. Kondisi ini disebut juga dengan infeksi trans plasenta. Padahal di sejak awal kehamilan, organ-organ janin mulai terbentuk. Jika ibu hamil mengalami infeksi ini dan menularkan pada janin tentu saja akan memengaruhi tumbuh kembangnya.

Artikel Terkait : Waspadai infeksi menular seksual saat hamil bisa membahayakan janin, catat gejalanya!

Dampak Sifilis Kongenital

Pada kesempatan yang sama, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, CEO Klinik Pramudia mengungkapkan bahwa bayi bisa mengalami beragam masalah.

“Biasanya ibu hamil yang terinfeksi sifilis bisa mengalami keguguran, kalaupun berlanjut biasanya bayi akan lahir secara prematur bahkan still birth atau bayi lahir mati. Namun, bila bayinya bisa bertahan ia bisa memiliki masalah kesehatan jangka panjang,” tuturnya.

dr. Anthony pun menjelaskan ada beberapa organ tubuh janin yang bisa terinfeksi sifilis antara lain :

  • Plasenta
  • Sistem saraf pusat
  • Paru-paru
  • Hepar
  • Sistem pencernaan
  • Pankreas
  • Ginjal
  • Tulang

Sifilis Kongenital

Secara spesifik, beberapa gangguan yang umumnya terlihat saat bayi lahir antara lain :

  • Kelahiran mati
  • Ensefalitis
  • Disfungsi hepar
  • Kegagalan Multi organ
  • Rhinitis
  • Lesi kulit generalisata

Sedangkan, jika janin selamat, ada beberapa tanda yang bisa dilihat jika bayi mengalami sifilis kongenital. Di antaranya adalah :

  • Malformasi pada gigi akan nampak pada saat si kecil tumbuh gigi
  • Tuli neurosensorik
  • Gangguan neuropsikologis atau gangguan kejiwaan
  • Osteitis tulang panjang

Gejala-gejala Sifilis

Sifilis sering kali disebut sebagai silent killer. Alasannya tidak terlepas karena gejala infeksi menular ini kerap tak disadari.

Bahkan menurut dr. Anthony, cukup jarang pasien yang bisa terdeteksi di tahap awal. Oleh karena itu, kita sebaiknya memang tidak abai akan beberapa hal yang dianggap tidak berbahaya namun ternyata termasuk gejala sifilis.

Beberapa gejala yang dimaksud adalah:

  • Luka di area kelamin, sekali pun tidak nyeri.
  • Luka lain di area anus baik tunggal maupun banyak.
  • Terdapat ruam merah di kulit maupun selaput lendir.
  • Pembengkakkan kelenjar getah bening.
  • Terdapat lesi di telapak tangan maupun telapak kaki.
  • Terdapat ruam mirip eksim maupun psoriasis.

Bagaimana dengan sifilis yang dialami oleh ibu hamil?

Pada ibu hamil, ada gejala yang jauh lebih khas. Salah satunya adalah terjadinya keguguran. Ketika terinfeski bakteri, janin memang akan lebih sulit bertahan.

Oleh karen itu, penting bagi ibu hamil untuk selalu memeriksakan kondisi kehamilannya secara berkala. Khususnya saat mengalami keguguran. Penting untuk mengetahui apa saja penyebab keguguran yang dialami dan seberapa besar peristiwa tersebut akan terulang.

Mengetahui kondisi ini lalu mengobatinya lebih dini tentu bisa mencegah ibu semakin lama terjangkit. Selain itu, kesehatan dan keselamatan janin pun akan lebih terjaga.

Artikel Terkait : Setia pada pasangan, efektifkah mencegah penyakit menular seksual?

Banyak kasus terdiagnosis tak sengaja

Sifilis Kongenital

Karena memang gejalanya pun mirip penyakit kulit lain seperti eksim dan psoriasis, banyak orang yang akhirnya abai dan tidak terlalu mengkhawatirkannya. Terlebih, menurut dr. Anthony luka yang menjadi pintu masuk awal bakteri pada area genital maupun anus, seringkali tidak terasa sakit.

Lesi yang berkembang dari adanya bakteri pun, umumnya tidak menyebabkan adanya rasa sakit. Pasien pun cenderung mengabaikannya.

“Banyak kasus pasien yang malah terdiagnosis secara tidak sengaja. Ya misalnya saja ketika dia mau donor darah, pemeriksaan kesehatan untuk kerja atau kuliah di luar negeri, atau saat pemeriksaan pra nikah,” tutur dr. Wresti lagi.

Pentingnya pemeriksaan kesehatan pada ibu hamil

Untuk mencegah sifilis kongenital terjadi, dr. Anthony mengingatkan agar ibu hamil melakukan pemeriksaan yang mendetail, termasuk pemeriksaan untuk mengetahui adanya Infeksi Menular Seksual.

“Saat ini pun sudah ada program untuk skrining HIV, Sifilis, dan Hepatitis untuk ibu hami, sebaiknya memang diikuti dengan baik,” tuturnya.

Selain itu, setiap pasien, termasuk ibu hamil hendaknya tidak malu untuk memeriksakan kesehatan area genitalnya. Bila mengalami lesi walaupun tak terasa nyeri, sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan.

Kondisi ini akan lebih berisiko pada seseorang yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual, melakukan aktivitas seksual yang berisiko, maupun seseorang yang mengalami infeksi menular seksual.

Bila mengalami berbagai gejala di atas jangan ragu untuk memeriksakan kondisinya, ya.

Baca Juga :

Penyakit menular seksual mengancam, ini langkah pencegahannya!

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner