5 Efek Negatif yang terjadi jika Anak Melihat Orang Tua Bertengkar

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Ada efek negatif jangka panjang yang dialami jika anak melihat orang tua bertengkar. Pertimbangkan 5 dampak buruk ini sebelum bertengkar dengan pasangan demi masa depannya.

Dalam kehidupan pernikahan, beda pendapat dengan pasangan adalah hal yang biasa. Namun, jangan sampai anak melihat orang tua bertengkar di depannya karena dampak buruk yang terjadi benar-benar tak terhindarkan.

Bahkan, psikolog E. Mark Cummings, PhD dari Universitas Notre Dame menyatakan bahwa perkelahian orang tua bisa berdampak pada anak di segala usia. Soal perkelahian orang tua, tidak ada istilah bahwa anak tidak akan terdampak jika ia masih sangat kecil maupun sudah dewasa.

Berikut dampak buruk jika anak melihat orang tua bertengkar di depannya:

1. Rasa bersalah

Anak yang usianya lebih dewasa akan merasa bahwa dia bertanggung jawab atas terjadinya pertengkaran orang tua. Apalagi jika ia mengetahui bahwa sumber pertengkarannya ada hubungannya dengan anak.

Misalnya, tentang sekolah, rumah berantakan, maupun tingkah laku anak yang dianggap memicu pertengkaran orang tua. Anak akan membangun sensitifitas emosinya dengan suka menyalahkan diri sendiri dan tekanan emosional lainnya.

2. Perkembangan otak terganggu

Eamon McCrory, Ph.D., dari University College London mengatakan bahwa anak yang melihat orang tua bertengkar di depannya maupun melihat ibunya mengalami kekerasan dalam rumah tangga ternyata memiliki pola otak yang sama dengan tentara di medan perang.

Otak anak usia 11 tahunan akan terdampak pada bagian cerebellums kecil yang berhubungan dengan regulasi stres dan pengembangan sensorik.

Anak di bawah usia tersebut tidak dapat sepenuhnya memproses situasi sosial yang kompleks. Ledakan emosional bisa memberi kenangan negatif jangka panjang pada anak.

Artikel terkait: Kejadian traumatis pengaruhi perkembangan otak anak.

3. Depresi dan gangguan kecemasan

Anak yang melihat orang tuanya bertengkar akan sulit untuk memproses emosinya sehingga ia rentan mengalami depresi maupun gangguan kecemasan. Profesor C. Cybele Raver dari Universitas New York Steinhardt menyatakan bahwa dampak tersebut juga menyangkut neurobiologis, kognitif, dan perilaku anak.

Penelitiannya telah melibatkan  1025 anak usia 2  bulan sampai 58 bulan. Dalam penelitian tersebut, ia tak hanya mengkaji soal dampak negatif jika anak melihat orang tua bertengkar , namun juga keterkaitannya dengan kemiskinan.

4. Kepercayaan diri yang rendah

Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman dan aman untuk anak. Jika hal tersebut tidak didapatkan oleh anak, maka anak akan merasa bingung. Alih-alih sibuk membangun kepercayaan diri mereka, anak-anak akan sibuk untuk mewaspadai dunia sekitar mereka.

Saat ia dewasa nanti, ia juga akan takut untuk membangun kehidupan keluarganya sendiri. Apalagi jika saat mulai pacaran, dia juga mengalami kekerasan fisik, verbal, dan non verbal.

5. Rentan stres dan gampang sakit

Anak yang hidup dengan orang tua yang sering bertengkar cenderung akan lebih stres dan gampang sakit daripada anak-anak yang tinggal bersama keluarga yang hidup harmonis. Kualitas tidur yang buruk dan produksi hormon stres berupa cortisol ikut andil dalam lemahnya daya tahan tubuh anak.

Jika ingin anak memiliki mental yang sehat, ada baiknya orang tua menghindari pertengkaran di depan anak. Jika itu tak terhindarkan lagi, maka beri contoh pada anak penyelesaian masalahnya.

Jika anak melihat bagaimana orang tua menyelesaikan masalahnya, anak akan menjadikan orang tua contoh bahwa sekalipun seseorang beda pendapat, mereka tetap bisa hidup damai dan saling mencintai.

Orang tua yang memberikan penjelasan pada anak perbedaan pendapat mereka tentang sesuatu juga akan membuat anak tumbuh dengan pemikiran yang lebih dewasa. Karena ia akan belajar perspektif yang berbeda dan memperhatikan bagaimana jalan keluar dari masalah tersebut.

Namun, anak akan mengalami kebingungan jika orang tua justru meminta anak untuk berpihak ke salah satu dari mereka. Jika itu dilakukan, anak akan menumbuhkan kebencian di dalam dirinya, alih-alih belajar untuk meredam konflik yang ia hadapi.

Dibutuhkan kebijaksanaan orang tua dalam mengelola emosinya ketika sedang tidak akur dengan pasangan. Karena di situlah kunci pembentukan karakter anak, terutama yang berkaitan dengan kesehatan mentalnya.

Jika anak mengalami trauma karena pertengkaran orang tuanya, terapi psikologis akan dapat membantu mengurangi dampaknya di masa depan.

Bila perlu, hubungi Yayasan Pulih untuk konsultasi psikologis dan terapi penyembuhan trauma. Alamat Jl.Teluk Peleng 63A, Komp. TNI AL Rawa Bambu. Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telp: (021) 78842580.

 

 

Referensi: New Age Pregnancy, Parenting, Babble, Web MD

Baca juga:

Ini Dampak Psikologis Penggusuran pada Ibu dan Anak

 





Better Parenting