Pernakah Parents mendengar tentang apa itu batuk rejan pada anak?
Menjadi salah satu kondisi yang kerap bikin orang tua khawatir, yuk, baca penjelasan tentang batuk rejan lengkapnya di artikel ini.
Gulir sampai habis, ya!
Apa Itu Batuk Rejan pada Anak?
Batuk rejan atau pertusis adalah infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak dan bayi yang belum cukup usia untuk mendapatkan vaksin.
Seseorang dapat menderita batuk rejan sampai tiga bulan lamanya, sehingga penyakit ini dikenal dengan batuk seratus hari.
Penting bagi Parents mengetahui seperti apa gejala batuk rejan pada anak yang bisa mengancam nyawa.
Apa Penyebab Batuk Rejan pada Anak?
Penyebab batuk rejan pada anak adalah bakteri Bordetella pertussis yang menyebar melalui udara.
Bakteri ini masuk dan menyerang dinding saluran napas lalu melepaskan racun. Racun akan membuat saluran pernapasan membengkak, sehingga membuat penderitanya harus menarik napas dengan kuat dan memunculkan bunyi mendengking (whoop) yang panjang.
Apa Saja Gejala Batuk Rejan pada Anak?
Umumnya, gejala batuk rejan baru akan muncul seminggu setelah bakteri menginfeksi seseorang. Batuk rejan pada anak memiliki tiga tahapan atau gejala yaitu sebagai berikut:
- Tahap awal ditandai dengan gejala ringan seperti hidung berair, bersin, mata merah dan berair, radang tenggorokan, batuk ringan sampai demam. Fase ini berlangsung selama dua minggu dan sudah berisiko menularkan bakteri pada orang di sekitarnya.
- Tahap paroksismal. Tahapan dimana gejala flu mulai mereda tapi batuk justru bertambah parah. Di fase inilah batuk mulai keras dan muncul bunyi mendengking. Bayi dan anak akan mengalami muntah dan kelelahan karena batuk terus menerus. Biasanya fase ini bisa berlangsung hingga empat minggu.
- Masa penyembuhan. Gejala batuk rejan masih ada namun kondisi tubuh mulai membaik, tergantung pengobatan.
Pengalaman Orang Tua yang Anaknya Mengalami Batuk Rejan
Melansir akun facebook pribadinya, Dad Minus One menceritakan bagaimana batuk rejan pada anak membuatnya kehilangan buah hati tercinta.
“Hari ini menjadi penanda awal 5 hari menyeramkan yang mengubah hidupku.
Aku mengingat Jumat, 13 Maret 2015 dengan jelas. Pada 12 jam sebelumnya, seorang dokter datang untuk melihat anakku dan meyakinkan kami bahwa dia baik-baik saja dan hanya menderita batuk. Ucapan dokter itu cukup menenangkan aku, apalagi saat itu aku baru saja kembali dari Perth untuk urusan pekerjaan.
Aku ingat bangun tidur dengan panik pukul 6 pagi karena ingat anakku semalam tidak bangun untuk menyusu. Aku dan istriku berpandangan lalu berlari ke tempat tidurnya, bayi mungilku masih tertidur dan terlihat sesak. Kami membangunkannya, istriku mencoba menyusuinya namun dia tidak tertarik.
Kami sadar bukanlah hal normal saat bayi berusia 27 hari tidak ingin menyusu setelah tidur selama 7 jam dan kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Dokter dan perawat pun sepakat itu bukan perilaku normal dan memutuskan memonitor putra kami selama 24 jam,” demikian caption yang tertulis.
Jadi, Kapan Parents Harus Khawatir?
Terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan Parents membawa si Kecil ke dokter jika sudah menunjukkan gejala berikut ini:
- Bayi berusia 0-6 bulan yang tidak sehat dan mudah lelah
- Kesulitan bernapas
- Muntah
- Mengeluarkan bunyi saat bernapas
- Tubuh memerah bahkan membiru
- Timbul komplikasi serius, mulai kejang bahkan pneumonia
Bagaimana Cara Mencegah Batuk Rejan pada Anak?

Cara mencegah batuk rejan pada anak adalah dengan melakukan vaksin pertusis, mengingat penyakit ini sangat menular.
Biasanya dokter akan melakukannya bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polis dan Hib. Vaksin akan dilakukan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 1,5 sampai 2 tahun dan pada usia 5 tahun.
Vaksin ini aman dilakukan namun akan menimbulkan beberapa efek samping misalnya nyeri, kulit memerah dan pembengkakan pada area tubuh yang disuntik.
Anak biasanya akan demam dan lebih rewel dibanding biasanya. Vaksinasi pertusis sebaiknya juga dilakukan ibu hamil untuk melindungi bayi dalam kandungan. Lakukan saat usia kehamilan memasuki 28-38 minggu.
Komplikasi Batuk Rejan
Parents, pasien batuk rejan bayi dan anak-anak paling rentan untuk mengalami komplikasi. Untuk itu, jangan remehkan gejala apa pun yang timbul. Ini ragam komplikasi yang bisa terjadi:
- Napas tersengal
- Dehidrasi dan penurunan berat badan karena muntah berlebihan
- Pneomonia
- Tekanan darah menurun
- Kejang
- Kerusakan otak
- Gagal ginjal
Pada orang dewasa, batuk rejan bisa menimbulkan komplikasi tambahan:
- Memar atau retak pada tulang rusuk
- Herniat di perut
- Mimisan
- Infeksi telinga
- Pecahnya pembuluh darah di kulit atau area putih bola mata
- Sariawan
- Bengkak pada wajah
Jadi, Parents perlu waspada, ya. Bawa si Kecil segera ke dokter jika menemui gejala batuk tidak biasanya agar mendapat penanganan medis yang tepat.
***
Baca Juga:
Penyebab Bau Badan pada Anak dan Cara Mengatasinya, Wajib Tahu!
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Feses Bayi Berwarna Hitam, Waspadai Gangguan Kesehatan Ini
Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.