"Tak Hanya Aku, Suamiku Tertular Postpartum Depression"

"Tak Hanya Aku, Suamiku Tertular Postpartum Depression"

"Sikapnya berubah.... lebih emosional, ternyata suamiku tertular alamo postpartum depression"

Tak hanya diriku saja, tak lama berselang postpartum depression dialami suami. Ini menjadi proses pembelajaran kami sebagai orangtua baru.

***

Aku Dinyatakan Alami Postpartum Depression  

Nama aku Devi. Usiaku 24 tahun. Diusia 23 tahun aku menikah dengan seorang laki2 terpaut usia 3 tahun lebih tua dari aku.

Kami dikaruniai buah hati lucu bernama Baby Franda di Tahun 2020 ini. Perjalanan cinta sebelum ke pelaminan terbilang sangat singkat sekali.

Masih lekat dalam ingat, dulu suami memilih cara yang unik untuk menyatakan keseriusannya. Dimulai dengan memberikan cincin berupa rumput hingga akirnya cincin emas pun diberikan untukku. Siapa sangka, kami pun akhirnya mendapat gelar baru menjadi orangtua.

Menjadi bapak dan ibu untuk seorang anak sungguh memberikan warna dalam hidup kami.  Suka duka telah kami berdua lewati.

Artikel Terkait : Gejala, Penyebab, dan Tips Mencegah Depresi Postpartum pada Ibu yang Baru Melahirkan

Singkat cerita, ketika usia baby ku 3 bulan aku sempat didiagnosa mengalami syndrom post partum depression.

Putus asa dan ingin menyerah kala itu yang aku rasakan. Tapi berkat support dari keluarga terutama suami akhirnya aku bisa melawan syndrom tersebut.

Alhamdulillah sekarang kondisi saya pun sudah semakin membaik. Jika dibandingkan dulu, tentu saja tidak separah saat 3 bulan yang lalu.

Postpartum Depression Dialami Suami

Tepat di bulan lalu (Oktober) suamiku entah tiada angin tiada hujan tiba-tiba saka menjadi sangat emosional. Tak hanya itu, ia pun kerap terlihat murung dan tak jarang melamun.

Sampai-sampai ketika kami sholat berjamaah beberapa kali itu rokaatnya kelebihan. Menyadari ada sesuatu yang berbeda, aku pun segera mengajukan pertanyaan.

Kutanya padanya kenapa bisa demikian? Apa yang terjadi?

Di luar dugaan, jawaban yang ku dengar sangat membuatku terkejut. “Aku capek, aku sumpek, aku bosen, aku streeessss, mikirin mobil mikirin anak, mikirin adik yang mau nikah, mikirin keseharian yang banyak sekali,” tukasnya.

Ketika menjawab pertanyaanku, raut wajahnya pun tampak murung dan kesal. Reaksinya sangat berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. 

Aku takut, khawatir akan kondisi suamiku. Aku menyadari ada perubahan sikap yang begitu besar. 

Selama beberapa hari, emosinya pun terus berubah-ubah. Sempat suami memutuskan untuk jalan-jalan, sekalipun ketika itu kondosinya sudah larut malam.

Akhirnya, perlahan-lahan, aku pun mulai membujuknya untuk datang ke psikiater yang sempat menangani aku dulu.

Beruntung, suami tidak menolak dan melakukan pemeriksaan. Psikiater pun akhirnya mendiagnois kalau suami ku mengalami hal serupa denganku. Ya, tepat sekali. Suamiku terkena syndrom post partum depression juga, sama seperti aku dulu.

Pada awalnya, aku sempat tidak percaya. Bertanya-tanya, mengapa seorang ayah bisa terkena syndrom seperti ini?  Bukankah syndrom post partum depression hanya dialami seorang ibu pasca melahirkan?! Ternyata anggapanku salah.

Tak Hanya Para Istri, Postpartum Depression Juga Bisa Dialami Suami

Lewat psikiater yang memeriksa kondisi suami, syndrom ini sebenarnya juga banyak dialami para ayah. Penyebabnya sendiri memang bisa dipicu oleh beragam macam sebab.

Pertama mendengarnya, terus terang saja saya merasa sangat khawatir. Namun bukan berarti syndrom post partum depression  ini tidak bisa disembuhkan.

Dari sini, saya dan suami pun sama-sama belajar melewati proses ini. Hal yang kami sadari, hal terpenting dan perlu dilakukan oleh semua orangtua adalah pentingnya mencintai diri sendiri. Tentunya memerhatikan kesehatan mental kita. Jangan sampe terjerumus dengan masalah yang bisa  menyakiti mental.

Nyatanya, depresi pasca persalinan berbeda dengan baby blues, untuk itu penting bagi para orangtua baru untuk bisa mengenali apa saja perbedaannya.

Menjadi orangtua memang memiliki banyak tantangan. Untuk mencegah rasa stress hingga berujung depresi, tentu saja memerlukan refreshing. Meski hanya sekadar menenangkan diri dengan hal positif seperti melakikan yoga, me time maupun sharing bersama keluarga tercinta.

Alhamdulillah…. hari demi hari suamiku sedikit demi sedikit membaik. Doakan, ya, Moms supaya suami bisa pulih dan benar-benar bebas dari syndrom post partum depression ini. Amiin.

Ditulis oleh Devy Yanti

 

Baca juga : 

"Suamiku mengalami depresi setelah aku melahirkan," pengakuan seorang istri

Ayah Juga Bisa Alami Depresi Postpartum

Bunda, kenali 4 tanda depresi paska melahirkan atau postpartum depression ini

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.

Penulis

Devi Yanty

app info
get app banner