TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Malah Membela Pelaku Kejahatan

Bacaan 4 menit
Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Malah Membela Pelaku Kejahatan

Kenali Stockholm Syndrome di sini

Sudah dijahatin, kok, malah bersimpati bahkan membela pelaku. Ini aneh tapi nyata! Jika Parents melihat seseorang berperilaku demikian, bisa jadi itu pertanda Stockholm syndrome.

Stockholm syndrome atau sindrom Stockholm adalah respons psikologis pada korban penculikan atau penyanderaan ketika mereka memiliki perasaan positif seperti simpati atau jadi timbul kasih sayang terhadap pelaku.

Kisah tentang sindrom Stockholm salah satunya bisa kita tonton dari serial Netflix berjudul Inventing Anna. Diceritakan, Anna Delvey adalah sosok yang cerdas dan kharismatik.

Dengan kelebihan tersebut, Anna berhasil masuk kalangan sosialita di New York. Namun ia menipu dengan mengaku sebagai orang kaya dari Jerman, kemudian memanipulasi orang-orang di lingkarannya.

Para sosialita yang menjadi sahabat Anna itu, tentu tak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi. Bahkan ketika perilaku Anna sudah melampaui batas, mereka justru bersimpati dan tetap membela Anna.

Misalnya yaitu ketika Anna gagal bayar hotel di Maroko sebesar $62.000 dan nunggak tagihan kartu kredit perusahaan Rachel selama tiga bulan, yang bikin Rachel terancam di-PHK. Sudah begitu, Rachel tetap berpikiran positif pada Anna.

Nah, sikap dan reaksi positif pada pelaku manipulasi atau aktor kejahatan itulah yang kita sebut sindrom Stockholm. Kisah dalam serial Inventing Anna tersebut hanya sebagai contoh. Tentunya di kehidupan nyata, bentuk kasus sindrom Stockholm bisa lebih beragam.

Artikel terkait: A-Z Retardasi Mental, Dulu Dikenal Sebagai ‘Keterbelakangan Mental’

Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Membela Pelaku Kejahatan

Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Malah Membela Pelaku Kejahatan

Terkadang orang-orang yang diculik atau disandera selama beberapa lama bisa memiliki perasaan simpati atau perasaan positif lainnya terhadap si penculik. 

Apalagi jika penculikan terjadi selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Dalam rentang waktu tersebut, antara pelaku dan korban bisa timbul ikatan karena melakukan kontak dekat.

Seseorang yang memiliki sindrom Stockholm mungkin melahirkan perasaan yang membingungkan bagi pelaku. Perasaan dan sikap positif yang muncul bisa berupa: cinta dan kasih sayang, simpati, empati, bahkan keinginan untuk membela dan melindungi pelaku.

Selain itu, sindrom Stockholm juga dapat menyebabkan korban mengembangkan sudut pandang negatif terhadap polisi atau siapa pun yang mencoba menyelamatkannya. Uniknya lagi, korban juga bisa membantu membayar pengacara setelah si pelaku ditangkap.

Artikel terkait: Jangan Asal Pilih, Ini 3 Jenis Tes Kesehatan Mental dengan Hasil Akurat

Mengapa Terjadi Stockholm Syndrome?

Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Malah Membela Pelaku Kejahatan

Istilah sindrom Stockholm pertama kali dikenalkan pada 1973 oleh Nils Bejerot, seorang kriminolog di Stockholm, Swedia. Mengutip WebMD, Bejerot menggunakan istilah itu untuk menjelaskan reaksi tak terduga para sandera serangan bank terhadap penculik mereka.

Mengapa beberapa orang memiliki sindrom Stockholm? Jawabannya, belum diketahui secara pasti. Namun, itu dianggap sebagai mekanisme bertahan hidup. Seorang korban penculikan mungkin menciptakan ikatan ini sebagai cara untuk mengatasi situasi ekstrem dan menakutkan yang sedang dihadapinya.

Beberapa hal yang meningkatkan kemungkinan seseorang memiliki sindrom Stockholm, di antaranya:

– Korban berada dalam situasi yang penuh emosi untuk waktu yang lama.
– Korban berada di ruangan bersama penyandera dengan kondisi yang buruk, misalnya tidak punya cukup makanan, ruangan yang tidak nyaman.
– Ketika korban atau sandera bergantung pada penyandera untuk memenuhi kebutuhan dasar.
– Ketika ancaman dari pelaku tidak jadi dilakukan. Misalnya ancaman eksekusi palsu.

Dalam kasus penculikan, korban mungkin mengalami pelecehan dan diancam oleh pelaku. Namun, tetap saja ada interaksi di antara mereka. Jika pelaku menunjukkan sikap yang baik, terlebih berusaha memenuhi kebutuhan dasar korban, sindrom Stockholm alias perasaan positif pada pelaku sangat mungkin untuk muncul.

Sindrom Stockholm dapat pula terjadi pada bentuk hubungan yang lain, bukan hanya antar korban dan pelaku penculikan. Relasi pertemanan, keluarga, dan profesional pun bisa muncul sindrom ini.

Artikel terkait: Penuh Perjuangan, Ini Cerita 7 Artis yang Mengalami Gangguan Mental

Saran Jika Mengalami Sindrom Stockholm

Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Malah Membela Pelaku Kejahatan

Yang dapat kita lakukan apabila memiliki sindrom Stockholm atau mengenal seseorang yang mungkin mengalaminya, kita dapat melakukan beberapa hal.

Pertama, cobalah untuk belajar mengenali pola manipulasi yang dilakukan. Terkadang manipulasi bisa sulit untuk diidentifikasi, karenanya gunakan insting untuk mengenalinya.

Kedua, jangan segan untuk membuat batasan diri dan cari teman yang tulus.

Ketiga, konsultasi dengan terapis juga bisa membantu untuk mengetahui mengapa Anda mengembangkan sindrom Stockholm.

Semoga bermanfaat!

***

Cerita mitra kami
Bagaimana Metode Belajar Progressif dapat Mendukung Masa Depan Generasi Alpha? Ini Penjelasan dari Psikolog Anak & Keluarga
Bagaimana Metode Belajar Progressif dapat Mendukung Masa Depan Generasi Alpha? Ini Penjelasan dari Psikolog Anak & Keluarga
Dukung Tumbuh Kembang Anak Indonesia yang Serba Bisa, Tempo Scan Group Hadirkan Event Explore Wonderland
Dukung Tumbuh Kembang Anak Indonesia yang Serba Bisa, Tempo Scan Group Hadirkan Event Explore Wonderland
10 Rekomendasi Susu yang Bagus untuk Pencernaan Anak 4 Tahun
10 Rekomendasi Susu yang Bagus untuk Pencernaan Anak 4 Tahun
Pegangan Bagi Orang Tua, Modul Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia Telah Diluncurkan
Pegangan Bagi Orang Tua, Modul Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia Telah Diluncurkan

What Is Stockholm Syndrome?

www.webmd.com/mental-health/what-is-stockholm-syndrome 

 

Baca juga:

Mengenal Mental Health Gym & Manfaatnya untuk Psikologis

Demi Kesehatan Mental Anak, Jangan Lakukan 7 Hal ini Pada Mereka

Mengenal Chromotherapy, Terapi Warna yang Berpengaruh pada Kesehatan Mental

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

alikarukhan

Diedit oleh:

Aulia Trisna

  • Halaman Depan
  • /
  • TAPpedia
  • /
  • Stockholm Syndrome, Sikap Korban yang Malah Membela Pelaku Kejahatan
Bagikan:
  • 5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

    5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

  • Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

    Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

  • Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

    Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

  • 5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

    5 Fakta Hormon Kortisol, Hormon Stres yang Memengaruhi Kenaikan Berat Badan

  • Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

    Waspada 8 Ciri Asidosis, Tingginya Kadar Asam di Darah yang Picu Gangguan Organ

  • Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

    Obat Ambroxol: Manfaat, Dosis untuk Anak, dan Efek Samping

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti