TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

Sejarah dan Keunikan Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Bulan Safar

Bacaan 6 menit
Sejarah dan Keunikan Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Bulan Safar

Kenali sejarah dan ritual tradisi Rebo Wekasan yang sudah ada sejak dahulu.

GENERATOR NAMA BAYI

Generator Nama Bayi, gunakan tools generator ini untuk menambah inspirasi Anda dalam mencari nama yang cocok untuk si buah hati.

Jenis Kelamin

Preferensi Nama Depan

Preferensi Nama Belakang

Parents pasti sering mendengar tentang tradisi Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan, bukan?

Ini adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar menurut kalender Islam atau Hijriah. 

Biasanya, masyarakat akan melakukan sejumlah kegiatan untuk memperingatinya. Mulai dari tahlilan atau zikir berjemaah, salat sunah, hingga berbagi makanan dalam bentuk acara selamatan.

Pasalnya, sebagian besar orang percaya dengan memperingati Rebo Wekasan bisa untuk menolak atau mengusir sial.

Artikel Terkait: 11 Daftar Weton Tulang Wangi, Kenali Ciri-cirinya Berikut Ini!

Daftar isi

  • Sejarah Tradisi Rebo Wekasan
  • Sejarah Rebo Wekasan di Daerah Indonesia
  • Ritual yang Dilakukan
  • Keunikan Rebo Wekasan di Beberapa Daerah
  • Pertanyaan Populer Terkait Rebo Wekasan

Sejarah Tradisi Rebo Wekasan

tradisi Rebo Wekasan

Mengutip dari berbagai sumber, Rebo Wekasan dipercaya berawal dari kepercayaan umat Muslim pada zaman dahulu yang menganggap bulan Safar sebagai pembawa sial.

Hari Rabu terakhir di bulan Safar dianggap bisa mendatangkan berbagai penyakit dan marabahaya, sehingga dianggap sebagai hari tersial sepanjang tahun.

Tradisi ini diperkirakan pertama kali muncul di Indonesia sejak abad ke-17. Dan pertama kali dilaksanakan di wilayah Sumatera dan Jawa, khususnya di daerah pesisir pulau Jawa. Cara memperingatinya pun saling berbeda sesuai masing-masing daerah di Jawa.

Di sisi lain, tradisi ini juga dipercaya sudah ada sejak zaman Wali Songo. Saat itu, banyak ulama percaya bahwa Allah akan menurunkan lebih dari 500 lebih jenis penyakit berbeda ke bumi pada bulan Safar.

Untuk menjauhkan malapetaka tersebut, mereka melakukan tirakatan dengan banyak beribadah dan berdoa.

Sampai saat ini, Rebo Wekasan masih tetap dilaksanakan oleh sebagian umat Islam di Tanah Air, meskipun dengan bentuk ritual yang berbeda-beda.

Seperti misalnya, di Banyuwangi, masyarakatnya melakukan tradisi petik laut untuk memperingati dan merayakannya. 

Artikel Terkait: Berikut 17 Alat Musik Tradisional Sumatera Barat, Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Sejarah Rebo Wekasan di Daerah Indonesia

Sejarah Tradisi Rebo Wekasan

Salah satu daerah lainnya yang masih melakukan Rebo Wekasan adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), atau lebih tepatnya di Wonokromo, Bantul.

Warga menyelenggarakan tradisi tersebut dengan membuat lemper raksasa yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat lain yang hadir dalam acara ini. Sejarah munculnya Rebo Wekasan di Yogyakarta sendiri tersedia dalam beberapa versi.

Versi pertama

Rebo Wekasan dipercaya sudah ada sejak tahun 1974. Pada saat itu, ada seorang tokoh bernama Mbah Faqih Usman atau lebih dikenal sebagai Kyai Wonokromo Pertama atau Kyai Welit. 

Para warga percaya bahwa Kyai Wonokromo tersebut bisa mengobati berbagai penyakit dengan cara membacakan ayat Al Quran pada segelas air yang kemudian diminumkan kepada pasien.

Kemampuan Kyai tersebut pun semakin menyebar luas di tengah masyarakat, sampai akhirnya terdengar oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I (HB I). Untuk membuktikan gosip yang beredar luas itu, Sri Sultan HB I kemudian memanggil Kyai Wonokromo ke keraton.

Siapa sangka, ternyata Kyai Wonokromo mampu membuktikan kemampuannya dan mendapat sanjungan. Selepas kepergiannya, masyarakat percaya kalau mandi di pertempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan mendatangkan berkah.

Artikel Terkait: Mengenal Alat Musik Tradisional Gamelan Jawa: Sejarah, Fungsi dan Jenis-Jenisnya

Sejarah Tradisi Rebo Wekasan

Versi kedua

Upacara Rebo Wekasan diperkirakan tidak lepas dari pengaruh Sultan Agung, penguasa Mataram yang dulunya pernah memiliki keraton di Pleret. Yang mana upacara ini mulai dilakukan sekitar tahun 1600-an.

Pada saat itu, Mataram yang tengah terjangkit wabah penyakit mengadakan sebuah ritual untuk mengatasinya. Ritual itu dilakukan oleh Kyai Welit dengan membuat tolak bala berbentuk rajah bertuliskan basmalah dalam tulisan Arab sebanyak 124 baris.

Rajah yang sudah jadi kemudian dibungkus dengan kain mori putih dan dimasukkan ke dalam air, lalu diminumkan kepada orang yang sakit.

Namun, karena khawatir air tidak cukup, Sultan Agung akhirnya memerintahkan untuk memasukkan air sisa rajah ke dalam Kali Opak dan Gajahwong.

Versi ketiga

Masyarakat zaman dahulu meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan yang mendatangkan malapetaka atau bahaya. Karena itu, mereka meminta pertolongan kepada orang atau Kyai yang dinilai lebih mampu.

Saat itu, Kyai Welit lah yang dipercaya oleh masyarakat untuk membuat tolak bala berbentuk rajah. Yang mana, rajah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam air untuk mandi agar terhindar dari marabahaya.

Lantaran semakin banyak orang yang meminta bantuan, maka Kyai Welit memutuskan untuk memasang rajah ke Kali Opak dan Gajahwong. Dengan begitu, masyarakat bisa mengambil air atau mandi tanpa harus mendatangi Kyai Welit.

Artikel Terkait:  2 Doa Rebo Wekasan dan Amalan untuk Mencegah Musibah serta Bencana

Ritual yang Dilakukan

Sejarah dan Keunikan Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Bulan Safar

Adapun ritual-ritual yang dilakukan saat memperingati Rebo Wekasan untuk menolak malapetaka, di antaranya:

  1. Membaca dzikir secara berjamaah
  2. Sedekah dengan berbagi makanan ke lingkungan sekitar yang dibuat menjadi seperti gunungan, yang dipercaya sebagai simbol untuk keselamatan
  3. Membaca doa-doa sunnah agar memperkuat hal positif dan membuang hal negatif dari kehidupan
  4. Setelah tahlilan disarankan untuk salat sunnah berjamaah untuk meningkatkan takwa kepada Allah dan mengingat bahwa hanya Allah yang bisa menjadi tempat berlindung bagi umatnya

Artikel Terkait: Mengenal Sejarah dan Filosofi Tradisi Tanam Sasi, Sebuah Upacara Kematian dari Papua

Keunikan Rebo Wekasan di Beberapa Daerah

Sejarah dan Keunikan Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Bulan Safar

Selain Yogyakarta, upacara Rebo Wekasan juga diselenggarakan di berbagai wilayah Indonesia.

Cerita mitra kami
5 Cara Mencegah Alergi Pada Anak, Parents Wajib Tahu!
5 Cara Mencegah Alergi Pada Anak, Parents Wajib Tahu!
Anak Nyaman Bergerak dengan Popok Inovasi Baru, MIUBaby Resmi Luncurkan Ukuran Jumbo di MB Fair 2025!
Anak Nyaman Bergerak dengan Popok Inovasi Baru, MIUBaby Resmi Luncurkan Ukuran Jumbo di MB Fair 2025!
Masih Harus WFH? No Problem, Yuk Simak Tips Jaga Kesehatan di Rumah saat WFH
Masih Harus WFH? No Problem, Yuk Simak Tips Jaga Kesehatan di Rumah saat WFH
Pediatric Emergency Mayapada Hospital Siaga 24 Jam Tangani Kondisi Gawat Darurat Anak
Pediatric Emergency Mayapada Hospital Siaga 24 Jam Tangani Kondisi Gawat Darurat Anak

Di Aceh, misalnya, para warga melakukan ritual di tepi pantai yang dipimpin oleh seorang Tengku dan diikuti oleh tokoh agama, masyarakat, dan berbagai elemen warga Aceh.

Kemudian, di Jawa, umumnya diadakan oleh masyarakat pesisir pantai dengan cara yang berbeda.

Seperti di Banten dan Tasikmalaya, masyarakatnya melakukan salat khusus bersama pada pagi hari di Rabu terakhir bulan Safar.

Selain itu, ada pula di Kalimantan Selatan yang diberi nama Arba Mustamir.

Upacara ini biasanya diadakan dengan berbagai cara, mulai dari salat sunnah, memanjatkan doa talak bala, tidak boleh bepergian jauh, hingga mandi Safar untuk membuang bala.

Pertanyaan Populer Terkait Rebo Wekasan

Rebo Wekasan tahun 2025 jatuh pada tanggal berapa?

Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada hari Rabu, 20 Agustus 2025. 

Rebo Wekasan tidak boleh apa saja?

Pantang bepergian jauh, pantang melakukan pekerjaan berisiko, pantangan menikah, dan pantang meruwat bayi yang baru lahir.

Rebo Wekasan baca apa?

Dalam tradisi ini, umat disunnahkan untuk membaca doa tolak bala dan melakukan shalat sunnah. Selain itu, bisa juga membaca surat Yasin, berdzikir, dan amalan baik lainnya.
 
***

Artikel Terkait: Mengenal Makna di Balik Tradisi Tedak Siten dan Urutan Acaranya

Itulah beberapa informasi tentang tradisi Rebo Wekasan. Semoga bermanfaat, ya!

***

Baca Juga:

11 Tradisi Menyambut Ramadan di Indonesia, Unik dan Penuh Kebersamaan

25 Contoh Cerita Rakyat Singkat dari Berbagai Daerah di Indonesia

Apa Itu Diwali? Ini Sejarah, Makna, dan Cara Merayakannya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Fadhilla Arifin

Diedit oleh:

Erinintyani Shabrina Ramadhini

  • Halaman Depan
  • /
  • Warisan Budaya
  • /
  • Sejarah dan Keunikan Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala di Bulan Safar
Bagikan:
  • 17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

    17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

  • 20 Ucapan Perayaan Hari Raya Galungan 2025, Lengkap dengan Maknanya

    20 Ucapan Perayaan Hari Raya Galungan 2025, Lengkap dengan Maknanya

  • 26 Contoh Cerita Rakyat Singkat dari Berbagai Daerah Indonesia

    26 Contoh Cerita Rakyat Singkat dari Berbagai Daerah Indonesia

  • 17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

    17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

  • 20 Ucapan Perayaan Hari Raya Galungan 2025, Lengkap dengan Maknanya

    20 Ucapan Perayaan Hari Raya Galungan 2025, Lengkap dengan Maknanya

  • 26 Contoh Cerita Rakyat Singkat dari Berbagai Daerah Indonesia

    26 Contoh Cerita Rakyat Singkat dari Berbagai Daerah Indonesia

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti