TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak

3 Jan, 2015

Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak bisa diketahui sejak bayi baru lahir. Apa saja langkahnya?

Deteksi dini gangguan pendengaran anak

Deteksi dini gangguan pendengaran anak

Gangguan pendengaran pada anak merupakan kelainan yang paling sering ditemui pada bayi baru lahir. Menurut sebuah penelitian, 3 dari 1000 anak yang lahir terdeteksi menderita tunarungu.

Ada beberapa faktor penyebab gangguan pendengaran pada bayi. Sebaiknya deteksi dilakukan sejak dini sehingga langkah penanganannya pun dapat dilakukan sejak usia dini pula.

1. Mengenali faktor risiko

1. Mengenali faktor risiko

Deteksi dini gangguan pendengaran idealnya dilakukan pada setiap bayi baru lahir oleh tim medis yang membantu persalinan.

Tes ini sangat penting terutama bagi bayi yang lahir dengan beberapa faktor risiko, seperti:

bila ada yang bisu dan/atau tuli di dalam keluarga pernah terjadi infeksi di masa kehamilanriwayat eklampsia pada masa kehamilan persalinan patologis persalinan dengan bantuan alat seperti vacuum bayi lahir tidak segera menangis dan gangguan lainnya.
2. Pemeriksaan OAE

2. Pemeriksaan OAE

Pemeriksaan gangguan pendengaran bisa dilakukan dengan penggunaan peralatan medis, dan tahap pertamanya adalah pemeriksaan OAE (Oto Acoustic Emissions).

Pemeriksaan ini merupakan teknik pemeriksaan rumah siput (kohlea) berdasarkan prinsip elektrofisiologik.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan sehat tidaknya rumah siput yang berperan sebagai sensor bunyi dari luar. Biasanya pemeriksaan OAE dilakukan pada saat bayi baru lahir. Tingkat sensitivitas metode pemeriksaan OAE mencapai 100%.

3. Screening

3. Screening

Screening merupakan cara deteksi gangguan pendengaran secara sederhana melalui pengamatan terhadap respon bayi yang berusia di bawah 1 bulan. Respon yang diamati misalnya reflek mengerjapkan mata (reflek auropelpebral), ritme detak jantung, reflek saat menyusu (cessation reflek), ekspresi wajah (grimacing) dan reflek ekstrim lain yang bisa ditengarai dari perubahan bayi saat diberikan suara agak keras.

Pengamatan masih tetap diperlukan hingga tahap perkembangan bayi sampai usia 3 bulan, sebab secara umum pada usia tersebut, mereka telah menunjukkan kemampuan seperti mengoceh, tertawa, dan memperlihatkan reaksi saat mendengar suara keras.

4. Pemeriksaan AABR

4. Pemeriksaan AABR

Pemeriksaan lanjutan gangguan pendengaran dilakukan dengan metode AABR (Automatic Auditory Brain Response). Metode ini menggunakan stimulus bunyi melalui tranduser ke dalam liang telinga yang secara otomatis diinterpretasi oleh komputer.

Pemeriksaan ini seringkali menjadi tahap lanjutan dari pemeriksaan OAE dan dilakukan saat bayi berusia 1-3 bulan.

5. Pemeriksaan BERA

5. Pemeriksaan BERA

Pemeriksaan BERA (Branstem, Evoked, Response, Audimetry) umumnya dilakukan pada bayi yang dicurigai mengalami gangguan pendengaran setelah melakukan pemeriksaan awal ataupun memiliki tanda-tanda seperti terlambat bicara, anak dengan gangguan sifat dan tingkah laku (autisme), dan bayi/ anak dengan cacat ganda (sindroma).

Bila dari tes BERA diketahui adanya kelainan, bayi disarankan mengikuti tes pendengaran yang lebih detail. Usia bayi tidak lebih dari 3 bulan ketika dia melakukan tes lanjutan. Evaluasi ini dapat menentukan jenis dan penyebab gangguan pendengaran, sehingga bisa ditentukan penanganan yang tepat.

6. Pemeriksaan Timpanometri

6. Pemeriksaan Timpanometri

Tahapan selanjutnya berupa pemeriksaan Timpanometri. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengamati kemampuan telinga tengah dan fungsi tuba Eustachius. Pada pemeriksaan yang dilakukan pada bayi di bawah 6 bulan digunakan metode timpanometri frekuensi tinggi.
7. Pemeriksaan AASR

7. Pemeriksaan AASR

Tahapan terakhir untuk pemeriksaan gangguan pendengaran adalah ASSR (Auditory Steady State Response). Pemeriksaan ini untuk mengetahui informasi ambang pendengaran anak pada frekuensi tertentu.

Dari pemeriksaan ini dapat dirumuskan analisa audiometri yang dijadikan dasar untuk fitting alat bantu dengar serta mengetahui prosentase pendengaran yang masih ada sebagai pertimbangan untuk implant kohlea.

8. Habilitasi

8. Habilitasi

Jika dari rangkaian pemeriksaan gangguan pendengaran di atas, bayi kita dikatakan positif menderita gangguan pendengaran, maka langkah selanjutnya adalah melakukan habilitasi. Habilitasi ini bisa berupa pemasangan alat bantu dengar ataupun dilakukan implant kohlea.

Mengenai habilitasi yang tepat, tentunya akan dilakukan oleh pihak medis setelah mempelajari hasil analisa dari rangkaian pemeriksaan sebelumnya.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

Selanjutnya
img

Penulis

Tyas

  • Halaman Depan
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak
Bagikan:
  • Cara Mengatasi Anak Demam di Malam Hari, Parents Perlu Tahu!

    Cara Mengatasi Anak Demam di Malam Hari, Parents Perlu Tahu!

  • Cara Memastikan Air Minum Aman Dikonsumsi, Perhatikan Hal Ini!
    Cerita mitra kami

    Cara Memastikan Air Minum Aman Dikonsumsi, Perhatikan Hal Ini!

  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

  • Cara Mengatasi Anak Demam di Malam Hari, Parents Perlu Tahu!

    Cara Mengatasi Anak Demam di Malam Hari, Parents Perlu Tahu!

  • Cara Memastikan Air Minum Aman Dikonsumsi, Perhatikan Hal Ini!
    Cerita mitra kami

    Cara Memastikan Air Minum Aman Dikonsumsi, Perhatikan Hal Ini!

  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti