Penerima Donor ASI Gagal Menikah, Setelah Tahu Calon Pasangan adalah Saudara Sepersusuan

Penerima Donor ASI Gagal Menikah, Setelah Tahu Calon Pasangan adalah Saudara Sepersusuan

Parents, bacalah kisah tentang penerima donor ASI yang gagal menikah dengan pasangannya yang ternyata putri dari ibu yang dulu mendonorkan ASI kepadanya.

Sepasang muda dan mudi gagal menikah setelah 8 tahun menjalin hubungan. Mereka gagal menikah karena si Pemuda ternyata adalah penerima donor ASI dari ibu si wanita.

Adalah Anuar dan Julia yang bertemu dan kemudian saling jatuh cinta saat mereka belajar di universitas yang sama. Mereka tidak menyadari bahwa bertahun-tahun lampau mereka pernah saling mengenal.

Orangtua Anuar dan Julia adalah tetangga dekat sebelum keluarga Anuar pindah ke Kuala Lumpur 16 tahun yang lalu.

Ketika kedua keluarga tersebut akhirnya bertemu kembali, barulah Ibu Julia sadar dan ingat jika dulu pernah menyusui Anuar.

Dalam Islam, bayi yang menerima donor ASI memang kemudian menjadi saudara satu nasab (orang yang tidak boleh dinikahi) dengan anak-anak wanita pendonor ASI tersebut; meskipun secara turunan mereka tidak memiliki hubungan keluarga.

Mengetahui kenyataan ini, Anuar cukup merasa frustasi. Namun ia tidak memiliki pilihan lain kecuali melepaskan Julia.

Pelajaran penting dari kisah Anuar dan Julia

Islam tidak melarang seorang bayi menerima donor ASI bila memang kondisi si Ibu bayi tidak memungkinkan (ibu bayi meninggal, sakit, atau ibu tidak bisa mengeluarkan ASI). Namun, tentu saja orangtua penerima donor harus memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Islam.

Contonya, kita perlu mengetahui riwayat kesehatan pribadi dan juga keluarga pendonor, juga kesamaan akidah. Orangtua penerima donor juga wajib menjelaskan dan memberitahukan hal tersebut kepada putra/ putrinya kelak.

Islam juga mewajibkan kedua keluarga bertemu setelah si kecil meminum ASI dari wanita yang bukan ibu kandungnya, paling sedikit setelah 5 kali meminum ASI.

Untuk itulah sangat disarankan untuk tidak mengambil donor ASI dari bank ASI yang tidak memiliki catatan yang jelas tentang riwayat si pendonor; serta tidak memisahkan ASI dari pendonor satu dan yang lainnya.

Hal ini tentu saja untuk menghindari adanya percampuran nasab yang bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan kelak.

Referensi: thestar.com, suara-islam.com, alifmagz.com

Mungkin Anda juga ingin membaca:

Kisah Ibu Menyusui Pertama dan Terakhir Kalinya

Kisah Ibu yang Menyumbang 92 Galon ASI setelah Anaknya Meninggal Dunia

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner