TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Ramadan MomTAP
  • Event
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Ramadan MomTAPRamadan MomTAP
  • EventEvent
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Mengenal Inferiority Complex Beserta Kiat-kiat Mengatasinya

Bacaan 6 menit
Mengenal Inferiority Complex Beserta Kiat-kiat Mengatasinya

Inferiority complex merupakan perasaan rendah diri yang dimiliki seseorang secara terus-menerus. Berikut ini cara mengatasinya.

Mungkin Parents sering mendengar istilah inferiority complex atau sindrom rendah diri. Namun, banyak orang yang tidak mengerti mengenai kondisi tersebut. Dilansir dari Very Well Mind, kondisi ini mencakup perasaan tidak mampu atau rendah diri karena berbagai faktor yang dimilikinya, seperti cacat fisik, kurang cerdas, dan lain sebagainya.

Namun, di kasus lain, inferiority complex muncul sebagai persepsi akan kekurangan yang dipercayai atau muncul dalam benak seseorang. Sindrom rendah diri ini dapat berbentuk bermacam-macam, bisa jadi rasa iri yang muncul karena kolega yang mendapat promosi atau munculnya perasaan sedih setelah seseorang gagal melakukan sesuatu.

Untuk kasus demikian, biasanya termasuk dalam reaksi yang cukup wajar. Namun, terkadang reaksi lain pun mungkin bisa timbul. Misalnya, seseorang akanberusaha menarik diri dari kehidupan sosialnya. Selain itu, mungkin ia memiliki jiwa kompetitif yang luar biasa terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan tak jarang yang bertindak agresif terhadap orang lain.

Artikel terkait: Jangan Abai! Ini Gejala Awal Gangguan Mental pada Remaja yang Perlu Diketahui

Dari segi sejarah, menurut Everyday Health, istilah inferiority complex awalnya digunakan oleh Alfred Adler pada tahun 1907. Saat itu, ia mencoba untuk menjelaskan mengapa begitu banyak orang tampaknya tidak memiliki motivasi untuk bertindak demi kepentingan terbaik mereka sendiri dan mengejar tujuan hidup mereka.

Pada artikel kali ini, kami akan membahas seluk-beluk sindrom rendah diri tersebut, mulai dari tanda-tanda seseorang yang mengalaminya, penyebab, dan cara mengatasinya. Simak penjelasan lebih lanjut berikut.

Tanda-Tanda Inferiority Complex

inferiority complex

Martin E. Ford, seorang profesor dari Universitas George Mason di Fairfax, Virginia, Amerika Serikat mengatakan bahwa pada dasarnya, perasaan rendah diri merupakan perasaan dasar manusia. Namun, ia menekankan yang terpenting adalah bagaimana cara seseorang merespons perasaan rendah diri tersebut. Seseorang dikatakan mengalami sindrom rendah diri jika memiliki beberapa tanda berikut.

  • Kecenderungan untuk menganalisis pujian dan kritik secara berlebihan
  • Terus-menerus mencari validasi dan pujian dari orang lain
  • Menarik diri dari keluarga, teman, dan kolega, terutama dalam situasi sosial
  • Mencoba membuat orang lain merasa tidak aman untuk menebus perasaan tidak mampu yang dirasakannya
  • Penolakan untuk berpartisipasi dalam acara kompetitif karena takut dibandingkan dengan orang lain

Di samping itu, Psychology Today juga mencatat beberapa tanda lain yang mungkin hadir, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Merasa bertanggung jawab atas kekurangan dan kegagalan orang lain
  • Suka mencari perhatian dan validasi dengan berpura-pura sakit, depresi, atau dengan terus-menerus membawa percakapan mengenai mereka
  • Bersikaplah sangat sensitif terhadap pujian dan kritik
  • Memiliki kecenderungan perfeksionisme dan neurotisisme, yakni kecenderungan terhadap kecemasan, depresi, dan perasaan negatif lainnya

Artikel terkait: Jangan Diabaikan, Ini Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental sejak Dini

Penyebab Seseorang Alami Sindrom Rendah Diri

inferiority complex

Jika seseorang memiliki beberapa tanda di atas, kemungkinan besar ia mengalami sindrom tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa hal ini masih merupakan dugaan awal. Praktisi kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater yang memiliki wewenang untuk mendiagnosis seseorang. Kondisi ini pun kemungkinan besar disebabkan oleh berbagai faktor berikut.

1. Pengalaman masa kecil

Jika seseorang memiliki kondisi ini ketika ia sudah menginjak dewasa, kemungkinan hal ini merupakan akibat dari berbagai pengalaman traumatis di masa kecil yang dialaminya.

Seperti diketahui, anak-anak pada dasarnya tumbuh dengan dikelilingi oleh orang dewasa, terutama mereka yang cenderung memenuhi setiap kebutuhan mereka, mungkin tumbuh dengan perasaan lemah dan tidak mampu merawat diri sendiri tanpa pengawasan orang di sekelilingnya. Hal ini ternyata dapat membuat anak merasa tidak berdaya.

Sebaliknya, anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang abusif dan beberapa kali melihat berbagai bentuk kekerasan, baik verbal, psikis, maupun fisik, mereka biasanya akan mempertanyakan nilai diri mereka. Mereka akan menjadi pribadi yang penakut dan lebih banyak meyakini nilai dari orang lain.

2. Bentuk fisik

Bentuk fisik merupakan faktor lain yang bisa menjadi penyebab seseorang mengalami inferiority complex. Pada dasarnya, banyak orang yang memang tidak pernah puas dengan penampilan dan bentuk fisik seseorang. Mereka merasa penampilan dan bentuk fisik yang dimiliki menjadi sumber kekhawatiran yang terus-menerus muncul.

Hal inilah yang menyebabkan seseorang mengalami rendah diri secara ekstrem. Selain bentuk fisik, gangguan bicara juga sering kali menyebabkan seseorang merasa khawatir dan tidak berdaya. Hal inilah yang menjadikan mereka merasa minder.

Artikel terkait: Waspada, Kesehatan Mental Dapat Pengaruhi Kesehatan Reproduksi

3. Kondisi Sosial dan Ekonomi

Kondisi sosial ekonomi seseorang juga menjadi faktor selanjutnya. Seseorang yang berada dalam sebuah strata ekonomi atau sosial tertentu biasanya cenderung mengalami sindrom rendah diri. Sebagai contoh kasus, seseorang yang merasa tidak berhasil secara finansial biasanya akan merasa rendah harga dirinya.

Selain itu, sindrom rendah diri juga dapat bermanifestasi di masa dewasa karena keadaan tertentu, seperti ketidakmampuan untuk menemukan pekerjaan, kemunduran sosial seperti kesulitan menemukan pasangan, atau rasa malu di depan umum yang mengarah pada perasaan tidak cukup.

Cara Mengatasi

inferiority complex

Menjalani hidup dengan keyakinan bahwa orang lain lebih baik atau diri sendiri merasa tidak pantas karena beberapa kekurangan memang sesuatu yang cukup berat. Namun, perlu diingat bahwa pada dasarnya, setiap individu memiliki keunikan sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Memiliki dan meresapi gagasan ini memang tidak mudah bagi sebagian orang. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi inferiority complex. Berikut ini penjelasan lengkapnya.

1. Konsultasi dengan praktisi kesehatan mental

Orang yang pertama kali perlu didatangi ketika seseorang mencurigai dirinya mengalami sindrom rendah diri adalah praktisi kesehatan mental. Mungkin awalnya terasa berat untuk bercerita yang dialami terhadap orang asing. Namun, tenang saja, praktisi kesehatan seperti psikolog atau psikiater akan memberikan panduan yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Biasanya, mereka akan melakukan terapi perilaku kognitif. Mereka akan mengidentifikasi pikiran dan gagasan negatif tentang nilai diri seseorang. Kemudian, mereka berusaha untuk mencoba mengubah dengan pandangan yang lebih positif. Selain itu, mereka juga akan memberikan beberapa panduan agar seseorang bisa mengatasi pikiran dan gagasan negatif tentang diri.

2. Buat Jurnal

Selain terapi kognitif, cara lain untuk mengatasi sindrom rendah diri adalah membuat jurnal atau journaling. Cara ini dilakukan dengan menuliskan segala perasaan yang sebenarnya tentang diri seseorang secara jujur. Selain itu, juga bisa ditulis beberapa pemicu yang menyebabkan seseorang merasa rendah diri.

Dengan cara ini, seseorang dapat melihat progres tentang kemajuan diri sendiri dan bisa menghargai diri sendiri secara lebih baik. Di samping itu, cara ini juga dapat membantu mengidentifikasi faktor penyebab pikiran negatif tentang diri sendiri sehingga dapat membantu menginternalisasi lebih banyak gagasan positif tentang diri sendiri.

Artikel terkait: Anak rentan alami gangguan kesehatan mental, orangtua jadi salah satu pemicunya

3. Melakukan Afirmasi Positif

Melakukan afirmasi positif dengan mengatakan pada diri sendiri betapa berharga, cantik, dan berbakat diri sendiri dapat memberikan perspektif baru mengenai cara diri memandang diri sendiri. Selain itu, cara ini juga dapat memperkuat keyakinan dan kemampuan seseorang.

Cerita mitra kami
Mama's Choice Luncurkan Stretch Mark Serum dengan Formula Inovatif
Mama's Choice Luncurkan Stretch Mark Serum dengan Formula Inovatif
Jarang Disadari, Inilah 'Skincare' Paling Penting untuk Menghidrasi Kulit Sepanjang Hari
Jarang Disadari, Inilah 'Skincare' Paling Penting untuk Menghidrasi Kulit Sepanjang Hari
Pentingnya Meningkatkan IQ Sekaligus EQ Anak Sejak Dini
Pentingnya Meningkatkan IQ Sekaligus EQ Anak Sejak Dini
Inilah 3 Alasan Mengapa Bedak Cair Aman untuk Bayi
Inilah 3 Alasan Mengapa Bedak Cair Aman untuk Bayi

4. Pengobatan Medis

Ketika seseorang memiliki harga diri yang rendah bersama dengan kondisi psikologis tertentu, seperti kecemasan atau depresi yang parah, pengobatan medis mungkin diperlukan. Menurut Anxiety and Depression Association of American, ia mungkin akan diberikan antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan serotonin-norepinefrin reuptake inhibitor (SNRI).

Demikian penjelasan lengkap mengenai inferiority complex atau sindrom rendah diri. Jika Parents atau orang di sekitar mengalami beberapa tanda di atas, jangan buru-buru melakukan self-diagnosized. Lebih baik, Parents berkonsultasi terlebih dahulu kepada par apraktisi kesehatan mental yang lebih kompeten.

Baca juga:

Agar kesehatan mental tetap terjaga, tanamkan 5 kebiasaan sederhana ini dalam keluarga

Penuh Perjuangan, Ini Cerita 7 Artis yang Mengalami Gangguan Mental

Menjaga Kesehatan Mental Ibu Hamil, Si Ayah Punya Peran Penting!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Galih Pangestu Jati

Diedit oleh:

Shafa Nurnafisa

  • Halaman Depan
  • /
  • TAPpedia
  • /
  • Mengenal Inferiority Complex Beserta Kiat-kiat Mengatasinya
Bagikan:
  • 5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

    5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

  • Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

    Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

  • Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

    Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

  • 5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

    5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

  • Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

    Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

  • Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

    Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti