Kejadian Traumatis Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Kejadian Traumatis Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Peristiwa traumatik ternyata bisa mempengaruhi bentuk serta perkembangan otak anak. Akibatnya, anak akan dicekam rasa takut seumur hidupnya.

Dampak peristiwa kekerasan pada perkembangan otak anak

Sebuah laporan oleh University of San Diego School of Law menyebutkan ada sekitar 686 ribu anak menjadi korban kekerasan dan penelantaran di tahun 2013.

Berita ini tak bisa dianggap enteng karena peristiwa traumatik akan terekam dalam ingatan anak selamanya dan mengakibatkan gangguan perkembangan otak anak, serta kesehatan fisik maupun mental mereka.

Menurut Bessel Van Der Kolk, psikiater dan pengarang buku The Body Keeps The Score: Brain, Mind and Body in The Healing of Trauma, peristiwa traumatik juga dapat mengubah struktur fisik otak dan mempengaruhi cara berpikir anak.

Peristiwa buruk seperti bullying dapat mengganggu perkembangan otak anak.

Peristiwa buruk seperti bullying dapat mengganggu perkembangan otak anak.

Otak manusia adalah organ tubuh yang dibentuk berdasarkan hal-hal yang pernah dialami si manusia dan dibentuk untuk merespon segala kejadian yang dihadapinya.

Sedangkan peristiwa buruk yang pernah dialami anak seperti di-bully, pelecehan seksual, perkelahian, pertengkaran (dengan atau tanpa kekerasan) dan perceraian orangtua, perang, bencana alam, perampokan, dll ibarat racun mematikan bagi perkembangan otak anak.

Otak anak hanya akan memikirkan tentang cara melindungi dirinya sendiri dari bahaya, sehingga ia akan sangat mungkin mengalami gangguan dalam belajar, gangguan dalam memusatkan perhatian dan terjadi kekacauan dalam upayanya mengenal lingkungan di sekitarnya.

Saat dewasa, bisa jadi ia tidak akan memiliki kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri, atau merasakan kegembiraan.

 Akibat lain dari kejadian traumatis

Narkoba cenderung menjadi pelarian mereka yang mengalami kejadian traumatis di usia dini karena dianggap mampu memberikan efek menyenangkan, meski tidak selamanya.

Sementara yang lainnya mungkin akan memilih jalan untuk ‘menularkan’ rasa takutnya pada orang lain dengan menjadi pelaku kriminalitas atau tindak kekerasan.

Dampingilah anak yang baru saja mengalami peristiwa traumatik agar perkembangan otak anak kembali stabil.

Dampingilah anak yang baru saja mengalami peristiwa traumatik agar perkembangan otak anak kembali stabil.

Dengan memilih jalan ini ia juga secara tanpa sadar telah mewariskan rasa khawatir atau rasa takutnya kepada pihak lain. Rasa takut itu ia sebarkan ketika ia, misalnya, merampok seorang ibu yang sedang bepergian bersama anaknya, atau terlibat dalam perkelahian yang direkam, dipublikasikan oleh media televisi dan ditonton oleh anak-anak.

Demikian juga rasa takut yang dirasakan secara kolektif akibat bencana alam maha dahsyat juga akan diwariskan dari generasi ke generasi. Contohnya adalah sejumlah korban selamat dari Tsunami Aceh di tahun 2004 yang dikabarkan sempat mengalami trauma mendalam sehingga mereka takut mengunjungi pantai, bahkan sampai saat ini.

Dengan kata lain, kejadian traumatik yang tidak segera ditangani bukan hanya akan menjadi penghalang bagi perkembangan otak anak. Namun juga berpotensi merusak mental sebuah generasi dan beberapa generasi berikutnya.

Suatu bangsa, masyarakat atau komunitas mungkin tidak akan pernah mengalami kemajuan karena generasi penerus mereka masih larut dalam peristiwa buruk yang membayangi pikiran mereka.

Oleh karena itu, janganlah kita bosan atau putus asa mendampingi anak-anak yang pernah mengalami peristiwa traumatik untuk mengurangi dampaknya terhadap perkembangan otak anak.

Parents, uluran tangan Anda di saat anak-anak terjatuh secara psikis akibat peristiwa buruk akan sangat membantu anak untuk move on, kembali bangkit dan melanjutkan kehidupannya.

Cara menangani anak yang pernah mengalami peristiwa traumatik dapat Anda baca dalam artikel : Apakah Anak Saya Mengalami Trauma?

Referensi: Side Effects – Childhood Trauma Leads Brains Wired For Fear

Baca juga : Trauma Masa Kecil Pengaruhi Kesehatan Saat Dewasa

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner