Sebenarnya, apa itu dinding rahim tipis?
Belum lama ini, pasangan Rizky Billar dan Lesti Kejora mendapat peringatan medis setelah kelahiran anak ketiga mereka.
Dokter menyebut, kondisi dinding rahim Lesti Kejora sudah menipis dan tidak aman untuk kehamilan berikutnya.
“Dinding rahimnya Lesti sudah mulai tipis,” ungkap sang dokter dalam Vlog yang ditayangkan di Leslar Entertainment.
Adapun penipisan dinding rahim diakibatkan oleh jarak kehamilan dan kelahiran yang terlalu dekat dan Lesti pun memiliki riwayat persalinan caesar berulang.
Dinding Rahim Tipis karena Apa?

Dinding rahim tipis disebabkan karena berbagai faktor seperti operasi caesar berulang atau kerusakan yang diakibatkan tindakan pembedahan kandungan seperti laparoskopi, kuret, hingga penyakit radang panggul.
Perlu diketahui, dinding rahim terdiri dari tiga lapisan yakni lapisan terluar (perimetrium), lapisan tengah (miometrium), dan lapisan terdalam (endometrium). Di lapisan endometrium inilah tempat terjadinya penebalan dan penipisan dinding rahim yang mengikuti siklus menstruasi.
Dilansir dari Klik Dokter, pada umumnya endometrium yang normal memiliki ketebalan 8-13 mm. Bila ketebalannya kurang dari itu, endometrium disebut tipis dan kurang ‘subur’ sehingga peluang untuk hamil pun menurun.
Selain itu, ada pula 4 hal lain yang mungkin dapat menyebabkan kondisi rahim tipis, di antara yaitu:
1. Aliran Darah ke Rahim yang Kurang
Beberapa penelitian menemukan bahwa endometrium bisa gagal menebal karena turunnya aliran darah ke rahim. Salah satu hal yang dapat memengaruhi kondisi ini adalah karena jadwal menstruasi yang tidak teratur.
Selain itu, beberapa penyebab lainnya ialah gaya hidup sedenter atau gaya hidup yang sebagian besar waktunya digunakan untuk duduk, mioma uteri, serta adanya peningkatan kadar hormon stres tubuh yang secara umum menyebabkan pembuluh darah menyempit.
Untuk memeriksakan baik tidaknya aliran darah ke rahim, Anda melakukan USG kandungan.
2. Kadar Hormon Estrogen yang Rendah
Salah satu penyebab umum rahim tipis ialah kadar hormon estrogen yang rendah. Estrogen merupakan hormon yang dihasilkan oleh ovarium wanita untuk membuat lapisan endometrium menebal.
Tinggi rendahnya kadar estrogen bisa terjadi akibat olahraga yang berlebihan, gangguan makan (anoreksia dan bulimia), gangguan fungsi kelenjar pituitari otak yang memicu ovarium untuk menghasilkan estrogen, dan kelainan ovarium karena efek genetik atau penyakit autoimun.
Anda dapat memeriksakan tinggi rendahnya kadar hormon estrogen melalui pemeriksaan darah. Bila kadarnya rendah, hormon estrogen oral mungkin akan diberikan.
3. Efek Obat
Obat Klomifen merupakan obat yang biasa digunakan untuk menginduksi pengeluaran sel telur pada wanita yang sulit hamil.
Obat ini dapat membuat tubuh seolah-olah kekurangan estrogen. Hal inilah yang dapat menghambat estrogen dalam menebalkan dinding rahim.
Adapun kontrasepsi hormonal mengandung progestin yang secara langsung berefek menipiskan endometrium.
4. Penyakit Bawaan
Penipisan endometrium juga bisa disebabkan karena adanya penyakit bawaan seperti diabetes melitus, hipertensi, asma, dan epilepsi.
Sebaiknya segera konsultasikan hal tersebut pada dokter bila Anda sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil.
Apakah Rahim Tipis Bisa Hamil?
Dinding rahim tipis bisa membuat peluang hamil menurun, tetapi bukan berarti sama sekali tidak bisa hamil. Terutama bila penyebabnya bisa diatasi dan kondisi rahim terpantau dengan baik oleh dokter kandungan.
Dengan pemantauan USG, terapi yang tepat, serta pola hidup dan nutrisi yang mendukung, banyak perempuan dengan dinding rahim tipis yang tetap berhasil hamil dan menjalani kehamilan sehat
Apa yang Terjadi Jika Rahim Tipis?
Dinding rahim yang terlalu tipis dapat membuat embrio sulit menempel dengan kuat, sehingga peluang terjadinya kehamilan berkurang dan risiko kegagalan implantasi meningkat.
Selain itu, jika kehamilan tetap terjadi pada kondisi rahim tipis yang kurang ideal, lapisan rahim yang tipis bisa membuat suplai nutrisi ke janin tidak seoptimal dinding rahim yang sehat.
Hal ini dapat meningkatkan risiko keguguran, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, atau masalah pada plasenta.
Di luar kehamilan, dinding rahim tipis juga bisa memengaruhi pola haid. Misalnya, menstruasi menjadi lebih sedikit atau tidak teratur, bergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Bagaimana Cara Mencegah agar Rahim Tidak Tipis?
Mencegah dinding rahim menjadi terlalu tipis dimulai dari menjaga kesehatan hormonal dan aliran darah ke organ reproduksi.
Menjaga berat badan ideal, rutin beraktivitas fisik, mengelola stres, tidur cukup, dan tidak merokok dapat membantu menjaga keseimbangan hormon estrogen dan progesteron.
Pemeriksaan rutin ke dokter kandungan juga penting, terutama bila haid tidak teratur atau ada riwayat gangguan hormon, agar masalah pada rahim bisa terdeteksi lebih dini.
Selain itu, mencegah penipisan dinding rahim juga bisa dengan memberikan jarak atau jeda pada kehamilan.
Dengan memberi jeda pada kehamilan, tubuh jadi punya kesempatan menyeimbangkan hormon, memperbaiki aringan yang mungkin sempat teregang atau mengalami mikorolesi, dan mengisi ulang cadangan nutrisi penting seperti zat besi dan folat.
Tidak cuma itu, setelah persalinan, lapisan endometrium akan mengalami proses peluruhan dan regenerasi, yang membutuhkan waktu agar struktur dan fungsinya kembali optimal untuk implantasi berikutnya.
Jika jarak kehamilan terlalu dekat, proses regenerasi tersebut bisa belum tuntas, sehingga kualitas lapisan rahim yang baru terbentuk mungkin kurang ideal untuk “menempelkan” embrio.
Secara umum, banyak organisasi kesehatan menganjurkan jeda sekitar 18–24 bulan antara melahirkan dan hamil lagi, agar tubuh punya waktu cukup untuk pulih dan mempersiapkan kehamilan berikutnya.
Jeda ini membantu rahim, termasuk dinding rahim, kembali ke kondisi yang lebih stabil setelah kehamilan dan persalinan yang sebelumnya cukup menguras fisik.
Makan Apa agar Dinding Rahim Tebal?
Tidak ada satu jenis makanan “ajaib” yang langsung menebalkan dinding rahim, tetapi pola makan seimbang yang kaya zat gizi tertentu diketahui mendukung kesehatan hormon dan kesuburan.
Penelitian tentang nutrisi dan fertilitas menunjukkan bahwa asupan lemak sehat (seperti dari ikan berlemak, alpukat, kacang-kacangan), karbohidrat kompleks, protein berkualitas, serta banyak sayur dan buah dapat membantu fungsi hormonal dan kualitas ovulasi.
Antioksidan dari sayuran hijau, buah berwarna cerah, serta kacang dan biji-bijian juga mendukung kesehatan pembuluh darah, termasuk yang menyuplai endometrium.
Beberapa sumber menyebut vitamin E, vitamin C, folat, zat besi, dan omega-3 sebagai nutrisi yang berperan dalam kesehatan endometrium dan kesuburan wanita. Sumbernya antara lain sayuran hijau, jeruk dan buah beri, kacang-kacangan, biji-bijian, telur, hati, serta ikan laut berlemak.
Meski demikian, suplemen dosis tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan tanpa konsultasi dengan dokter atau ahli gizi, terutama bila Anda sedang menjalani program hamil atau memiliki penyakit tertentu.
***
Baca juga:
Cara Menggunakan dan Membaca Tespek yang Benar agar Hasil Akurat
5 Penyebab Keluar Darah saat Hamil Muda dan Cara Mengatasi
Terlalu Sering Operasi Caesar Sebabkan Dinding Rahim Robek di dalam Perut
Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.