Pilih imunisasi di Puskesmas atau Rumah Sakit? Ini perbedaannya, Bun!

lead image

Bingung mau imunisasi di puskesmas atau rumah sakit? Biar tidak bingung, kenali perbedaan pelayanan vaksin di Puskesma dan di Rumah Sakit berikut ini.

Imunisasi atau vaksinasi sangatlah penting untuk membentuk sistem kekebalan tubuh anak dan melindunginya dari berbagai penyakit berbahaya. Jadi, jangan sampai Bunda melewatkan jadwal imunisasi si kecil, ya! Sebelum melakukan vaksin, Bunda perlu tahu perbedaan melakukan imunisasi di puskesmas dan imunisasi di rumah sakit 

Begitu bayi lahir, biasanya pihak Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lain tempat Bunda melahirkan akan langsung memberi vaksin Hepatitis B kepadanya. Setelah itu, Bunda akan dianjurkan untuk segera kembali ke klinik atau RS dalam rentang waktu 1 bulan untuk mendapatkan vaksin BCG dan polio. Bunda bisa kembali ke tempat Bunda melahirkan, atau memilih tempat lain.

Mungkin Bunda sudah tahu, kalau Bunda bisa mendapatkan beberapa jenis imunisasi di Puskesmas dengan gratis. BCG dan polio termasuk imunisasi yang diwajibkan dan disubsidi oleh pemerintah. Meskipun Bunda melahirkan di rumah sakit, mungkin Bunda mempertimbangkan untuk mendapatkan imunisasi BCG dan polio di Puskesmas agar gratis.

Lantas, apa bedanya ya imunisasi di Puskesmas dengan di Rumah Sakit?

Perbedaan imunisasi di Puskesmas dan Rumah Sakit yang perlu Anda ketahui

#1: Harga

imunisasi di puskesmas

Di Indonesia, vaksinasi yang diwajibkan oleh pemerintah adalah Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, HiB, MR, dan Campak. Vaksin-vaksin ini bisa Anda dapatkan dengan gratis di Puskemas menggunakan kartu BPJS. Jika tidak menggunakan kartu BPJS pun Anda bisa mendapatkannya dengan murah kok, hanya Rp 2.000 saja. Harga yang murah adalah karena subsidi pemerintah yang bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat bisa divaksin. 

Vaksin yang digunakan di Puskesmas diproduksi oleh PT Biofarma yang terpercaya. Bahkan lebih terpercaya karena diawasi oleh pemerintah. Pastikan Anda mendapatkan vaksinasi di Rumah Sakit terpercaya, ya. Jika tidak yakin, Anda juga bisa bertanya siapa distributornya dan memastikan pada Kemenkes apakah distributor tersebut merupakan distributor terpercaya.

Sedangkan jika Anda melakukan imunisasi di rumah sakit, selain Anda harus membayar untuk harga vaksin itu sendiri, juga ada biaya konsultasi dokter dan administrasi Rumah Sakit. Harga vaksinnya pun lebih mahal karena biasanya impor dan tentunya tidak disubsidi oleh pemerintah.

#2: Kelengkapan vaksin

Di Puskesmas, Anda hanya bisa mendapatkan vaksin-vaksin yang diwajibkan dan digratiskan oleh pemerintah yang telah disebutkan di atas. Namun terdapat beberapa vaksin yang tidak diwajibkan namun sangat direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), seperti PCV, Rotavirus, Influenza, Hepatitis A, Tifoid, HPV, dan Japanese Encephalitis.

Vaksin ini hanya bisa didapatkan di RS atau klinik yang menyediakan, dan tentunya tidak gratis. Meskipun tidak diwajibkan, sebaiknya tetap melakukan imunisasi ini ya, Bun!

Pastinya kita ingin memberikan yang terbaik untuk si kecil dan tidak ingin melihat si kecil sampai mengalami penyakit yang sesungguhnya bisa dicegah. Ingat, mencegah lebih baik dari mengobati!

Artikel terkait: Virus japanese encephalitis diduga mewabah di Bali, waspadai gejalanya pada anak

#3: Efek demam setelah imunisasi

Pilih imunisasi di Puskesmas atau Rumah Sakit? Ini perbedaannya, Bun!

Ada beberapa vaksin yang menyebabkan demam sesudahnya, misalnya vaksin DPT. Mengalami demam setelah imunisasi adalah hal yang sangat wajar kok, karena berarti obatnya sedang bereaksi.

Jadi Anda sebenarnya tidak perlu takut. Namun ada beberapa parents yang lebih memilih anaknya mendapatkan imunisasi dengan vaksin yang tidak menyebabkan demam, karena tidak ingin anaknya rewel seharian gara-gara demam, atau karena tidak tega melihat anaknya demam.

Vaksin DPT yang digunakan di Puskesmas adalah vaksin lokal merek Pentabio yang bisa menimbulkan demam. Sedangkan di rumah sakit, Anda bisa memilih vaksin impor merek Pediacel yang tidak menyebabkan demam.

#4: Waktu pemberian imunisasi

imunisasi di puskesmas

Puskesmas atau Posyandu biasanya memiliki jadwal vaksinasi tersendiri, biasanya 1 atau 2 kali seminggu. Jadi Bunda tidak bisa langsung datang begitu saja untuk meminta imunisasi, ya. Cari dulu informasi di Puskesmas terdekat atau di mana Bunda terdaftar di BPJS, kapan waktu mereka memberikan imunisasi.

Kenapa tidak bisa memberikan setiap hari? Hal ini dikarenakan vaksin yang digunakan oleh Puskesmas berupa multi dose vial, di mana satu kemasan digunakan untuk banyak anak, sehingga lebih baik mengumpulkan anak-anak yang akan divaksin dalam waktu satu hari atau dua hari seminggu dan semua dosisnya bisa habis, dibanding ternyata dalam 1 hari hanya ada beberapa anak yang divaksin kemudian sisanya harus dibuang.

Sedangkan di rumah sakit, biasanya Anda bisa datang kapan saja, karena mereka menggunakan single dose di mana satu dosis untuk satu anak. Namun tetap pastikan Anda menelepon RS yang dituju terlebih dahulu untuk memastikan stok vaksinnya ada, juga untuk membuat janji, terutama jika Anda memiliki DSA langganan. Waktu yang lebih fleksibel ini mungkin lebih mudah untuk parents yang sibuk.

Tips melakukan imunisasi di Puskesmas

imunisasi di puskesmas

Setelah mengetahui perbedaan imunisasi di Puskesmas dan rumah sakit, cukup jelas ya kalau secara kualitas, Bunda tidak perlu meragukan kualitas imunisasi di Puskesmas. Mau imunisasi di Puskesmas atau rumah sakit, kembali ke kenyamanan Bunda, ya! Yang pasti tidak ada salahnya memanfaatkan fasilitas dari pemerintah ini.

Tips saat ingin melakukan imunisasi di Puskesmas

Nah, berikut beberapa tips jika Bunda memilih untuk melakukan imunisasi di Puskesmas:

  1. Pastikan kapan jadwal imunisasi di Puskesmas yang Bunda tuju
  2. Jika waktu Bunda fleksibel, tidak usah datang terlalu pagi karena malah mengantri. Datang agak siangan tapi pastikan juga jam tutupnya kapan, jangan sampai malah Bunda datang Puskesmasnya sudah tutup. Biasanya, Puskesmas tutup jam 1, tapi pastikan lagi di Puskesmas yang Bunda tuju ya
  3. Jangan lupa bawa buku kesehatan ibu dan anak (KIA) yang biasanya diberikan Puskesmas, kalau belum punya maka akan dibuatkan di sana. Di sana si kecil akan ditimbang berat badannya dan Bunda bisa memantau grafik perkembangan si kecil di buku tersebut. Catatan vaksin pun ditulis di sana untuk mengingatkan vaksin apa saja yang sudah dan apa yang belum, dan kapan jadwal vaksin berikutnya.
  4. Usahakan si kecil sudah kenyang agar tidak rewel selama menunggu di Puskesmas. Selain itu, berhenti menyusu (baik ASI atau susu formula) maksimal 30 menit sebelum mendapatkan vaksin oral (polio) dan jangan langsung menyusui setelahnya, untuk menghindari vaksin keluar lagi dari mulut karena si kecil gumoh
  5. Cermati jadwal imunisasi anak yang ditetapkan oleh IDAI dan jangan sampai terlewat sesuai usianya.
  6. Biasanya bidan atau dokter di sana akan meresepkan obat penurun panas. Jangan meminum obat penurun panas sebelum imunisasi karena kerja vaksin tidak akan efektif. Selain itu meskipun kebanyakan anak memang demam setelah imunisasi, ada beberapa anak yang ternyata tidak demam sama sekali dan oleh karena itu tidak perlu diberikan obat penurun panas. Pastikan anak memang demam sebelum Anda memberikan obat. Pada umumnya, demam pasca imunisasi bukan hal yang berbahaya. Bunda perlu berkonsultasi ke dokter jika panas Anak tidak juga turun lebih dari dua hari, dan ada bengkak di area bekas suntikan.

*** 

Semoga informasi ini bermanfaat ya Bunda. 

 

Baca juga: 

Jadwal imunisasi anak, pastikan tidak ada yang terlambat, Parents

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.