Ingin Donor ASI? Ini Prosedur yang Wajib Bunda Ketahui

Ingin Donor ASI? Ini Prosedur yang Wajib Bunda Ketahui

Donor ASI menjadi solusi terbaik bagi ibu yang kesulitan memberikan ASI pada bayinya. Berikut ini prosedur yang harus Anda ketahui sebelum menjadi pendonor atau penerima donor ASI.

Donor ASI kini sudah banyak dilakukan di Indonesia, namun masih dilakukan secara kekeluargaan. Sedangkan di negara maju seperti Amerika, donor sudah dilakukan melalui Bank ASI.

Di Indonesia, prosedur donor ASI masih dipengaruhi oleh agama dan budaya. Bahkan ada ibu yang tidak mau menjadi pendonor ASI dari bayi yang berbeda jenis kelamin dengan anaknya. Karena takut saat dewasa nanti, sang anak jatuh cinta dengan si penerima donor dan tidak bisa menikah.

Artikel Terkait: Penerima Donor ASI Gagal Menikah, Setelah Tahu Calon Pasangan Adalah Saudara Sepersusuan

Bagi Anda yang ingin menjadi pendonor maupun penerima donor ASI, tentunya harus mengetahui dengan jelas prosedur serta persyaratannya. Hukum tentang donor ASI di Indonesia sudah masuk ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012.

Berikut ini adalah persyaratan mendonorkan ASI sesuai dengan PP tersebut.

  • Penggunaan donor ASI merupakan permintaan dari ibu kandung, atau keluarga bayi
  • Ibu kandung dan keluarga si bayi mengetahui dengan jelas identitas, alamat, dan agama si pendonor
  • Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan yang baik
  • ASI tidak diperjualbelikan
  • Pemberian donor harus memperhatikan norma agama, dan aspek sosial budaya.
  • Menjamin mutu dan keamanan ASI yang didonorkan melalui kebersihan, cara memerah ASI, penyimpanan ASI, dan cara pemberian ASI.

Selain persyaratan di atas, calon pendonor juga harus mengikuti prosedur sebelum bisa mendonorkan ASI-nya. Prosedur donor memiliki berbagai tahapan, untuk memastikan bahwa ASI yang didonorkan berkualitas baik, dan aman diberikan untuk bayi.

Berikut ini adalah prosedur mendonorkan ASI secara umum.

  • Calon pendonor diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas dari penyakit berbahaya yang bisa ditularkan lewat ASI
  • Calon pendonor mendapatkan pelatihan tentang kebersihan, cara memerah dan menyimpan ASI
  • Bayi dari calon pendonor telah mendapatkan ASI yang cukup dan tidak kekurangan
  • ASI dari pendonor akan dipasteurisasi (disterilkan melalui proses pemanasan) pada suhu rendah (62,5-63 derajat Celcius) selama 30 menit untuk mematikan virus dan bakteri berbahaya, seperti HIV.
  • Setelah dipasteurisasi, ASI disimpan di dalam lemari pendingin dengan suhu minus 20 derajat. Hal ini dilakukan untuk memastikan kandungan ASI tidak berubah

Baca Juga: Cynthia Lamusu Tak Segan Menerima Donor ASI untuk Bayi Kembarnya

Dalam panduan kesehatan, kegiatan donor ASI semestinya dilakukan melalui unit donor ASI, yang memiliki tim konsultan terlatih di bidangnya dengan standar sesuai prosedur internasional.

Namun demikian, beberapa ibu memilih untuk melakukan donor ASI melalui asas kekeluargaan dan saling percaya. Biasanya hal ini dilakukan sesama kerabat, atau orang yang sudah dikenal dekat.

Menjadi pendonor ASI adalah pekerjaan yang mulia, karena bisa membantu bayi yang membutuhkan. Bagi Anda yang memiliki masalah dalam menyusui bayi, tidak ada salahnya mencari pendonor ASI. Yang paling penting adalah gizi anak dapat tercukupi.

Referensi: Depkes.go.id, IDAI, ASI Laktasi

Baca juga:

Seorang Ibu Menyumbangkan 67 Kilogram ASI, Setelah Bayinya Meninggal Dunia

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Fitriyani

app info
get app banner