Pelajari Gejala, Penyebab, dan Cara Merawat Anak yang ADHD

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Anak yang mengidap ADHD membutuhkan perawatan ekstra lebih dari yang lainnya. Dengan cinta dari orang tua, anak ADHD akan tetap bisa tumbuh dengan baik.

Anak yang mengidap ADHD (Attention Defisit Hiperactivity Disorder) sering mendapatkan stigma buruk dari lingkungan sekitarnya. Padahal, tanpa stigma tersebut, anak-anak telah mengalami hal yang berat dalam hal mengoontrol perilakunya sendiri.

Anak-anak dan orang dewasa di sekitarnya seringkali tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa duduk dengan tenang. Orang dewasa yang tidak mengerti cara menangani ADHD pun tak akan paham bahwa memaksa anak untuk diam dan tenang adalah siksaan tersendiri bagi anak yang mengidap ADHD

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah sebuah kelainan pada otak yang menyebabkan anak-anak sulit berkonsentrasi, tidak bisa mengendalikan reaksi spontan yang ia keluarkan. Termasuk gerakan badan, ucapan, tingkah laku dan caranya memberikan perhatian pada sesuatu.

Kelainan ini menimpa 10% populasi anak di Amerika Serikat, atau sekitar 5 juta anak usia 3 hingga 18 tahun mengidap ADHD. ADHD bisa memicu masalah di rumah dan di sekolah, juga mempengaruhi kemampuan anak-anak dalam belajar dan bergaul.

Ada tiga jenis ADHD:

1. Inattentive (gagal fokus)

Anak susah memberikan perhatian pada hal-hal di sekelilingnya. Tapi dia tidak bersikap hiperaktif atau impulsif. Jenis ini biasa disebut ADD (Attention Deficit Disorder).

Anak dengan ADD cenderung pendiam sehingga gejala yang ia alami tidak terlihat. Biasanya orang sering salah mengira bahwa anak ini bodoh atau malas.

2. Hiperaktif dan Impulsif

Anak yang mengidap ADHD biasanya selalu bersikap hiperaktif dan impulsif terhadap segala hal, namun ia tetap bisa memberikan perhatian pada hal-hal di sekitarnya. Ia tak perlu berpikir dua kali untuk melakukan apapun.

3. Kombinasi dari hiperaktif, impulsif dan inattentive.

Jenis ini adalah yang paling sering ditemukan pada anak pengidap ADHD. Anak memperlihatkan semua gejala ADHD sehingga mudah dideteksi.

Bacaan terkait: Mitos seputar anak ADHD maupun Hiperaktif.

Gejala

Jika anak tidak bisa bertingkah laku sesuai yang anda perintahkan, bukan berarti anak tidak mau melakukannya. Bisa jadi itu disebabkan oleh ketidakmampuannya mengontrol apa yang ia ucapkan dan lakukan.

Beberapa tingkah laku anak berikut ini bisa menjadi tanda bahwa dia menderita ADHD.

  • Bergerak secara konstan
  • Selalu menggeliat dengan gelisah
  • Terlihat tidak mendengarkan apa yang anda katakan
  • Memiliki masalah untuk bermain dengan tenang
  • Sering bicara berlebihan
  • Memotong pembicaraan orang lain
  • Mudah terganggu konsentrasinya
  • Tidak menyelesaikan tugas yang diberikan

Jika anak anda menunjukkan gejala-gejala tersebut, sebaiknya anda segera memeriksakannya ke dokter. Dokter akan memeriksa semua gejala yang ditunjukkan oleh anak.

Gali lebih dalam gejala yang ditunjukkan oleh anak dari sumber yang berbeda, misalnya seperti guru dan teman di sekolah. Hal ini agar anak bisa mendapatkan diagnosa yang tepat.

Penyebab

Umumnya, anak tidak dilahirkan dengan kelainan ini. Anak yang mengidap ADHD adalah mereka yang memiliki penyakit psikologis yang disebabkan oleh sesuatu hal yang membuat anak mengalami shock hingga mengalami gpsikologisnya terganggu.

Berikut ini beberapa penyebab seorang anak mengalami ADHD.

  1. Perubahan mendadak dalam hidup anak. Contohnya perceraian orang tua, kematian anggota keluarga, atau pindah tempat tinggal)
  2. Anak pernah mengalami kejang-kejang yang tidak diketahui oleh orang tua. Ini bisa terjadi saat anak sedang sendirian di dalam rumah atau sedang bermain bersama temannya.
  3. Depresi juga bisa menyebabkan ADD.
  4. Kegelisahan atas suatu hal yang mengganggunya membuat anak tak bisa mengontrol apa yang diucapkan dan dilakukan hingga membuatnya mengidap ADD dan bersifat impulsif.
  5. Bipolar Disorder maupun adanya kecenderungan untuk berkepribadian ganda

Bacaan terkait: Tentang Bipolar Disorder

Cara Mengobati

ADHD berpotensi menyebabkan masalah dalam kehidupan pergaulan anak, sehingga harus segera ditangani. Anak yang mengidap ADHD cenderung dianggap sebagai pengganggu, pembuat onar, berisik, malas, bodoh, dan sebagainya.

Meski tidak ada obat yang bisa menghilangkan ADHD secara menyeluruh, tapi anda bisa menggunakan metode ini untuk mengurangi gejala ADHD dan menjalani kehidupannya dengan lebih baik.

  1. Obat-obatan yang bisa membantu anak menjadi lebih fokus, mengatasi kesulitan dalam belajar dan membantu anak tetap tenang. Beberapa obat memiliki efek samping seperti susah tidur atau sakit perut, karena itu harus melalui pengawasan dokter yang ketat saat anak anda mengkonsumsi obat.
  2. Terapi psikologi yang bisa membantu anak memperbaiki tingkah lakunya di rumah dan di sekolah
  3. Campuran antara terapi psikologi dan obat-obatan. Meski diakui bahwa banyak anak yang berhasil mengatasi ADHD dengan terapi dan obat-obatan, anda tetap harus memberinya pengawasan ketat agar tidak muncul efek samping yang lebih buruk.
  4. Melatih anak untuk melatih kemampuannya bergaul juga bisa membantu anak mengembangkan dan mempertahankan hubungan pergaulannya dengan masayarakat.
  5. Melatih kemampuan parenting orang tua dalam menghadapi anak yang mengidap ADHD. Bisa dilakukan dengan support group atau meminta nasihat dari ahli psikologi anak.

Selain obat-obatan dan terapi psikologis, anda juga harus sering melatihnya di rumah. Anak lebih cepat merespon pengobatan saat ia tahu bahwa ia tidak berjuang sendirian.

Jangan khawatir soal masa depan anak yang memiliki ADHD. Ada banyak orang sukses yang memiliki ADHD namun tetap berprestasi.

Misalnya, Walt Disney (penemu Disney Land dan pencipta kartun-kartun Disney kesukaan anak-anak), John F Kennedy (presiden Amerika ke 35), dan sang genius Albert Einsten. Pebasket terkenal Michael Jordan dan penyanyi Justin Timberlake pun punya ADHD.

Jika anda adalah orang tua dengan anak yang mengidap ADHD, maka Anda harus ekstra sabar dalam menghadapinya dan menghujaninya dengan cinta. Parents juga harus bisa mengontrol emosi agar tidak membuat anak merasa tertekan dengan keadaannya sendiri.

Referensi: helpguide.org, webmd.com, childdevelopmentinfo.com, Elite Daily.

Baca juga:

Mengapa Anak Tak Suka Belajar?

Dapatkan info Terkini Seputar Dunia Parenting

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting Usia Sekolah