10 Hal dan kebiasaan Bunda yang berubah setelah melahirkan

10 Hal dan kebiasaan Bunda yang berubah setelah melahirkan

Ada banyak hal yang berubah pada diri kita setelah melahirkan. Mari kita simak bersama untuk mengetahuinya.

Setelah melahirkan atau punya anak, rasanya ada banyak perubahan yang terjadi dalam hidup kita, ya, Bun. Ada perubahan yang membuat bahagia, tapi ada juga yang membuat galau. Nggak apa-apa, Bun, kita semua mengalaminya. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara kita menerima semua perubahan itu.

10 Hal yang berubah setelah Bunda melahirkan dan memiliki anak
  • Bentuk tubuh

Perut buncit, payudara kendur, selulit? Kita semua mengalaminya setelah melahirkan. Mungkin ada sedikit perasaan galau saat melihat kembali foto-foto Anda sebelum menikah. Jangan khawatir, Bu. Anda bisa mengembalikan semua itu (meski nggak 100 persen sih) dengan berolahraga secara teratur.

  • Saat bepergian

Dulu kalo kita mau jalan ke mal ambil tas atau bawa dompet aja sudah cukup. Sekarang kalau mau ke mal dekat rumah aja rasanya seperti mau pergi mudik. Tas besar isi baju bayi, tisu basah, MPASI, mainan, minyak telon, bedak musti disiapkan malam sebelum berangkat. Trus gimana ya kalo mau mudik beneran? Bisa-bisa kita seperti mau pindah rumah.

  • Rumah

Mainan berceceran, karpet bau pesing, lantai lengket bekas tumpahan susu atau biskuit? Yah, itulah yang terjadi pada rumah kita setelah kehadiran anak-anak. Hampir nggak ada waktu untuk beres-beres, karena biasanya ibu akan sangat mengantuk saat bayi mereka tertidur (dan ikut tidur juga).

Mintalah bantuan suami untuk menjaga anak di hari libur atau saat ia pulang kerja, agar Anda bisa membersihkan rumah. Kalau suami tidak ada (atau tidak mau), lawanlah rasa kantuk Anda sekuat tenaga dan bersihkan rumah cepat-cepat setelah bayi/ anak tidur.

  • Berhubungan intim

Ada beberapa di antara kita yang terpaksa mengecewakan suami karena menolak berhubungan intim dengan berbagai alasan. Kesibukan mengurus anak serta perubahan hormon setelah melahirkan menyebabkan kita kurang memiliki keinginan untuk berhubungan seks.

Untuk memperkuat kembali otot-otot di sekitar vagina, lakukanlah senam Kegel. Setelah anak sudah besar pun kita juga musti pandai mengatur dan memilih waktu untuk berhubungan intim, jika tak ingin kemesraan terganggu karena anak tiba-tiba bangun atau menangis.

  • Jadwal tidur

Kalau di masa hamil kita bisa tidur kapan pun kita mau, setelah melahirkan itu tak lagi terjadi. Di masa awal kelahiran bayi kita mungkin lebih banyak meleknya daripada tidur. Nggak heran kalau ibu-ibu tampak mengantuk setiap saat. Rencana nonton film kesayangan selagi anak tidur berantakan karena kita ketiduran. Maunya sih nonton tv, tapi malah kita yang ditonton tv!

Artikel terkait: Olahraga Setelah Melahirkan : Ayo Bergerak Ibu-ibu!

  • Sikap

Kalo dulu kita gampang banget marah-marah, setelah melahirkan dan punya anak kita (lagi-lagi) ‘terpaksa’ mengubah diri agar jadi lebih sabar. Kalo dulu kita pasti marah besar saat novel kesayangan dipinjam lama banget, sekarang kita mengelus dada aja saat Si Bontot merobek-robeknya.

Kita juga lebih mudah khawatir terhadap hal-hal sepele. Misalnya, kita udah mikir yang enggak-enggak waktu bayi digigit nyamuk dan bentolnya nggak hilang-hilang. ‘Kenapa ya? Jangan-jangan anakku kena demam berdarah nih’. Anda pernah mikir seperti itu kan? Hayo ngaku ..

  • Prioritas

Kita jadi lebih mendahulukan kebutuhan anak daripada kebutuhan kita, mulai dari makanan, pakaian dan sebagainya. Saya ingat dulu waktu keadaan ekonomi belum sebaik sekarang, anak-anak makan duluan dan saya yang menghabiskan sisa makanan mereka.

Mendahulukan kebutuhan anak-anak memang mulia, tapi jangan sampai mengabaikan kebutuhan Anda sendiri. Selain makan, penampilan juga harus dijaga karena itu adalah bentuk rasa sayang kita pada diri sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa menyayangi anak-anak kalau diri kita sendiri nggak kita sayangi?

  • Pergaulan

Setelah melahirkan, dunia kita rasanya jadi lebih sempit karena kita lebih banyak di rumah (kalau Anda tidak bekerja di kantor). Saya juga merasakannya setelah melahirkan anak pertama di usia 22 tahun. Pernah muncul sedikit penyesalan karena tak bisa lagi nongkrong atau nonton acara musik sama teman-teman. Kalo buka Facebook, saya nggak paham apa yang mereka omongkan. Sepertinya kami hidup di dunia yang berbeda, padahal dulu akrab banget.

Sekarang saya nggak lagi menyesali semua itu karena melihat senyum anak-anak saya. Lagipula, teman baru akan selalu Anda dapatkan asal Anda mau membuka diri.

  • Kesukaan

Hasrat untuk membahagiakan anak menjadikan kita tertarik mencari tahu apa yang anak sukai, dan kita pun jadi ikut-ikutan menyukainya. Kita jadi ikut-ikutan nonton film kartun kesukaan anak, atau ikut-ikutan menyukai artis idola mereka.

Saya dulu nggak pernah suka nonton balap motor di tv, karena bising dan apa asiknya sih nonton orang kebut-kebutan? Sekarang saya jadi suka dan hafal nama-nama pebalap motor gegara si Sulung suka banget MotoGP.

  • Cinta sejati

Setelah melahirkan dan membesarkan anak kita jadi tahu makna cinta sesungguhnya. Jargon ‘cinta adalah pengorbanan’ terbukti benar saat kita memutuskan menjadi ibu. Dapatkah Anda menjelaskan seperti apa rasanya?

Apa yang kita lakukan hari ini untuk anak tak akan sia-sia, karena kita sedang menyiapkan pondasi agar mereka bisa menjadi manusia yang lebih baik dari kita. Itu bukan berarti Anda musti menanggalkan mimpi masa muda (misalnya jalan-jalan ke luar negeri, naik gunung Jayawijaya atau menyelam di Bunaken). Pengelolaan waktu mutlak dibutuhkan agar keduanya bisa terwujud bersamaan. Apabila Anda merasa lelah dalam perjalanan meraihnya, ingatlah alasan Anda melakukan semua ini, yaitu cinta.

***

Baca juga:

Rahasia langsing setelah melahirkan anak kembar ala Beyonce

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner