TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Diare Berdarah? Hat-hati Amebiasis, Infeksi Parasit Usus yang Sebabkan Disenteri

Bacaan 4 menit
Diare Berdarah? Hat-hati Amebiasis, Infeksi Parasit Usus yang Sebabkan Disenteri

Amebiasis adalah salah satu kondisi tersering yang menyebabkan diare berdarah atau disenteri.

Amebiasis adalah infeksi parasit usus akibat protoza yang disebut Entamoeba histolytica. Gejalanya mencakup buang air besar (BAB) cair atau lembek, nyeri dan kram perut. Namun demikian, sebagian besar individu dengan amebiasis tidak mengalami gejala yang bermakna. 

Amebiasis umum terjadi di negara tropis dengan sanitasi yang terbelakang. Kondisi ini paling banyak ditemukan di subkontinen India, sebagian Amerika Tengah dan Selatan, dan sebagian Afrika. 

Gejala Amebiasis

Hanya 10 sampai 20 persen individu yang terinfeksi Entamoeba histolytica menjadi sakit.

Mereka yang betul menjadi sakit umumnya mulai bergejala dalam waktu 2-4 minggu atau lebih setelah terinfeksi. Gejala seringkali ringan dan mencakup tinja cair atau lembek, nyeri dan kram perut. 

Artikel terkait: Si Kecil Diare, Bun? Inilah 5 Rekomendasi Obat untuk Mengatasinya

Amebiasis

Infeksi yang lebih berat dinamakan dengan disenteri amoeba. Ciri utamanya, yakni:

  • BAB cair yang sering dan tinja bisa disertai darah, lendir atau nanah
  • Nyeri perut hebat
  • Demam dan menggigil
  • Mual dan muntah
  • Nyeri saat buang air besar
  • Kelelahan
  • Konstipasi yang hilang timbul

Gejala-gejala ini dapat dialami hingga beberapa minggu.

Kadang-kadang, parasit mampu menembus dinding usus, memasuki aliran darah, dan menyusupi berbagai organ dalam. Parasit dapat menginvasi organ hati dan membentuk abses—yakni kantong berisi nanah. Gejala yang timbul dapat berupa demam dan nyeri pada perut kanan atas. Pada kasus yang lebih jarang, parasit dapat menyebar ke organ jantung, paru, dan otak.

Amebiasis

Bila parasit berhasil menginvasi organ-organ lain di luar usus, maka penyakit menjadi sangat berat dan dapat memicu kematian.

Selain melalui gejala yang timbul, diagnosis amebiasis ditentukan melalui:

  • Riwayat kesehatan dan bepergian yang mendukung.
  • Analisis tinja untuk memeriksa keberadaan parasit Entamoeba histolytica. Oleh karena parasit ini tidak selalu ditemukan, Anda akan diminta untuk memberikan beberapa sampel tinja dari beberapa hari yang berbeda.
  • Pemeriksaan fungsi hati, ultrasonografi atau CT scan untuk melihat kelainan pada organ hati, terutama ada tidaknya abses hati. Abses hati menunjukkan infeksi berat dari amebiasis.
  • Kolonoskopi atau teropong usus besar untuk memeriksa keberadaan parasit di dalam organ ini.

Penyebab Amebiasis

Amebiasis disebabkan oleh parasit bersel tunggal (protozoa) yang dinamakan Entamoeba histolytica. Infeksi parasit ini dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja seseorang yang terinfeksi Entamoeba histolytica. Atau, menelan kista (telur) Entamoeba histolytica dari permukaan atau jari yang terkontaminasi.

Amebiasis

Kista adalah bentuk inaktif parasit amoeba yang dapat hidup selama beberapa bulan di dalam tanah, pupuk, atau air yang telah terkontaminasi tinja terinfeksi. Individu dapat menularkan kista saat menyiapkan atau mengelola makanan. Penularan juga dapat terjadi melalui seks anal, seks oral-anal, dan saat pembersihan (irigasi) usus besar.

Kista yang tertelan akan menetap di saluran pencernaan dan selanjutnya berubah menjadi bentuk aktif—disebut tropozoit—yang bersifat invasif. Tropozoit ini akan berkembang biak dan bermigrasi ke usus besar.

Di sini, mereka akan ‘melubangi’ dinding usus sehingga terjadi perlukaan dan peradangan yang mendasari timbulnya gejala diare berdarah, nyeri, dan kram perut. Berikutnya, individu yang terinfeksi dapat menyebarkan penyakit dengan melepaskan kista baru ke lingkungan melalui tinja yang dikeluarkan.

Risiko amebiasis paling tinggi pada individu-individu berikut:

  • Individu yang bepergian ke area tropis dengan sanitasi yang buruk
  • Imigran dari negara tropis dengan kondisi sanitasi yang buruk
  • Individu yang tinggal di insitusi dengan sanitasi yang buruk, seperti penjara
  • Pria yang berhubungan intim dengan pria lain
  • Individu dengan sistem kekebalan yang lemah dan kondisi kesehatan lainnya

Artikel terkait: Diare Saat Hamil, Berbahayakah bagi Janin dan Bumil?

Diare Berdarah? Hat-hati Amebiasis, Infeksi Parasit Usus yang Sebabkan Disenteri

Cara Mengobati Amebiasis

Pengobatan untuk kasus amebiasis tanpa komplikasi, yakni tanpa keterlibatan organ di luar usus, umumnya hanya membutuhkan obat tunggal metronidazole selama 10 hari. Bila diperlukan, dokter akan memberikan obat antimual.

Bila parasit telah merusak usus, seperti menimbulkan robekan (perforasi) dinding usus besar atau dinding perut (peritoneum), mungkin diperlukan pembedahan.

Diare Berdarah? Hat-hati Amebiasis, Infeksi Parasit Usus yang Sebabkan Disenteri

Amebiasis umumnya berespon baik terhadap pengobatan. Gejala akan berangsur-angsur menghilang dalam waktu sekitar 2 minggu.

Namun perlu diketahui bahwa parasit amoeba dapat terus hidup dalam tubuh manusia meski gejala telah hilang. Sewaktu-waktu, ketika sistem kekebalan tubuh melemah, gejala bisa muncul kembali.

Pada kasus yang lebih berat, di mana parasit menyebar ke organ dalam lainnya, respon dan keluaran pengobatan pun masih baik selama mendapatkan perawatan medis yang tepat. Namun, amebiasis yang tidak diobati dapat mematikan.

Baca juga :

id.theasianparent.com/diare-bakteri-dan-rotavirus

10 Cara Mempercepat Metabolisme Tubuh yang Aman dan Sehat, Dicoba, Yuk!

Acanthosis Nigricans: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan

Cerita mitra kami
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Si Kecil Mual Muntah Berulang? Tak Perlu Cemas, Dokter Spesialis Anak Selalu Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Kuningan
Si Kecil Mual Muntah Berulang? Tak Perlu Cemas, Dokter Spesialis Anak Selalu Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Kuningan
Bukan Hanya Gigitan - Biaya Tersembunyi Demam Berdarah untuk Keluarga di Indonesia
Bukan Hanya Gigitan - Biaya Tersembunyi Demam Berdarah untuk Keluarga di Indonesia
Kaum Sweet Tooth, Jangan Sampai Diabetes! Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya
Kaum Sweet Tooth, Jangan Sampai Diabetes! Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

dr. Fiona Amelia, MPH

  • Halaman Depan
  • /
  • Penyakit
  • /
  • Diare Berdarah? Hat-hati Amebiasis, Infeksi Parasit Usus yang Sebabkan Disenteri
Bagikan:
  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

  • 14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

    14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

  • Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Author Image

dr. Fiona Amelia, MPH

Medical Writer dengan pengalaman di dunia kesehatan digital selama 5 tahun terakhir. Dokter sekaligus ibu dari 2 putra ini memiliki passion yang kuat di dalam dunia parenting serta edukasi seputar kesehatan ibu dan anak. Menyukai travelling dan olahraga, khususnya bulutangkis dan bersepeda. Untuk kontak, email di [email protected] atau DM Instagram @amelifio.
  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

  • 14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

    14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

  • Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti