Hati-hati! 4 Hal ini terjadi pada janin jika ibu hamil sering menangis

Hati-hati! 4 Hal ini terjadi pada janin jika ibu hamil sering menangis

Selain dapat menghambat perkembangan janin di dalam kandungan, ibu hamil sering menangis dapat memengaruhi perilaku dan sifat janin saat dilahirkan.

Selama kehamilan, seorang wanita akan lebih sensitif terhadap lingkungannya. Bisa saja ibu hamil sering merasa sedih dan menangis karena tingkat hormonal tubuh meningkat. Lalu, akan seperti apa reaksi janin saat ibu menangis?

Beberapa stres selama kehamilan adalah normal, sama seperti pada masa-masa kehidupan lainnya. Namun jika stres menjadi konstan, efeknya pada Anda dan janin bisa berlangsung lama.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Association for Psychological Science menunjukkan bahwa emosi ibu juga dapat berdampak pada janin yang berusia enam bulan atau lebih. Perasaan Anda selama kehamilan juga dapat memiliki peran penting dalam menentukan sikap dan pandangan hidup anak saat ia tumbuh dewasa.

Reaksi janin saat ibu menangis dan stres

Saat stres, tubuh beralih ke mode “fight or flight“, lalu mengirimkan ledakan kortisol dan hormon stres lainnya. Ini adalah hormon yang sama, yang melonjak ketika Anda dalam bahaya.

Hormon ini mempersiapkan Anda untuk berlari dengan mengirimkan ledakan bahan bakar ke otot-otot Anda dan membuat jantung Anda memompa lebih cepat.

Jika Bunda bisa mengatasi stres dan melupakannya, respons stres Anda akan surut dan tubuh Anda akan kembali seimbang. Namun “jenis stres yang benar-benar merusak adalah jenis yang tidak kunjung reda,” kata Susan Andrews, PhD, seorang neuropsikolog klinis dan penulis buku Stress Solutions for Pregnant Moms: How Breaking Free From Stress Can Boost Your Baby’s Potential.

Reaksi janin saat ibu menangis

Faktanya, stres yang terus-menerus dapat mengubah sistem manajemen stres tubuh Anda, menyebabkannya bereaksi berlebihan dan memicu respons peradangan. Peradangan, sering dikaitkan dengan kesehatan kehamilan yang lebih buruk dan masalah perkembangan pada bayi.

“Ada beberapa data yang menunjukkan bahwa penyebab stres kronis yang lebih tinggi pada wanita dan ketidakmampuan untuk mengatasi stresor tersebut mungkin terkait dengan bayi berat lahir rendah dan melahirkan prematur,” kata Ann Borders, MD, MPH, MSc, seorang dokter kandungan di departemen Obstetrics and Gynecology , divisi Maternal-Fetal Medicine, di Rumah Sakit Evanston, NorthShore University HealthSystem.

Stres ibu dan otak janin

Stres kronis juga dapat berkontribusi pada perkembangan otak yang mungkin menyebabkan masalah perilaku saat bayi tumbuh, tambahnya.

Penelitian di bidang ini masih dini, dan dokter masih perlu mencari tahu hubungan yang tepat antara stres dan kehamilan.

Meski begitu, penting bagi wanita hamil untuk bisa mengelola stres, terutama jika mereka berurusan dengan stres kronis – misalnya, dari masalah keuangan atau masalah hubungan.

“Kami tahu bahwa kami ingin memikirkan cara mengurangi stres yang tidak sehat dan menemukan cara untuk membantu wanita memiliki mekanisme bertahan yang lebih baik untuk mengatasi stres dalam hidup mereka,” kata Borders. Anda seharusnya tidak merasa bersalah tentang stres, tambahnya, tetapi Anda harus berusaha mengendalikannya sebaik yang Anda bisa.

Depresi selama kehamilan dapat memengaruhi sistem neuroendokrin bayi. Ini mengontrol suasana hati, emosi, dan respons stres seseorang. Selain itu, meningkatkan kemungkinan anak terserang penyakit mental saat dilahirkan.

Selain memengaruhi perkembangan otak janin, 3 hal berikut ini juga bisa terjadi ketika ibu hamil sering menangis:

Reaksi janin saat ibu menangis #1: Kelahiran prematur atau keguguran

Menangis karena gelisah mengurangi aliran darah, yang berfungsi untuk mengangkut nutrisi yang diperlukan untuk bayi. Ini dapat menyebabkan masalah pernapasan, berat badan di bawah jumlah yang disarankan, dan dalam kasus terburuk, kelahiran prematur atau keguguran.

Reaksi janin saat ibu menangis #2: Kepribadian Anak

reaksi janin saat ibu menangis

Ketika seorang ibu menangis akibat stres, kadar kortisolnya sangat meningkat dan fungsi plasenta terpengaruh. Jika ini terjadi, bisa berbahaya bagi bayi karena salah satu fungsi plasenta adalah untuk melindungi janin dari kortisol.

Kondisi ini dapat memiliki pengaruh negatif, meningkatkan risiko anak mengembangkan masalah perilaku seperti hiperaktif, Attention Deficit Disorder atau penyakit mental lainnya.

Reaksi janin saat ibu menangis #3: Perkembangan lambat

Jika ibu mengalami  sedih yang berkepanjangan disertai dengan tangisan, hal tersebut dapat menyebabkan bayi berkembang lebih lambat dari biasanya. Ini karena bayi, bahkan ketika mereka berada dalam kandungan, dapat merasakan suasana hati ibu mereka.

Bunda pasti tak ingin janin mengalami hal di atas bukan? Yuk mulai mengelola emosi dan stres, agar Bunda bahagia selalu.

 

Referensi: WebMD, Step to Health, Parenting Firstcry

Baca juga:

17 Tips Ampuh Hilangkan Stres Saat Hamil

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner