Perubahan struktur otak perempuan pasca lahiran menyebabkan Bunda jadi mudah cemas

Perubahan struktur otak perempuan pasca lahiran menyebabkan Bunda jadi mudah cemas

Setelah melahirkan, perempuan tak pernah jadi pribadi yang sama lagi.

Hidupku berubah setelah punya anak adalah kalimat yang sering diucapkan dengan nada bangga oleh perempuan yang baru melahirkan anak pertamanya. Tentu saja hidup Ayah maupun Bunda, berubah setelah anak lahir. Tapi penelitian mengungkapkan lebih: melahirkan membuat otak perempuan berubah. Apa saja perubahan otak ibu pasca melahirkan?

Perubahan otak ibu pasca melahirkan

Entah melahirkan secara normal maupun mendapat rangsangan medis, perubahan yang terjadi sama saja. Kabar baiknya, perubahan ini adalah perubahan yang baik untuk ibu dan bayi.

Perubahan otak ibu pasca melahirkan #1 Struktur otak berbeda antara sebelum dan setelah melahirkan

Perubahan struktur otak perempuan pasca lahiran menyebabkan Bunda jadi mudah cemas

Dikutip dari The Atlantic, seniman Sarah Walker menggambarkan pengalaman menjadi ibu seperti “menemukan tiba-tiba ada ruangan baru di rumah yang kamu tempati”. Penggambaran yang indah dan tepat.

“Ruangan baru” itu tiba-tiba muncul karena begitu hamil, hormon kehamilan membuat perubahan struktur di bagian korteks prefrontal, otak tengah, dan lobus parietal.

“Aktivitas di bagian-bagian tersebut meningkat. Bagian-bagian itu merupakan pusat kotrol perasaan empati, cemas, dan interaksi sosial. Penyebab peningkatan aktivitas adalah banjir hormon selama kehamilan dan setelah melahirkan.

“Pada level paling dasar, perubahan ini membuat ibu tertarik pada bayinya. Dengan kata lain, perasaan keibuan berupa cinta, hasrat melindungi, dan selalu khawatir bisa ada berkat reaksi di otak ini,” tulis The Atlantic.

Perubahan otak ibu pasca melahirkan #2 Bagian abu-abu otak menyusut

Apakah saat proses melahirkan Anda merasa otak Anda menyusut? Sebab itulah yang terjadi. Setelah Anda melahirkan, area abu-abu otak (grey matter) mengerut. Bagian ini sebagian besar disusun oleh sel non-neuron bernama sel glial yang bertugas menyediakan nutrisi dan energi untuk sel neuron, membantu mengantar glukosa ke otak, membersihkan otak dari zat kimia sisa, dan beberapa peran penting lain.

Tim peneliti Scientific American yang memindai otak perempuan sebelum dan sesudah melahirkan untuk kali pertama mendapati, “ada perubahan besar di bagian otak yang mengatur fungsi kecerdasan sosial dan nalar pikir.” Bagian ini juga aktif ketika ibu melihat foto anak mereka.

Apa arti dari penyusutan ini? Sama sekali tidak buruk, tulis Wired. “Hipotesis sementara, penyusutan ini merupakan tanda bahwa otak mengasah sirkuit keibuannya. Peneliti tidak menemukannya pada otak bapak.” Yap, tentu saja.

Perubahan otak ibu pasca melahirkan #3 Cara ibu merasakan emosi, takut, cemas, dan serangan berubah

Perubahan struktur otak perempuan pasca lahiran menyebabkan Bunda jadi mudah cemas

Peneliti otak ibu, Pilyoung Kim, mengatakan kepada The Atlantic bahwa ada sejumlah bagian di otak yang “mengendalikan perilaku keibuan.”

Salah satunya bernama amygdala, “yang membantu memproses ingatan dan mengendalikan reaksi emosional seperti takut, cemas, dan menyerang.”

Aktivitas di amygdala berkembang di minggu hingga bulan-bulan awal setelah melahirkan. Ketika bagian otak ini semakin aktif, ibu akan merasa sangat sensitif terhadap kebutuhan dan keinginan bayi.

Proses di amygdala menciptakan “umpan balik positif yang memotivasi perilaku keibuan.” Ini memengaruhi bagaimana perasaan ibu kepada anak, cara ibu bicara dengan anak, dan cara ibu memberi perhatian.

Perubahan otak ibu pasca melahirkan #4 Otak ibu bekerja (terlalu) keras sepanjang waktu

Semua gara-gara aktivitas yang terjadi di amygdala. Efek jeleknya: ibu bisa mengalami kecemasan berlebih hingga depresi. Seberapa besar kecemasan dan depresi ini, tergantung pada kepribadian ibu dan perlakuan yang ia terima.

The Atlantic menulis, satu dari enam perempuan mengalami depresi postpartum. Mereka juga mengembangkan perilaku kompulsif seperti terus-terusan mengecek pernapasan bayi dan bolak-balik mencuci tangan.

“Ini yang kami sebut sebagai aspek dari… perilaku obsesif kompulsif selama beberapa bulan awal setelah melahirkan,” ujar Kim.

“Kami mendapati para ibu menjadi terus berpikir keras tentang hal-hal yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka terus memikirkan bayi mereka. Apakah bayinya sehat? Apakah bayinya sakit? Apakah bayinya sudah kenyang?”

Perilaku obsesif kompulsif ini terjadi karena ada hasrat sangat besar untuk merawat anak sebaik-baiknya. Ini terjadi pada hewan pula, kata Kim. Otak ibu yang baru melahirkan untuk kali pertama berubah, membuat ibu termotivasi merawat bayinya, tapi juga membuat emosi ibu tidak stabil.

Referensi: Romper

Baca juga:

Penelitian: Otak wanita lebih aktif dari pria sehingga mudah depresi

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner