Gangguan pendengaran pada anak, begini cara mendeteksinya sejak dini

lead image

Bagaimana cara mendeteksi gangguan pendengaran pada anak?

Gangguan pendengaran pada anak bisa sangat berbahaya. Hal ini karena gangguan pendengaran dapat mempengaruhi perkembangan bahasa, berbicara hingga kemampuan kognitif anak.

Dilansir dari Web MD, Sebagian besar anak-anak dengan gangguan pendengaran dilahirkan dari orangtua dengan pendengaran normal. Itu berarti seluruh keluarga mungkin harus banyak belajar mengenai cara berinteraksi dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran.

Faktor risiko gangguan pendengaran pada anak

gangguan pendengaran pada anak

Dokter Hably Warganegara, Sp. THT-KL, MARS, Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher yang berpraktik di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan anak menderita gangguan pendengaran bawaan lahir (konginital). Apa saja?

  • Riwayat Kehamilan ibu

  1. Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran sejak masa anak-anak
  2. Riwayat infeksi TORCHS (Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus, Herpes. Sifilis) pada kehamilan
  3. Penggunaan obat ototoksik pada ibu hamil
  • Riwayat Kelahiran

  1. Berat badan lahir rendah (kurang dari 1500 gram)
  2. Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar darah
  3. Asfiksia dengan nilai Apgar score 0-4 pada menit pertama atau 0-6 pada 5 menit
  4. Penggunaen ventilasi mekanik selama 5 hari atau lebih
  5. Kelainan bentuk pada kepala dan wajah, termasuk kelainan pada daun telinga dan liang telinga
  6. Terdapat kelainan lain yang merupakan sindrom tertentu yang diketahui melibatkan gangguan pendengaran sensorineural atau konduktit
  7. Menderita meningitis bakterialis.

Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak

gangguan pendengaran pada anak

Hably menyatakan ada beberapa cara untuk mengetahui bayi memiliki gangguan pendengaran konginital (bawaan lahir), yaitu dengan mengamati respon bayi terhadap suara. Bayi 0-1 bulan yang pendengarannya normal akan melakukan beberapa hal ini jika mendengar suara:

  1. Refleks moro (bayi kaget)
  2. Grimacing (mengerutkan wajah)
  3. Berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat
  4. Bernapas lebih cepat
  5. Ritme jantung lebih cepat.

Jika bayi tidak menunjukan respon apapun saat mendengar suara, sebaiknya Parents langsung memeriksakannya ke dokter.

Bayi baru lahir baiknya menjalankan tes OAE untuk menilai pendengarannya

gangguan pendengaran pada anak

Otoacoustic emissions (OAE) adalah alat untuk mengukur getaran suara dalam liang telinga yang dihasilkan dari getaran sel rambut pada telinga bagian dalam. Sel rambut berfungsi sebagai amplifier (penguat) suara untuk dihantarkan ke saraf-saraf pendengaran sehingga terjadi proses pendengaran.

Prosedur pemeriksaan OAE ditujukan untuk bayi baru lahir guna mendeteksi pendengaran awal pada bayi. Prosedur pemeriksaan OAE dilakukan menggunakan sebuah alat kecil seperti headset yang dimasukkan ke dalam liang telinga.

Alat kecil tersebut akan mengeluarkan bunyi halus yang direspon oleh sel rambut dan dipantulkan ke dalam liang telinga, kemudian ditangkap oleh mikrofon mini. Tes ini biasanya berlangsung kurang dari 30 menit. Berikut keunggulan lain OAE:

  • OAE mendeteksi kelainan awal pendengaran pada anak karena pemeriksaannya yang cukup mudah
  • Tidak menyakitkan
  • Anak tidak perlu ditidurkan
  • Tidak memerlukan obat-obatan khusus
  • Hasilnya tidak dipengaruhi oleh fungsi otak lain seperti kemampuan kognitif, perilaku anak, sikap dan motivasi anak
  • Pemeriksaan OAE juga dapat menilai fungsi telinga kiri dan kanan karena hasilnya tidak dipengaruhi oleh fungsi telinga lainnya.

 

Baca juga:

Bayi sering menggaruk telinga? Waspada tanda infeksi telinga

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.