7 Tips Melindungi Anak dari Pelecehan Seksual Menurut Dokter Anak yang Juga Seorang Ibu

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Seorang dokter anak Tobi Adeyeye Amosun, yang juga seorang ibu mengungkapkan cara melindungi anak dari pelecehan seksual, berdasarkan kasus-kasus yang pernah ditanganinya.

Dr. Tobi Adeyeye Amosun adalah seorang ibu sekaligus dokter anak yang telah menangani banyak kasus pelecehan seksual pada anak-anak. Dia membagikan cara melindungi anak dari pelecehan seksual pada status Facebook-nya.

Pada postingan yang ia terbitkan di tanggal 3 Agustus 2016 ini, ia mengungkapkan beberapa hal penting mengenai pelecehan seksual terhadap anak yang sering luput dari perhatian orangtua. Statusnya tersebut telah dibagikan lebih dari 1000 kali oleh pengguna Facebook.

Dr. Tobi Amosun mengaku, dia menerima 1-2 pasien setiap bulan yang telah mengalami pelecehan seksual atau menjadi korban pencabulan. Dia menggarisbawahi beberapa skenario yang banyak terjadi pada kasus pelecehan seksual terhadap anak.

1. Tempat terjadinya pelecehan seksual adalah tempat yang familiar

Tempat-tempat terjadinya pelecehan seksual ini, biasanya diketahui oleh anggota keluarga, atau teman keluarga. Usia pelaku berkisar dari remaja hingga orang dewasa. Hampir selalu pelakunya adalah sepupu lelaki, tetangga dekat, teman kakak, teman dari sepupu, pengasuh, ayah kandung, ayah tiri, paman, atau kekasih  si ibu. 

Kelompok remaja dalam kegiatan spiritual adalah lokasi nomor dua, biasanya karena di sana kurang adanya pengawasan orangtua. Sekolah, tempat berkemah, tempat olahraga, dan tempat lainnya. Tapi jarang terjadi kecuali ada anak yang diijinkan sendirian bersama guru atau pelatih.

Tanyakanlah pihak sekolah, para pelatih dan pemuka agama tentang rencana mereka untuk melindungi anak-anak. Itu takkan pernah sempurna, namun saya merasa setidaknya mereka tahu dan memperingatkan orangtua sehingga semuanya bisa memberikan bantuan.

2. Pesta menginap di rumah teman

Saya ingin menyebutkan hal ini secara terpisah, karena hal ini menyangkut isu yang sensitif.

Saya mengijinkan putri saya untuk menginap di rumah beberapa teman (sekitar 5 teman). Namun, tidak pernah ia saya ijinkan menginap di rumah orangtua yang tidak saya kenal dengan baik, sehingga ia tidak bisa menginap di rumah teman-teman sekolahnya. 

Dia juga tidak saya ijinkan untuk mengikuti pesta menginap yang diikuti banyak orang, dimana jika satu orang anak terpisah tidak akan diketahui.

Saya sudah banyak mendengar orangtua pasien memberitahu, bahwa anak mereka disentuh secara tidak sopan atau pertamakali melihat pornografi saat acara menginap.

Saya hanya memiliki kesempatan satu kali untuk membesarkan anak, dan saya lebih memilih menjadi orangtua yang jahat dibanding harus menghadapi kemungkinan lain yang lebih buruk.

3. Gunakan sebutan yang tepat untuk menyebut anggota tubuh

Mata adalah mata, lutut adalah lutut, dan penis adalah penis. jangan menggunakan nama yang dibuat-buat agar terlihat lucu, atau malah menyamarkan maknanya. Seperti burung, anu, kemaluan, atau istilah lainnya.

Hal ini akan membuat anak kebingungan menyebut apa yang dilakukan pelaku pada anggota tubuhnya, saat sesuatu terjadi dan perlu dilaporkan. Pemberian istilah yang samar pada anggota tubuh membuat stigma negatif terhadap bagian tubuh tersebut.

4. Sentuhan aman vs sentuhan nakal. Pastikan anak mengetahui perbedaannya

Sentuhan yang aman biasanya adalah sentuhan yang diberikan pada area dimana tidak ditutupi oleh baju renang atau handuk. Seperti bahu, kepala, dan kaki. Sentuhan yang aman juga memberikan rasa tenang dan nyaman, seperti pelukan seorang ibu.

Sentuhan nakal dilakukan pada area yang ditutupi oleh pakaian dalam. Sentuhan ini juga membuatmu merasa gugup, takut atau cemas dan khawatir. Jika orang yang lebih besar menyentuhmu di tempat yang membuatmu merasa tidak nyaman, itu artinya sentuhan berbahaya.

Selalu katakan pada orangtuamu atau orang dewasa lain jika kamu menerima sentuhan nakal. Dan biarkan anak mengetahui bahwa seharusnya tidak ada rahasia antara anak-anak dan orang dewasa.

Anak-anak juga harus tahu bahwa mereka TIDAK AKAN PERNAH mendapat masalah jika memberitahu seseorang.

Artikel terkait: Parents, Cetak Kartu Keamanan Tubuh Anak Ini Sebagai Upaya Mencegah Kekerasan Seksual Terjadi Padanya

5. Memberitahu bahwa tidak semua orang dekat itu baik

Sebagian besar pelaku yang melakukan pencabulan anak dikenal oleh keluarga korban. Waspadalah saat anak mulai suka berdandan. 

Anak suka berdandan biasanya karena dipengaruhi oleh orang dewasa yang telah mengambil hatinya, mereka juga mengambil hati keluarga si anak untuk menurunkan tingkat pertahanan diri mereka.

Biasanya mereka akan mencoba membangun hubungan yang penuh kepercayaan dengan keluarga, dan mencari kesempatan untuk bisa sendirian bersama anak-anak. Mereka melakukannya sehingga semua tuduhan yang dilontarkan oleh anak terkesan dibuat-buat.

Hal ini terjadi hampir di semua kasus yang pernah saya lihat.

6. Waspadalah jika anak melihat ponsel pintar atau tablet

Ketika anak mulai menggunakan ponsel pintar atau gawai lain terlalu sering dengan posisi yang sangat dekat, Anda harus waspada.

Saya biasanya memberitahu setiap orangtua yang memiliki anak usia pra remaja atau diatasnya untuk selalu memeriksa hal tersebut, selama orangtua masih membayar pulsa dan anaknya berusia dibawah 18 tahun. 

Hal ini merupakan tanggung jawab orangtua untuk mengawasi kegiatan anak di media sosial, sms, dan lainnya. Ada banyak sekali cara-cara pintar yang anak lakukan untuk menyembunyikan aktifitas daringnya, dan orangtua hampir selalu terkecoh dengan taktik anaknya.

7. Yang paling penting, percayai instingmu

Jika seseorang menunjukkan sikap baik yang berlebihan pada anak, percayalah pada instingmu dan jauhkan anak dari situasi yang mungkin membuat mereka harus sendirian bersama orang mencurigakan tersebut.

Kita semua pernah berada dalam situasi dimana kau ingin bersikap ramah, bahkan pada orang yang membuatmu takut.

Saya tidak mengunci anak saya terus-terusan di dalam kamar, meskipun saya ingin melakukan hal itu agar bisa melindungi dia selamanya.

Tetapi, inilah tips yang bisa dipraktekkan sebagai orangtua dan dokter anak, untuk membuat anak-anakmu merasa aman serta bisa mendeteksi potensi situasi berbahaya sejak dini.

Omong-omong, saya memulai semua pembicaraan tentang hal ini di rumah ketika anak saya berumur 3 atau 4 tahun.

Dr. Tobi memberikan tips-tips ini tidak hanya sebagai dokter yang telah menangani kasus-kasus pelecehan seksual pada anak, namun juga sebagai seorang ibu yang merasa khawatir anaknya akan menjadi korban.

Mari lebih waspada dalam mengawasi setiap orang di sekitar anak kita, jangan sampai anak kita menjadi korban pelecehan seksual.

 

 

Baca juga:

Cara Mengenali dan Mendeteksi Jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting Bigger Kids