Kata Psikolog: 5 Cara Mendisplinkan Anak yang Salah dan Sering Disesali Orangtua

Kata Psikolog: 5 Cara Mendisplinkan Anak yang Salah dan Sering Disesali Orangtua

Kebutuhan untuk mendisiplinkan anak sering membuat orangtua salah langkah. Dan justru malah mengekang kebebasannya menjadi anak kecil. Yuk simak apa saja cara mendisiplinkan anak yang salah menurut psikolog berikut ini.

Orangtua pastinya ingin anak memiliki perilaku baik, sehingga tidak akan membuat malu nama orangtua. Karena itulah, orangtua menetapkan aturan untuk mendisiplinkan anak. Namun, ada cara mendisiplinkan anak yang salah, hingga membuat orangtua menyesal melakukannya.

Dr. Ross Greene, seorang Psikolog Klinis yang berpengalaman 30 tahun menangani anak-anak dan keluarga. Ia menyatakan, jika anak mau berperilaku baik, maka mereka pasti bisa melakukannya.

Dr. Greene mengungkapkan, setidaknya ada 5 kesalahan yang dilakukan orangtua dalam mendisiplinkan anak. Seperti dikutip oleh Popsugar.

1. Mendisiplinkan anak saat dia bertingkah normal

Anak-anak, tanpa sadar sering membuat orangtua mereka kesal. Karena mereka terlalu asyik menjadi anak-anak. Orangtua kerapkali kehilangan emosi jika anak membuat suara berisik yang mengganggu, atau berlarian di dalam rumah hingga menghilangkan konsentrasi.

Akhirnya, anak-anak pun kena marah, atau bahkan dipukul. Padahal mereka tidak berbuat salah, mereka melakukan hal yang normal dilakukan anak seusia mereka.

Hal seperti ini sering membuat para orangtua kemudian menyesalinya. Sebab emosi berlebihan bisa membuat anak menangis, dan membuat mereka tidak lagi bebas menjadi diri sendiri, karena takut dimarahi.

Artikel Terkait: 5 Cara Mendisiplinkan Anak-anak Tanpa Harus Memukulnya

2. Berteriak atau membentak anak

Berteriak atau membentak adalah tanda sebuah kelelahan mental, yang bisa menimpa anak maupun orangtua. Ingatlah, betapa sering Anda membentak anak karena dia tidak sabar akan sesuatu, atau berteriak padanya ketika ia terlambat melakukan perintah Anda.

Meski saat Anda melakukannya dengan niat untuk mendisiplinkan anak, sering terbersit rasa bersalah karena membentak dan berteriak pada anak. Apalagi hal tersebut juga bisa membuat anak takut pada orangtuanya.

Artikel Terkait: “Tolong Jangan Berteriak Padaku” Surat Curahan Hati Anak pada Orangtuanya

Walaupun kelihatannya berteriak atau membentak adalah cara tercepat agar anak menurut, namun sesungguhnya kita justru sedang menerapkan teknik pendisiplinan yang salah. Berteriak adalah salah satu tanda bahwa kita tidak menghormatinya, maka lama kelamaan rasa hormat anak pada orangtua akan berkurang karena hal tersebut.

Artikel Terkait: 10 Cara Sederhana Agar Tak Perlu Berteriak Pada Anak

3. Menjadi orangtua yang tidak konsisten

Orangtua seringkali berbohong pada anak-anak demi menyenangkan mereka. Sehingga orangtua kerap menetapkan aturan yang kemudian dilanggarnya sendiri. Hal ini membuat orangtua tidak terlihat konsisten di mata anak.

Perubahan aturan dan ucapan yang dilakukan orangtua, akan membuat anak lebih susah untuk diatur. Karena ia akan menganggap bahwa orangtua tidak pernah serius dengan ucapan maupun perbuatannya. Anak juga akan selalu bergantung pada perubahan sikap orangtua untuk meneruskan tingkah nakalnya.

Orangtua memang sering tidak tega, sehingga membatalkan hukuman yang tadinya dijatuhkan pada anak. Atau membatalkan janji yang sudah disepakati. Namun hal ini juga bisa menimbulkan penyesalan di kemudian hari, ketika anak semakin susah diatur karena orangtuanya tidak konsisten.

4. Bersikap sama rata saat mendisiplinkan anak

Bila Anda memiliki lebih dari satu anak, tentunya menerapkan satu aturan berlaku untuk semua anak tidaklah tepat. Karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda, sehingga reaksi mereka terhadap aturan disiplin dari orangtua juga berbeda.

Ada anak yang acuh tak acuh, sehingga berapakali pun dimarahi dia tetap mengulangi kenakalannya. Namun ada pula anak yang lebih sensitif yang akan menjadi sedih hanya dengan mendapati orangtuanya melotot kepadanya, meski tak berbicara apa-apa.

Jangan sampai Anda menyesal karena menyamaratakan anak seperti ini. Kenali karakter masing-masing anak, sehingga Anda akan tahu cara yang tepat mendisiplinkan masing-masing anak. Tanpa harus menyesal di kemudian hari.

5. Menjadikan hukuman sebagai teknik mendisiplinkan anak

Sering terjadi, orangtua membuat kesalahan ini. Menerapkan disiplin dengan memberi hukuman, atau menjadikan hukuman sebagai cara mendisiplinkan anak. Padahal keduanya sangat jauh berbeda, dan orangtua yang baik harus memahami betul perbedaan ini.

Hukuman, adalah cara yang dilakukan orangtua untuk menghentikan salah satu perilaku anak yang dianggap tidak baik. Saat anak mencuri misalnya, maka orangtua akan memberi hukuman agar anak tidak lagi mencuri.

Sedangkan disiplin, adalah teknik yang digunakan oleh orangtua untuk mengarahkan anak kepada perilaku yang lebih baik dari sebelumnya. Contohnya, anak Anda termasuk tipe yang sangat aktif, sehingga sering membuat rumah berantakan.

Untuk mendisiplinkannya, Anda sebagai orangtua mengarahkan energi aktifnya ke arah yang lebih positif. Seperti mengikutkannya ke kegiatan ekstrakurikuler, atau mengajaknya berkebun dan membersihkan rumah, sehingga energi aktif anak tersalurkan.

Artikel Terkait: Apakah Perbedaan Menghukum dan Mendisiplinkan Anak

***

Mari jadi orangtua yang lebih baik, dan hindari membuat kesalahan yang akan disesali oleh diri kita sendiri.

Semoga informasi ini bermanfaat ya, Parents.

 

Baca juga:

6 Tips Terbaik Agar Anda Sukses Mendisiplinkan Anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Fitriyani

app info
get app banner