Tuberkulosis pada anak bisa berujung stunting, waspadai gejalanya

lead image

Apa saja gelaja TB pada anak dan adakah upaya yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah tidak pernah lelah mengedukasi masyarakat khususnya para orangtua tentang cara mencegah stunting. Hal ini pun terkait dengan penyakit tuberkulosis atau TB pada anak. Pasalnya, penyakit infeksi ini memang berisiko sebabkan anak stunting.

Faktanya, sampai saat ini penyakit TB pada anak merupakan salah satu penyakit infeksi kronis yang paling banyak terjadi di Indonesia.

Dijelaskan oleh dr. Meta Metahanindita, salah satu gelaja sering ditemui pada anak yang mengalami TB adalah kondisi berat badan tidak kujung naik. Padahal, jika dilihat anak tersebut sudah mengonsumsi makan yang cukup.

Keluhan lainnya adalah kondisi anak yang susah makan sehingga berat badannya tidak sesuai usia dan tinggi badannya.

“Percaya atau tidak, ternyata setelah diperiksa lebih lanjut banyak anak-anak yang mengalami infeksi tuberkulosis atau TB,” tukas dr. Meta.

dr. Meta juga menegaskan bahwa saat melihat anak susah makan sebenarnya bukan sesuatu yang normal. Artinya, jika Parents melihat si kecil sulit makan, berat badan juga tidak kunjung naik setidaknya selama dua bulan, sebaiknya segera memeriksakan pada dokter untuk mengatahui status gizi anak.

Apa saja gelaja TB pada anak?

Dokter anak yang juga berprofesi sebagai penyiar radio ini mengatakan bahwa gejala umum dari TB pada anak memang terjadinya penurunan berat badan atau berat badan sulit naik.

Selain itu ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai yaitu, anak juga tidak memiliki keinginan untuk makan atau nafsu makan kurang, demam berulang yang berkepanjangan, batuk dalam jangka waktu lama, termasuk sering mengalami diare.

Namun, penting untuk diingat meskipun salah satu gejala TB anak ini adalah batuk berkepanjangan, namun jenis bantuknya memang berbeda dengan anak anak yang mengalami alergi.

Anak terinfeksi TB akan mengalami batuk sepanjang waktu, baik pagi, siang ataupun malam. Sedangkan batuk alergi sering kali memburuk di waktu tertentu saja, misalnya hanya malam hari ataupun pagi hari.

Tb pada anak

Penyakit menular ini juga disebabkan kuman Mycobacterium Tuberculosis. Dijelaskan oleh dr. Meta, sebagian besar kuman TB ini memang sering kali menyerang paru, tapi bukan tidak mungkin akan mengenai organ lainnya seperti kelenjar, mata, ginjal, usus, kulit, tulang belakang, sampai selaput otak.

Artinya, penyakit ini memang tidak bisa disepelekan, bukan?

Apa saja faktor risiko seorang anak dapat menderita TB ?

Umumnya seorang anak bisa terinfeksi TB dikarenakan tertular dari orang dewasa yang sakit TB melalui udara. Namun, masih ada 3 risiko lain yang wajib diketahui.

1. Tak hanya memiliki kontak erat dengan penderita TB, anak juga memiliki pernah anak kontak dengan penderita TB dengan dahak posistif TB
2. Faktor usia, di mana semakin kecil usia anak, semakin tinggi juga risiko tertular TB
3. Kondisi ketika daya tahan tubuh menurun seperti gizi buruk atau HIV

Apa yang perlu dilakukan jika anak didiagnosis TB?

Dipaparkan dr. Meta, jika anak didiagnosis TB, maka hal yang perlu dilakukan adalah mencari sumber terpercaya untuk mendapatkan penjelasan terkait TB pada anak. Kemudian, cari tahu siapa kontak yang menularkan TB.

“Kontak TB itu tidak selalu orang serumah, bisa juga orang-orang dari lingkungan luar dan tidak setiap hari bertemu, tapi memang harus bisa diketahui anak bisa tertular dari mana. Setelah mendapat obat, pastikan obat diminum setiap hari untuk mencegah putus obat dan resistensi.”

Selain itu, salah satu upaya mencegah anak tidak tertular TB, tentu saja dengan memberikan vaksinasi BCG. Di mana BCG merupakan jenis vaksin yang secara spesifik merangsang pembentukan antibodi terhadap bakteri TB sehingga pemberian vaksin ini menjadi salah satu salah satu upaya pencegahan penyakit. 

“Vaksin BCG berisi kuman Mycobacterium Bovis yang telah dilemahkan. BCG memiliki efek perlindungan terhadap tuberkulosis berat dan radang otak akibat TB. Memang, vaksin BCG tidak sepenuhnya efektif mencegah infeksi TB primer. Jadi, masih ada kemungkinan seorang anak menderita TBC walaupun sudah diimunisasi BCG,” jelas dr. Meta lagi.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan TB pada anak, pastikan nutrisi anak terpenuhi dengan baik, serta lakukan pengobatan secara tuntas. Dijelaskan dr. Meta bahwa evaluasi pengobatan TB dapat dilihat dari peningkatan berat badan anak, perbaikan nafsu makan dan berkurangnya gejala klinis. Biasanya ini dapat terlihat 1-2 bulan pasca pengobatan.

 

Baca juga:

Bukan kurang gizi, anak pendek juga bisa karena gangguan ini!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.