Bayi memang menggemaskan. Pipinya yang lembut, tubuhnya yang halus, wajahnya yang lucu, dan sekecil apapun perkembangannya membuat kita jadi makin gemas. Namun, bayi tak mungkin selamanya jadi bayi. Perlahan ia pun masuk tahap selanjutnya: Masa balita.
Sekalipun masa balita adalah singkatan dari bayi lima tahun, namun sebenarnya rentang usianya bisa diperkirakan antara dua sampai lima tahun. Sebagian orang menggunakan istilah batita sebagai kependekan dari bayi tiga tahun.
Selain soal usia, ada hal lain yang bisa diperhatikan dari tingkah laku bayi yang akan meninggalkan masa bayinya menuju tahapan menjadi seorang balita. Berikut cirinya:
1. Ia mulai punya pendapat sendiri

Anak Anda akan menolak saat diajak mandi ataupun di dalam rumah saja. Ia juga mulai bisa memutuskan mau pakai baju atau tidak maupun ingin memakai baju apa.
Bukan orangtua yang mengatur segalanya, justru para BBG (Balita Baru Gede) ini yang akan mengatur orangtuanya. Pada fase inilah emosi orangtua naik turun. Bahkan, orangtua yang paham bahwa parenting bergaya ngomel-ngomel itu buruk bisa jadi malah kelepasan marah-marah dan ‘bertengkar’ dengan si pemberontak kecil ini.
2. Memilih-milih makanan

Ia mulai suka makanan tertentu dan tak segan melakukan aksi mogok makan kalau tak dituruti. Selain itu, sekalipun memintanya dengan bahasa anak balita yang tak jelas, ia ingin orang dewasa memahami bahwa apa yang ia mau harus persis seperti yang dia bayangkan.
3. Pengalaman buruk potty training

Melepaskan pampers darinya adalah hal yang sulit. Karena orangtua seringkali tak tahu kapan harus buru-buru ke kamar mandi sebelum ia terlanjur pipis atau justru pup di sembarang tempat. Mengajari anak memakai kamar mandi dengan benar memang sungguh perjuangan ya Parents..
Artikel terkait: 3 Tips Efektif Agar si Kecil Lulus Toilet Training dalam 3 Hari!
4. Seisi rumah jadi tempat bermain

Saat anak sudah mulai bisa jalan dan berlarian, maka setiap jengkalnya akan menjadi arena bermain untuk si kecil. Dari mulai lemari yang mulai di panjat, sofa yang dijadikan trampoline mendadak yang dilompati seenaknya, sampai seluruh ruangan rumah berubah menjadi kapal pecah.
Jadi, jangan heran kalau pada akhirnya rumah akan selalu berantakan, apalagi bagi yang tak punya asisten rumah tangga. Parents tinggal tutup telinga kalau ada komentar buruk tentang kondisi rumah Anda.
Sebagai orangtua, hal yang melegakan adalah anak yang sehat. Sekalipun ia adalah tukang berantakin rumah.
5. Segala sesuatu bisa jadi mainan

Tak cukup rumah jadi tempat bermain, barang perabotan Anda pun akan jadi sasaran mainannya. Masa balita yang penuh petualangan akan membuat ia aktif memainkan segala macam barang yang terjangkau dengan tangan kecilnya.
6. Eksplorasi tubuh
Ia tak hanya mulai mengeksplorasi tubuh ibunya saat menyusui dengan meremas dan menggigit semaunya. Tapi ia mulai memainkan anggota tubuhnya sendiri.
Misal, ia akan mulai suka bermain dengan organ kemaluannya sendiri sekalipun Anda akan melarangnya. Namun, bagi anak yang menginjak masa balita, kelamin maupun anggota tubuh lainnya akan dianggap sebagai mainan yang memberikan kepuasan tersendiri jika memainkannya.
Baca: Normalkah Bila Balita Sering Memainkan Kelamin-nya Sendiri?
7. Tantrum

Mengatakan ‘tidak mau’ saja belum cukup. Ia akan memulai aksi tantrum untuk merebut perhatian Anda dan membuat masa balitanya ‘komplit’.
Tantrum memang menjengkelkan, Anda perlu mencoba berbagai cara untuk membuatnya tenang. Tapi, bagaimanapun ia sedang menjadi pemberontak kecil yang akan menantang kesabaran Anda setiap saat.
Artikel terkait: Cara cerdas mengatasi anak yang sedang tantrum.
8. Menunjukkan ekspresi polosnya

Masa balita tak hanya soal yang menjengkelkan kok. Banyak orang meyakini bahwa anak-anak adalah sosok pemaaf yang luar biasa. Semarah apapun, ia tak akan ngambek lama-lama karena ia akan segera memeluk dan mencium Anda dengan antusias seolah tak terjadi apa-apa 10 menit lalu.
Begitupun jika bertengkar. Balita yang beberapa menit lalu bertengkar akan langsung bisa akrab dengan sendirinya.
Jika anak mengalami itu semua, maka ia sudah tidak bisa disebut sebagai bayi lagi. Masa balitanya membuat ia ingin diperlakukan sebagai anak yang didengar pendapat dan keinginannya.
Sebagai anak yang sedang belajar bicara, barangkali apa yang ia ucapkan akan tampak lucu atau justru menjengkelkan karena Anda tak paham bahasanya. Tapi percayalah, ia berusaha keras untuk berkomunikasi dengan Anda agar kalian dapat saling memahami.
Baca juga:
Perkembangan bayi Usia 0-3 bulan, yang tidak boleh Parents lewatkan!
Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.