Bayi lebih rentan terkena DBD, kenali gejala dan cara mencegahnya berikut ini!

Bayi lebih rentan terkena DBD, kenali gejala dan cara mencegahnya berikut ini!

Bayi lebih rentan terkena demam berdarah dibanding orang dewasa. Oleh sebab itu kenali gejala DBD pada bayi sejak dini agar dapat segera ditangani.

Di musim hujan, demam berdarah dengue (DBD) atau atau dengue hemorrhagic fever kerap menghantui para orang tua. Pasalnya, penyakit ini sering menghampiri anak-anak terutama bayi dan balita. Parents perlu waspada wajib mengetahui gejala DBD pada bayi dan cara menanganinya.

Bayi lebih rentan terkena DBD

DBD pada bayi

Penyakit yang umum terjadi di negara tropis ini disebabkan oleh virus dengue yang dapat menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk A. aegypti. Siapa pun bisa terkena penyakit ini, tak terkecuali bayi dan anak-anak. Bahkan bayi lebih rentan terkena penyakit DBD daripada orang dewasa sehingga memerlukan penanganan sejak dini.

Seseorang dapat mengalami DBD dalam waktu 4-10 hari setelah tergigit nyamuk yang membawa virus dengue. Namun, berbeda dengan orang dewasa, gejala demam berdarah yang muncul pada bayi dan balita lebih sulit terdeteksi.

Mengutip laman Baby Center, beberapa bayi dan balita yang terserang demam berdarah bahkan bisa jadi tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Oleh sebab itu, Parents harus lebih waspada dengan perubahan kondisi tubuh si Kecil.

Artikel terkait: Waspadai perubahan jam aktif nyamuk DBD, kenali waktu-waktunya

Gejala DBD pada bayi dan balita

1. Demam tinggi

anak demam 1

Ciri paling umum dari DBD adalah demam tinggi. Perhatikan jika si kecil mengalami demam hingga mencapai 40 derajat celcius disertai dengan panas dingin. Ketika demamnya turun seolah mau sembuh namun tiba-tiba kambuh lagi, maka ini bisa jadi tanda DBD. Lebih baik segeralah periksakan anak ke dokter sebelum terlambat.

2. Mendadak sangat lemas dan lesu

Gejala DBD pada bayi dan balita yang lain adalah rasa nyeri dan linu di belakang mata. Ketika si kecil tampak sangat pucat dan rewel, atau biasanya aktif tapi terlihat malas untuk beraktivitas sebaiknya Parents waspada. Karena bayi belum bisa mengeluhkan rasa sakitnya. 

3. Mual dan nafsu makan berkurang

Bayi dan balita yang terserang DBD cenderung menurun nafsu makannya. Hal ini disebabkan oleh rasa mual. Terkadang bagian telapak kaki si kecil juga terasa gatal sehingga dia terus menggaruknya.

4. Muncul bintik-bintik merah dan ruam sebagai gejala DBD pada bayi

Bayi lebih rentan terkena DBD, kenali gejala dan cara mencegahnya berikut ini!

Munculnya bintik merah dan ruam pada sekujur tubuh adalah ciri DBD yang bisa dilihat secara kasat mata. Bintik ini muncul akibat sistem pembekuan darah di dalam tubuh yang diserang oleh virus dengue.

5. Sakit kepala

DBD juga menyebabkan anak merasakan sakit kepala. Maka perhatikan jika si kecil terlihat lesu, menangis dan sering memegangi kepala. Terlebih jika disertai dengan gejala lainnya.

6. Mimisan, gusi berdarah, dan muntah darah

Pada fase yang paling parah, DBD pada bayi dan balita mengakibatkan anak mimisan kemudian muntah darah berwarna kehitaman. Selain itu, kulit anak juga mudah mengalami memar.

7. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening

Demam berdarah dapat membuat kelenjar getah bening mengalami pembengkakan karena tubuh berusaha melawan infeksi virus. Maka dari itu, jika anak mengalami pembengkakan kelenjar getah bening dan terasa nyeri, maka Parents harus segera membawanya ke dokter. 

Penanganan DBD pada bayi dan balita

Bayi lebih rentan terkena DBD, kenali gejala dan cara mencegahnya berikut ini!

Jika sudah muncul beberapa gejala demam berdarah seperti di atas, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jangan menunggu sampai anak menunjukkan gejala yang parah. Penanganan DBD sebaiknya dilakukan di rumah sakit dengan pemantauan dari dokter, hingga kondisi bayi membaik.

Hingga saat ini belum ada metode pengobatan spesifik untuk mengobati DBD. Penanganan yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi, sambil membantu tubuh untuk melawan virus dengue dan sembuh secara alami.

Artikel terkait: Angkak, obat demam berdarah yang ampuh tingkatkan trombosit

Bila dokter mengijinkan Si Kecil dirawat di rumah, Parents dapat melakukan beberapa hal berikut:

  • Berikan obat penurun demam yang diresepkan oleh dokter.
  • Pastikan si Kecil terhidrasi dengan baik. Jadi, berikan asupan cairan lebih sering dari biasanya. Bayi usia 6 bulan ke bawah hanya diperbolehkan minum ASI atau susu formula.
  • Pastikan si Kecil beristirahat dengan cukup.

Pencegahan DBD pada bayi dan balita

DBD pada bayi

Perlu diketahui bahwa tidak ada vaksin yang bisa melindungi bayi dari virus dengue. Vaksin dengue hanya direkomendasikan untuk anak-anak berusia 9-16 tahun.

Yang dapat Parents lakukan untuk mencegahnya adalah dengan melakukan hal ini:

  • Oleskan obat anti nyamuk yang mengandung DEET 7-20 persen, picaridin, atau IR3535. Namun perlu diingat, obat ini hanya boleh digunakan pada bayi berusia 2 bulan ke atas.
  • Pakaikan si Kecil baju berbahan katun longgar yang menutupi tubuh hingga kaki dan tangannya.
  • Pasang kelambu di tempat tidur dan stroller si Kecil.
  • Pasang pula jaring-jaring antinyamuk di jendela dan pintu agar nyamuk tidak bisa masuk ke dalam rumah.
  • Lakukan 3M (menutup, menguras dan mengubur). Bersihkan tempat penampungan air, seperti bak mandi, vas bunga, talang air, dan tempat penampungan air minum, minimal seminggu sekali. Setelah dibersihkan, jangan lupa untuk menutup tempat-tempat penampungan air tersebut.
  • Buang sampah yang dapat menampung air, seperti plastik dan botol bekas, agar nyamuk tidak bertelur di situ.

Itulah gejala DBD pada bayi dan balita serta cara menangani dan mencegahnya. Semoga si Kecil sehat selalu dan terhindar dari infeksi virus dengue.

Sumber: Dokter Sehat, Alodokter

Baca juga:

Parenting a la Dian Sastro dan Tips Lindungi Keluarga dari Demam Berdarah

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner