Wabah penyakit Difteri kembali menghantui, ini pesan IDAI untuk orangtua

lead image

Apakah anak sudah mendapat imunisasi DPT untuk mencegah penyakit difteri?

Penyakit difteri masih terus mengintai masyarakat Indonesia. Setelah tahun lalu wabah difteri menyerang Purwakarta, di tahun 2017 ini masih banyak daerah di Indonesia yang dianggap rawan penyakit difteri hingga ditetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) difteri.

Mengenal penyakit difteri

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.

Ciri yang membedakan difteri dengan gejala flu biasa adalah adanya selaput tebal yang menyelimuti tenggorokan yang bisa menghalangi jalannya pernapasan sehingga penderita kesulitan bernapas.

Namun bila keadaan semakin parah, difteri dapat menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan sistem saraf. Tentu saja penyakit ini berakibat fatal dan bahkan menyebabkan kematian.

Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.

Tanda dan gejala difteri

Tanda dan gejala difteri biasanya muncul sekitar 2 – 5 hari setelah terinfeksi. Biasanya yang terjadi adalah:

  • Selaput tebal dan abu-abu menutupi tenggorokan serta amandel Anda
  • Sakit tenggorokan dan serak
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
  • Sulit bernapas atau bernapas sangat cepat
  • Demam dan menggigil
  • Lemas

Pada sebagian besar orang, infeksi bakteri difteri hanya menimbulkan gejala ringan atau tidak ada gejala yang jelas sama sekali. Orang yang terinfeksi tetap tidak sadar bahwa dirinyalah pembawa penyakit difteri karena mereka menyebarkan bakteri tanpa mengalami penyakitnya sendiri.

Penularan penyakit difteri

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/penularan penyakit difteri melalui bersin.jpg Wabah penyakit Difteri kembali menghantui, ini pesan IDAI untuk orangtua

Bakteri Corynebacterium dipthteriae dapat menyebar melalui tiga cara:

  1. Udara. Saat orang yang terinfeksi difteri bersin atau batuk, ia akan melepaskan uap air yang telah terkontaminasi bakteri. Bila terhirup oleh orang-orang di sekitarnya, bakteri ini dengan cepat menyebar, apalagi jika area tersebut padat dengan orang.
  2. Kontaminasi barang pribadi. Misalnya saat minum dari gelas yang sama dengan pembawa bakteri difteri atau menggunakan handuk yang sama
  3. Luka terbuka. Bila kita taak sengaja menyentuh luka terbuka penderita difteri, maka bakteri pun dapat menyebar.

Orang yang telah terinfeksi bakteri difteri namun belum mendapat pengobatan dapat menulari mereka yang daya tahan tubuhnya lemah dalam waktu 6 minggu meski dirinya sendiri tidak menunjukkan gejala apapun.

Siapa saja yang berisiko terkena difteri?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/risiko penyakit difteri.jpg Wabah penyakit Difteri kembali menghantui, ini pesan IDAI untuk orangtua

  • Anak-anak dan orang dewasa yang belum mendapatkan vaksin terbaru
  • Orang yang tinggal di area padat penduduk, penuh sesak, dan tidak sehat
  • Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh
  • Siapa pun yang bepergian ke daerah yang sedang wabah difteri

Penyakit difteri jarang ditemukan di negara maju seperti Amerika Serikat atau negara-negara Eropa karena pemberian vaksin pada anak-anak telah diwajibkan selama beberapa dekade. Namun, difteri menjadi wabah di negara berkembang seperti Indonesia, terutama di daerah yang menolak imunisasi.

Mengapa suatu daerah ditetapkan sebagai KLB difteri?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/11/cegah penyakit difteri dengan imunisasi DPT.jpg Wabah penyakit Difteri kembali menghantui, ini pesan IDAI untuk orangtua

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), munculnya KLB (Kejadian Luar Biasa) difteri di beberapa daerah di Indonesia merupakan indikasi bahwa program imunisasi nasional tidak mencapai sasaran. Salah satu penyebabnya adalah kampanye negatif soal vaksin yang menyebabkan para orangtua menolak pemberian vaksin untuk anaknya.

Oleh karena itu, IDAI mengimbau para orangtua, terutama yang tinggal di daerah yang telah ditetapkan KLB difteri, untuk melakukan upaya penanggulan penyebaran difteri dengan cara:

  • Kenali tanda dan gejala awal difteri.
  • Segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok, terutama jika anak berusia di bawah 15 tahun.
  • Bila dicurigai menderita difteri, anak harus segera mendapat perawatan di rumah sakit.
  • Untuk memutus rantai penularan, maka seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah juga harus diperiksa oleh dokter dan mendapatkan pengobatan.
  • Anggota keluarga yang dinyatakan sehat harus segera mendapatkan vaksin DPT. Jika belum pernah sama sekali imunisasi DPT, maka diberikan imunisasi primer DPT sebanyak tiga kali dengan interval masing-masing 4 minggu. Bila pernah imunisasi DPT namun belum lengkap, maka harus dilengkapi. Konsultasikan ke dokter untuk pencegahan.

Penting untuk diketahui adalah bahwa setelah imunisasi DPT biasanya akan timbul demam, bengkak, dan nyeri di tempat bekas suntikan. Ini adalah gejala yang normal dan akan membaik dalam beberapa hari.

Sebarkan artikel ini agar makin banyak orang memahami bahanya penyakit difteri dan dampaknya bila tidak pernah imunisasi DPT. Semoga bermanfaat.

 

Referensi: Mayo Clinic, IDAI

Baca juga:

Jadwal imunisasi anak, pastikan tidak ada yang terlambat, Parents

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.