Pria 81 tahun ini selamatkan nyawa 2,4 juta bayi lewat donor darah

lead image

Berawal dari hutang budi, dia menyelamatkan nyawa jutaan bayi. Bagaimana kisahnya?

Seorang pria di Australia diperkirakan telah menyelamatkan kehidupan 2,4 juta bayi dengan cara mendonorkan darahnya. Mungkin dia adalah orang yang paling dalam merasakan manfaat donor darah.

James Harrison, kelahiran 27 Desember 1936, berniat menjadi donor darah setelah ia menjalani operasi dada di usia 14 tahun. Saat operasi, ia menerima 13 liter darah dari donor. Pengalaman mendapat manfaat donor darah yang menyelamatkan hidupnya,  membuat Harrison berjanji akan mendonorkan darahnya sebagai balas budi.

Memberikan manfaat donor darah dengan antibodi langka

Ia memulai donor darah pertamanya pada 1954, di usia 18 tahun. Kegiatan itu rutin ia lakukan. Sepuluh tahun kemudian, dokter mendapati ada antibodi langka yang sangat kuat di dalam darahnya. Antibodi bernama Anti-D. Anti-D inilah yang membuatnya menjadi penyelamat nyawa 2,4 juta bayi di Australia.

Sejak itu beralih rutin mendonorkan plasma darahnya.

Anti-D, antibodi untuk melawan penyakit eritroblastosis fetalis

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/janin.jpg Pria 81 tahun ini selamatkan nyawa 2,4 juta bayi lewat donor darah

Anti-D adalah antibodi yang dibutuhkan untuk membuat anti-D immunoglobin (Rh immunoglobin). Ini adalah obat yang dibutuhkan ibu hamil yang berisiko/sudah mengalami ketidakcocokan rhesus dengan bayinya. Kondisi demikian bisa mengancam nyawa bayi.

Semisal ibu memiliki darah rhesus + (positif) dan bayi rhesus – (negatif), tubuh ibu akan menganggap tubuh bayi sebagai benda asing yang harus dilawan.

Sistem imun ibu lalu memproduksi antibodi untuk merusak sel darah merah bayi. Kondisi ini disebut sebagai penyakit erythroblastosis fetalis (eritroblastosis fetalis).

Dampak dari eritroblastosis fetalis: bayi lahir dalam kondisi mengalami anemia hemolitik atau kekurangan sel darah merah. Kerusakan sel darah merah juga membuat bayi mengalami overproduksi bilirubin. Akibatnya, ketika lahir bayi tampak bengkak, pucat, atau kuning.

Risiko lainnya, bayi lahir dalam kondisi hidrops fetalis, yakni munculnya air di bagian tubuh yang seharusnya tidak ada air. Air bisa muncul di perut, jantung, dan paru-paru.

Berikut beberapa risiko yang mungkin terjadi ketika perbedaan rhesus antara ibu dan bayi tidak ditangani.

  • Kerusakan otak bayi
  • Masalah mental, motorik, pendengaran, dan kemampuan bicara bayi
  • Kejang-kejang
  • Gagal jantung
  • Kematian bayi

Artikel terkait: Saat bayi kuning, perlukah Bunda khawatir? Ini penjelasannya

Manfaat donor darah terbesar: menyelamatkan jiwa orang lain

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/blood donor 1544066141.jpg Pria 81 tahun ini selamatkan nyawa 2,4 juta bayi lewat donor darah

Salah satu pencegahan eritroblastosis fetalis ialah dengan menyuntikkan anti-D immunoglobin selama kehamilan. Tujuannya, agar imun ibu tidak menyerang sel darah merah bayi.

Di situlah peran anti-D yang terdapat dalam plasma darah Harrison menjadi penting.

“Setiap kantung darah berharga, tapi darah James luar biasa. Darahnya bisa menjadi obat yang menyelamatkan para ibu yang darahnya berpotensi mengancam janin mereka. Setiap batch Anti-D yang pernah dibuat di Australia dihasilkan dari darah James,” ujar Jemma Falkenmire dari Donor Darah Palang Merah Australia kepada CNN pada 2015.

“Lebih dari 17% perempuan di Australia berisiko, dan James menolong menyelamatkan banyak nyawa,” tambah Faklenmire.

Menurut data Donor Darah Palang Merah Australia, James Harrison diperkirakan telah menyelamatkan 2,4 juta bayi dengan darahnya.

Bahkan, putri Harrison sendiri adalah salah satu penerima Anti-D.

James Harrison yang dijuluki “Lelaki Berlengan Emas” baru berhenti mendonorkan darah di usia 81 tahun pada 18 Mei 2018. Selama lebih dari 60 tahun, ia rutin mendonorkan plasma darah saban. Total donor plasma darah yang ia lakukan sebanyak 1.173 kali.

Pensiunnya Harrison pun disebabkan oleh aturan pemerintah bahwa orang di atas 81 tahun tidak boleh berdonor. Di donor darahnya yang terakhir, sebuah acara digelar dengan dihadiri para orang tua yang pernah menerima Anti-D Immunoglobin.

“Ini hari yang menyedihkan buat saya. Akhir dari perjalanan panjang,” ujar Harrison sambil melakukan donor darah terakhirnya di Town Hall Donor Centre, Sydney.

Atas jasanya, pemerintah Australia menganugerahkan Medal of the Order of Australia pada 7 Juni 1999.

 

 

Baca juga: 

4 Kondisi ini membuat ibu hamil butuh transfusi darah, kenali risikonya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.