5 Pemeriksaan bayi baru lahir yang jangan sampai dilewatkan, apa saja?

5 Pemeriksaan bayi baru lahir yang jangan sampai dilewatkan, apa saja?

Setelah bayi lahir, jangan lupa lakukan 5 pemeriksaan ini pada si kecil, ya, Bun!

Sebelum pulang dari rumah sakit setelah melahirkan, sudahkah skrining bayi baru lahir dilakukan? Proses skrining bisa dilakukan sekitar 2 hingga 5 hari setelah bayi dilahirkan.

Apa pentingnya skrining bayi baru lahir?

Pemeriksaan yang satu ini tentu saja perlu dilakukan. Bahkan, jangan sampai dilupakan. Pasalnya, tindakan ini bisa membantu Parents mengetahui atau mendeteksi apakah si kecil mengalami gangguan kesehatan atau tidak. Selain itu, tentu saja bisa menghindari anak-anak dari risiko merugikan di masa yang akan datang.

Patut Parents ketahui, setidaknya ada 5 jenis skrining yang harus dilakukan pada bayi baru lahir. Dimulai dengan skrining pendengaran, penglihatan pada bayi prematur, hingga hipertiroid, 17-OH Progesteron, dan G6PD.

Artikel terkait : 10 Penyakit yang bisa dialami bayi baru lahir, Parents perlu waspada nih!

Dikutip dari Health First Rumah Sakit Pondok Indah, Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A (K), FAAP, menjelaskan, bahwa newborn screening penting dilakukan agar ketika dalam hasil pemeriksaan ditemukan adanya kelainan maka bayi dapat ditangani sejak dini sehingga bayi diharapkan tumbuh dan berkembang dengan normal.

“Skrining pada bayi baru lahir ada yang rutin, ada pula yang hanya dilakukan pada keadaan khusus,”

Ia pun menegaskan bahwa ada 5 jenis skrining yang penting untuk dilakukan. Mengapa?  Berikut penjelasannya lengkapnya.

5 Jenis skrining bayi baru lahir yang penting dilakukan

skrining bayi baru lahir

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), skrining pada bayi baru lahir ada yang rutin, tapi ada juga yang hanya dilakukan pada keadaan khusus. Apa sajakah jenisnya?

1. Skrining pendengaran

Sebenarnya untuk mengetahui apakah bayi mengalami gangguan pendengaran atau tidak sejak awal kelahiran, bukan perkara yang mudah. Lagi pula, pada bayi terdapat periode kritis terkait perkembangan pendengaran dan bicara.

Biasanya periode kritis itu dimulai dalam 6 bulan pertama kehidupan pertama dan berlanjut hingga anak berusia 2 tahun.

Biasanya, bayi yang memiliki gangguan pendengaran bawaan dapat segera diatasi sebelum usia 6 bulan, lalu saat usia 3 tahun anak akan memiliki kemampuan bahasa yang normal.

Skrining pendengaran pada bayi baru lahir hanya menunjukkan ada atau tidaknya respons terhadap rangsangan dengan intensitas tertentu. Tidak mengukur beratnya gangguan pendengaran dan membedakan jenis tuli.

2. Skrining penglihatan pada bayi prematur

Retinopathy of Prematurity (ROP) sering terjadi pada bayi prematur. Kondisi ini pun merupakan salah satu penyebab kebutaan. Oleh karena itulah mengapa skrining ROP pelru dilakukan sejak dini, kemungkinannya akan dilakukan terapi yang sesuai untuk mencegah kebutaan pada anak.

Pemeriksaan ini penting dilakukan pada bayi yang lahir saat usia kandungan kurang dari 34 minggu atau berat bayi kurang dari 1.500 gram. Skrining penglihatan dapat dilakukan di dalam ruang NICU atau kamar bayi, 1 hari setelah dilahirkan.

3. Skrining hipotiroid

Tindakan pemeriksaan ini bertujuan untuk melakukan pendeteksian dini adanya hipotiroid kongenital atau bawaan. Hipotiroid kongenital yang tidak ditangani sejak dini berisiko mengakibatkan retardasi mental berat.

Angka kejadian kasus tersebut bervariasi di setiap negara, tapi umumnya sebesar 1:3.000 hingga 1:4.000 kelahiran hidup. Maka dari itu, deteksi dini hipotiroid memungkinkan bayi mendapatkan terapi secara dini dan berharap bayi memiliki tumbuh kembang optimal.

Umumnya, skrining hipotiroid dilakukan saat bayi berusia 48 hingga 72 jam. Caranya, sedikit darah diteteskan di atas kertas saring khusus, setelah bercak darah mengering, dilakukan pemeriksaan kadar hormon TSH.

4. 17-OH Progesteron (17-OHP)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK), kumpulan kelainan yang berhubungan dengan enzim yang diproduksi oleh kelenjar adrenal.

Bayi dengan HAK memiliki kelebihan androgen atau hormon steroid lelaki, dan pada sebagian kasus tidak memiliki steroid yang cukup untuk mengatur keseimbangan kadar garam dalam tubuh.

HAK yang biasanya terjadi setelah minggu kedua kelahiran ini ternyata sangat mengancam jiwa. Selain itu, HAK juga menyebabkan efek jangka panjang seperti gangguan perilaku.

5. Skrining G6PD

Pemeriksaan G6PD dilakukan untuk mendeteksi kelainan enzim Glucose-6-Phospate Dehydrogenase (C6PD). Kelainan enzim ini bisa membuat sel darah merah lebih cepat rusak dan mengalami hemolisis.

Akhirnya, sel darah merah tidak efektif mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Gejala apabila bayi mengalaminya yaitu kulit yang kuning dan anemia hemolitik.

Parents, itulah 5 jenis skrining bayi baru lahir yang sebaiknya tidak dilewatkan. Seluruh skrining umumnya dapat dilakukan saat usia bayi 2 hingga 5 hari setelah dilahirkan.

Referensi : IDAI

5 Pemeriksaan bayi baru lahir yang jangan sampai dilewatkan, apa saja?

Waspada hipotiroid pada bayi, ini tanda dan gejalanya!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner