Ibu ini akhirnya bisa menggendong bayinya setelah mengalami syok septik pasca melahirkan

lead image

Kisah ibu ini merupakan bukti nyata bagaimana cinta seorang ibu pada anaknya...

Suasana di kamar rumah sakit penuh dengan emosi ketika Emilie Gentry akhirnya bisa menggendong putranya untuk pertama kali. Pengalaman indah skin-to-skin pasca melahirkan terpaksa ditunda karena ia nyaris meninggal akibat mengalami syok septik.

Selama tujuh hari yang menyiksa, satu-satunya cara Emilie melihat putranya adalah melalui FaceTime karena sang bayi segera dilarikan ke Seattle Children’s Hospital tepat setelah dilahirkan.

Ibu berusia 28 tahun ini juga mengalami infeksi bakteri korioamnionitis yaitu infeksi yang terjadi pada membran (korion) dan cairan amnion (ketuban). Kondisi ini terjadi ketika bakteri yang biasanya terdapat di vagina naik ke rahim, di mana janin berada.

Cairan ketuban dan plasenta serta bayi bisa ikut terinfeksi. Bakteri E. coli, bakteri streptococcus grup B, dan bakteri anaerobik adalah penyebab paling umum dari korioamnionitis.

Bila kondisi ini tidak diobati dapat menyebabkan kelahiran prematur maupun infeksi serius pada ibu dan bayi.

Artikel terait: Toxic Shock Syndrome, Infeksi Bakteri yang Menimbulkan Racun dalam Darah

Syok septik pasca persalinan

syok septik 1

Tekanan darah Emilie menjadi sangat rendah dan dokter tidak dapat mendeteksi detak jantung putranya. Pada akhirnya, mereka tidak punya pilihan selain melakukan operasi caesar darurat pada usia kandungan 39 minggu.

Selama operasi, Emilie sudah mengalami demam tinggi, menunjukkan bahwa tubuhnya sedang berjuang melawan infeksi. Hal ini dikonfirmasi ketika dokter melihat bahwa rahimnya telah penuh dengan nanah sementara organ vitalnya yang lain menunjukkan tahap awal kegagalan.

Saat putranya, Edward Jack alias EJ dilahirkan, ia tidak menangis. Para dokter mencoba menghidupkannya kembali sebelum jantungnya mulai berdetak.

Tanpa membuang waktu, EJ dilarikan ke NICU (Neonatal Intensive Care Unit) di Seattle Children’s Hospital sementara Emilie sendiri dalam kondisi kritis. Dokter berusaha mati-matian untuk mengatasi infeksinya.

Selama 7 hari, ia hanya melihat putranya lewat FaceTime

syok septik 2

Emilie diberi dua transfusi darah dan menjalani cuci darah. Setelah infeksinya benar-benar sembuh dari tubuhnya, ia perlahan-lahan mulai sembuh.

Kesembuhan Emilie terjadi berkat dukungan dari pasangannya Billy yang rela melakukan perjalanan lebih dari 95 km setiap harinya di antara dua rumah sakit sehingga Emilie bisa melihat EJ melalui FaceTime.

Pertama kali aku melihat bayiku di FaceTime, benar-benar terasa emosional. Aku ingat melihat wajahnya yang imut dan aku tahu bahwa aku harus mengajaknya berbicara. 

Begitu ia mendengar suaraku, aku tahu ia mengenalinya. Putraku memberi senyum kecil yang lucu.

Itu benar-benar masa yang berat, amat berat. 

Bayangkan saja, bayimu telah menghabiskan sembilan bulan terakhir di dalam tubuhmu, dan kemudian dengan terpaksa harus dipisahkan darimu. Aku tidak tahan memikirkan bahwa ia sedang kesakitan di rumah sakit lain. Benar-benar menyayat hati.

Ketika Billy masuk ke kamar rumah sakit sembari membawa bayi mungilku ini, sungguh rasanya luar biasa. Benar-benar momen yang tidak akan kulupakan seumur hidupku ketika akhirnya aku bisa menggendong bayiku.

Berkumpul kembali setelah melewati cobaan syok septik

syok septik 3

Setelah pengalaman yang mengerikan, Emilie kemudian didiagnosis mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Namun, dengan kombinasi obat, terapi, dan dukungan keluarga, kesehatan mental Emilie membaik.

Kini, Emilie sudah benar-benar pulih tanpa masalah kesehatan jangka panjang. Ia dan Billy memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi setelah ini.

Meski kekurangan oksigen selama proses persalinan, EJ tampaknya berkembang dengan sangat baik. Bocah yang saat ini berusia 2 tahun ini mengalami perkembangan yang baik terlepas dari beberapa aspek tumbuh kembang yang tertunda.

“EJ memang sedikit terlambat bicara, tetapi kami pikir ia benar-benar anak yang pintar. Ia luar biasa, sangat santai, dan lucu.”

 

*Artikel disadur dari tulisan Rosanna Chio di theAsianparent Singapura.

Baca juga:

Waspada! Bayi usia 5 hari meninggal akibat terinfeksi bakteri Streptococcus grup B