Apakah Anda Mendidik Anak Menjadi Calon Koruptor?

Tak ada orangtua yang ingin anaknya menjadi koruptor. Sayangnya seringkali tanpa kita sadari, kita telah menanamkan bibit-bibit jiwa koruptor pada anak.

Tanpa disadari kita seringkali mendidik anak menjadi calon koruptor

Tanpa disadari kita seringkali mendidik anak menjadi calon koruptor

Tak ada satupun orangtua yang menginginkan anaknya kelak menjadi seorang koruptor. Namun sayang dalam praktek keseharian, seringkali tanpa kita sadari, kita telah menanamkan bibit-bibit jiwa koruptor pada anak. Kita telah mendidik calon-calon koruptor masa depan.

Bagaimana cara kita mendidik calon koruptor?

Berikut hal-hal yang seringkali kita lakukan, baik disadari atau tidak, akan membuat anak kehilangan kepercayaan pada sikap-sikap moral dan berproses menjadi seorang koruptor.

1. Berbohong

Tanpa kita sadari kebohongan-kebohongan kecil yang kita anggap lumrah dan tak bermasalah, akan membuat anak terbiasa dengan ketidakjujuran. Misalnya, “Aduh, Ibu tidak punya uang.” Padahal uang di dompet masih banyak. Dan anak mengetahuinya dengan pasti bahwa ibunya telah berbohong.

Kebohongan demi kebohongan yang sering kita lakukan merupakan prilaku yang mengendap pada kepribadian anak, kelak anak akan terbiasa melakukan kebohongan yang lebih besar.

2. Rasa kasihan yang berlebihan

Hati siapa yang tidak luluh mendengar suara tangisan buah hatinya. Tangisan ini pula yang sering menimbulkan rasa kasihan yang berlebihan. Sehingga kita sering mengabulkan permintaan anak yang menjadikan tangisannya sebagai senjata.

Misalnya, “Ayo jangan menangis lagi. Nanti Mama belikan boneka panda besar seperti yang adik idam-idamkan.”

Pada saat itu anak belajar untuk menggunakan tangisannya agar mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan tidak belajar menahan diri untuk mengatasi kekecewaannya.

Baca juga : Queen/King of Drama, Reaksi Emosi Balita yang Berlebihan

3. Menyogok

Pernahkah kita menyogok anak agar melakukan sesuatu untuk menutupi kesalahan yang telah kita lakukan? Misalnya, “Dek, nanti kalau Papa bertanya siapa yang memecahkan gelas kesayangannya, Adek bilang, kucing ya. Nanti Mama belikan es krim yang besar.”

Atau pernahkah kita mengajak anak mengunjungi rumah gurunya dan memberikan berbagai hadiah agar anak menduduki peringkat pertama di kelasnya?

Prilaku-prilaku semacam inilah yang membuat anak terbiasa dengan berbagai kasus suap-menyuap dalam lingkungan kerjanya di masa mendatang.

4. Tidak membiarkan anak menerima sesuai dengan kemampuannya

Memiliki anak yang pintar dan berprestasi merupakan kebanggaan semua orangtua. Untuk mendapatkan nilai yang tinggi, banyak orangtua yang membiarkan anaknya melakukan kecurangan.

Contohnya : mencontek dan  membantu anak agar memperoleh kunci jawaban untuk ujian tingkat nasional.

Hal ini juga terjadi pada saat penerimaan siswa baru pada sekolah-sekolah lanjutan, di mana orangtua berbondong-bondong mengupayakan agar anak bisa diterima di sekolah tersebut dengan jalan memberi sogokan pada pihak-pihak tertentu.

Sikap permisif semacam ini kelak dikemudian hari akan memudahkan anak melarikan diri dari tanggung jawab. Ia kelak akan dengan mudahnya mengelak dari tuntutan-tuntutan kerja. Anak tak terbiasa menerima konsekuensi atas apa yang telah dilakukannya.

Nah, Parents,  untuk memutuskan mata rantai korupsi yang sudah menggurita, alangkah baiknya bila kita mulai mengurangi melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam mendidik buah hati agar anak tumbuh dan berkembang menjadi figur yang berguna bagi masyarakat dan terhindar dari prilaku korupsi.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Bagaimana Meningkatkan EQ Agar Anak Lebih Sukses di Kemudian Hari?

Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan Orangtua