Mau terapi uap si kecil dengan nebulizer? Perhatikan 3 hal ini lebih dulu, ya, Bun!

lead image

Sebelum melakukan terapi nebulizer sendiri di rumah, baiknya Parents memahami 3 hal ini lebih dulu.

Pernah mendengar terapi nebulizer atau terapi uap? Jika dalam keluarga Parents, ada yang memiliki riwayat penyakit asma atau alergi tentu sudah cukup familiar dengan terapi nebulizer untuk anak seperti ini. Namun, amankah terapi uap untuk bayi di rumah?

Dihubungi theAsianparent Indonesia, dr. Meta Hanindita SpA menjelaskan terapi nebulizer atau yang sering disebut dengan terapi uap atau inhalasi ini adalah cara pemberian obat dengan dihirup agar dapat  langsung masuk menuju paru-paru sebagai sasaran pengobatan.

“Terapi ini memang direkomendasikan pada anak-anak, terutama bayi, yang  menderita asma. Untuk batuk karena asma misalnya, terapi uap untuk bayi ini memang sangat direkomendasikan. Tapi untuk common cold atau selesma tidak dianjurkan karena memang tidak bermanfaat,” tegasnya.

Oleh karena itulah terapi uap untuk bayi ini memang ditujukan dan efektif bagi anak-anak dengan penyakit saluran pernapasan akut atau kronik seperti asma.

Dijelaskan oleh dokter yang aktif menulis kesehatan anak dalam blog pribadinya, sebenarnya terapi nebulizer atau inhalasi ini bisa diberikan pada anak umur berapa pun juga. Bahkan, orang dewasa yang mengalami asma pun bisa memanfaatkan terapi uap ini.

Baca juga : Asma saat hamil, bagaimana menghadapinya agar ibu dan janin tetap sehat?

“Sebetulnya, ada beberapa macam terapi inhalasi. Ada MDI atau metered dose inhalers, ada DPI atau dry powder inhalers, sama satu lagi itu nebulizer. Nah, untuk bayi dan anak-anak biasanya memang menggunakan nebulizer,” jelasnya.

Saat ini terapi uap untuk bayi memang banyak direkomendasikan untuk dilakukan bagi anak dengan penyakit asma. Pasalnya, dengan terapi nebulizer ini bisa membantu mencairkan dan mengeluarkan dahak sehingga membuat anak (akhirnya) bisa kembali bernapas lega.

dr. Meta menjelaskan, untuk kondisi anak yang mengalami asma, terapi uap dengan nebulizer memang efektif. “Iya, dibandingkan dengan terapi oral (obat yang diminum), terapi ini lebih efektif, karena kerjanya lebih cepat pada organ targetnya, serta membutuhkan dosis obat yang lebih kecil, sehingga efek sampingnya ke organ lain pun lebih sedikit.”

Tak hanya bisa dilakukan di Rumah Sakit,  terapi uap untuk bayi ini juga bisa dilakukan sendiri di rumah. Saat ini sudah banyak dijual di pasaran dengan beragam merek. Meskipun bisa dilakukan sendiri di rumah, dr, Meta mengingatkan agar penggunaannya tidak  dilakukan secara berlebihan.

Sebelum terapi uap untuk bayi ini dilakukan di rumah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih dulu:

1. Selalu konsultasikan ke dokter mengenai obat untuk terapi uap yang dapat disimpan di rumah, seberapa banyak harus diberikan jika sesak.
2. Jaga kebersihan alat nebulizer.
3. Selesai pemakaian keringkan alat dan masker sebelum disimpan.

Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan dengan baik, sebenarnya terapi nebulizer ini tidak akan memiliki dampak negatif atau efek samping.

“Selama sesuai indikasi, obat yang diberikan diresepkan oleh dokter, umumnya aman-aman saja, kok. Oleh karena itu memang digunakan sesuai kebutuhan dan memang atas saran dokter. Biar bagaimana pun kebutuhan antara anak yang satu dengan yang lain akan sangat berbeda, tergantung dengan kondisi tiap anak.”

Semoga bermanfaat.

 

Baca juga :

Penelitian: Bayi bisa 'divaksinasi' terhadap Asma dengan Probiotik

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.