Dokter: Sunat sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia 40 hari

lead image

Dokter menyatakan bahwa waktu terbaik untuk sunat adalah sejak anak berusia di bawah 40 hari. Ini alasannya!

Banyak orangtua yang merasa bimbang untuk menentukan waktu yang tepat untuk anak laki-laki mereka disunat. Sebagian orangtua yakin bahwa waktu terbaik sunat adalah ketika anak mulai masuk sekolah. Namun ada juga orangtua yang menganggap bahwa sunat bayi sebaiknya dilakukan sejak dini, bahkan ketika buah hati baru berusia beberapa hari.

Artikel terkait : Zaskia Mecca sunat bayinya yang masih berusia 4 hari, ini alasannya!

Lalu apakah dokter lebih menyarankan sunat bayi atau sunat pada usia sekolah? Berikut penjelasannya!

Sunat bayi atau sunat pada usia sekolah, mana yang lebih baik?

sunat bayi

Dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, ditemui dalam acara Konferensi Media Revolusi Sunat Tanpa Jarum Suntik di Jakarta Timur (18/6) menjelaskan mengenai waktu terbaik untuk anak laki-laki disunat.

“Sunat lazimnya dilakukan sebelum masa pubertas. Hal ini karena pembuluh darah pada anak-anak masih kecil, sehingga perdarahannya akan lebih sedikit dan peroses penyembuhan akan lebih mudah.”

“Kalau saya menyarankan, sunat dilakukan saat usia anak di bawah 40 hari,” ungkapnya.

Artikel terkait : Kapan Sebaiknya Sunat atau Khitan Pada Anak Laki-laki Dilakukan?

Dokter: Sunat sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia 40 hari

Mahdian mengungkapkan bahwa, ia sangat menyarankan sunat bayi karena memiliki banyak manfaat.

“Saya menarankan sunat saat bayi, karena waktu regenerasi sel tubuh terbaik adalah saat bayi. Jadi, jika terjadi luka akibat sunat pada usia itu, maka lukanya akan cepat sembuh. Selain itu, dampak trauma psikologisnya akan sangat minim, karena bayi belum bisa mengingat proses sunat tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Mahdian menyebutkan bahwa jika anak disunat saat usia balita, maka akan sangat sulit untuk menjaga kebersihan dan keamanan luka bekas sunatnya.

“Jika sunat dilakukan pada balita, biasanya anak akan sulit menjaga kebersihan dan keamanan luka bekas sunatnya. Misalnya, anak balita cenderung akan sangat penasaran dengan hal-hal yang menempel pada bagian kelamin mereka, sehingga bisa dimainkan atau ditarik, jadi cukup berisiko,” jelasnya.

sunat bayi

Dilansir dari Kompas, sebuah penelitian tentang sunat bayi menghebohkan para orangtua. Seorang peneliti asal Inggris mengklaim, khitan dini dapat memicu sindrom kematian mendadak pada bayi (sudden infant death syndrome/SIDS).

Dalam studi yang dimuat di bioRxiv, Dr Eran Elhaik dari University od Sheffield, Inggris menemukan, bayi berusia 28 hari yang langsung disunat akan kehilangan banyak darah, dan hal tersebut berkorelasi kuat dengan SIDS.

Artikel terkait: Risiko bayi disunat terlalu dini, Parents perlu waspada!

Menanggapi penelitian tersebut, Mahdian pun ikut memberikan pendapatnya.

“Meskipun banyak yang mengatakan bahwa sunat bayi dapat meningkatkan risiko SIDS, namun selama saya praktek, belum pernah ditemukan kasus kematian akibat sunat,” ujarnya.

“Mungkin kejadian itu hanya terjadi pada segelintir pasien, dan mungkin juga dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya pasien memang sudah bermasalah dengan penggumpalan darah, bukan semata-mata karena prosedur sunatnya,” tutup Dr. Mahdian. 

Sekarang, tak perlu ragu lagi jika ingin melakukan sunat pada bayi ya Bun. 

Baca juga:

Apakah bayi merasakan sakit saat disunat?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner