TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Bacaan 4 menit
Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Jika dalam masyarakat tradisional biasanya kaum lelaki menjadi tulang punggung keluarga, lain ceritanya bagi orang-orang Suku Asmat di Papua.

Salah satu suku bangsa yang hidup di wilayah Papua adalah Suku Asmat, suku unik yang masih eksis hingga saat ini. Suku ini merupakan yang terbesar dan paling terkenal dari sekian jumlah suku yang mendiami tanah Papua.

Lantas, apa saja, ya, fakta menarik tentang orang-orang Asmat? Bagaimana pula peran para ibu dan perempuan di tengah kehidupan masyarakat di sana? Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Artikel terkait: 7 Makanan Khas Papua yang Wajib Dicoba, Paling Unik Sampai Terpopuler

Kehidupan Suku Asmat di Tanah Papua

suku asmat

Gambar: Instagram/@gabriellawallong

Cara bermukim suku ini terbilang cukup unik. Mereka biasa mendiami dataran cokelat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai.

Sehari-hari masyarakat Asmat bekerja di lingkungan sekitarnya. Aktivitas utama mereka adalah mencari makan dengan cara berburu. Kadang-kadang masyarakat juga berkebun dengan menggunakan metode tradisional dan masih cukup sederhana.

suku asmat

Gambar: Instagram/@ask.sarrymartin

Suku Asmat sangat menggemari ulat sagu sebagai hidangan istimewa. Selain itu, masyarakat biasa memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan untuk makanan sehari-hari.

Sederhananya, mata pencaharian utama masyarakat Asmat adalah berburu dan mengumpulkan makanan. Kadang-kadang, mereka membuat seni ukiran untuk kemudian dijual.

Perempuan Harus Bekerja Keras “Mencari Nafkah”

Perempuan identik dengan tiga kata, yaitu dapur, sumur, dan kasur. Begitulah definisi yang populer di mata masyarakat tradisional yang masih menganut pola patriarikial.

Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Gambar: Instagram/@durisaguduri

Lazimnya, kaum laki-laki mengambil peran untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, menjadi nahkoda rumah tangga, bahkan harus siap menjadi tameng pelindung. Adapun kaum perempuan berperan sebagai ibu rumah tangga, tugasnya mengurus anak hingga segala keperluan di rumah.

Nyatanya, pembagian peran seperti itu tidak berlaku dalam masyarakat Suku Asmat, di mana yang memiliki tugas besar justru perempuan. Orang-orang Asmat menempatkan perempuan sebagai tulang punggung keluarga.

Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Gambar: Instagram/@polozkovairina

Perempuan Asmat menjalani hari-hari dengan memikul beban berat di pundaknya. Mereka menyiapkan makanan, menjaring ikan, mencari kayu bakar, mengambil air, menebang pohon sagu, hingga ikut membantu pembangunan rumah untuk tempat tinggal keluarga. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Asmat, boleh dibilang kaum hawa memiliki peran yang lebih besar yang dibanding kaum adam.

Artikel terkait: 10 Artis Keturunan Papua Berbakat, Evan Sanders hingga Ari Sihasale

Simbol Perempuan dalam Ukiran Suku Asmat

suku asmat

Gambar: Instagram/@andreaswahjoe

Sejatinya, masyarakat Asmat menempatkan perempuan pada posisi yang sangat sangat berharga. Hal itu tersirat dalam berbagai seni ukiran dan pahatan yang disimbolkan melalui bentuk flora dan fauna yang dianggap penting, seperti pohon, burung kakatua, dan nuri.

Sayangnya, di balik popularitas seni pahatan dan ukiran orang-orang Asmat, tersirat realita pahit tentang kehidupan kaum perempuan yang terasa amat berat. Mereka adalah sosok sentral yang memikul banyak tanggung jawab dalam rumah tangga.

Sementara itu, laki-laki Asmat cenderung menjalani kehidupan yang lebih hedonis. Sehari-hari mereka menikmati makanan yang disediakan sang istri, mengisap tembakau, mabuk-mabukan, hingga berjudi.

Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Gambar: Instagram/@fiona.callaghan

Kadang-kadang, para lelaki membuat rumah atau perahu. Namun lagi-lagi, pekerjaan tersebut akan diselesaikan dengan bantuan perempuan.

Cerita mitra kami
Untuk Pertama Kalinya, Bogor Menjadi Kota Tujuan TAP On the Go 2026! Dapatkan Tiketnya di Sini
Untuk Pertama Kalinya, Bogor Menjadi Kota Tujuan TAP On the Go 2026! Dapatkan Tiketnya di Sini
Anak lebih sehat sarapan dengan sereal gandum utuh, menurut ahli gizi
Anak lebih sehat sarapan dengan sereal gandum utuh, menurut ahli gizi
Manfaat Kesehatan Gandum Utuh Sebagai Asupan Anak dan Keluarga
Manfaat Kesehatan Gandum Utuh Sebagai Asupan Anak dan Keluarga
9 Kebutuhan Dasar Anak yang Dibutuhkan, Sudahkah Parents Memenuhinya?
9 Kebutuhan Dasar Anak yang Dibutuhkan, Sudahkah Parents Memenuhinya?

Ada pula suami yang mau menemani istrinya bekerja mencari makanan. Sayangnya, mereka hadir benar-benar sekadar untuk menemani. Para perempuan seringnya harus tetap bekerja keras seorang diri, misalnya untuk mendayung perahu dan menebang kayu.

Pendidikan untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

Dalam masyarakat Suku Asmat, anak laki-laki dan perempuan diperlakukan secara berbeda. Prinsip utama suku ini adalah semakin dewasa seorang anak, para pengasuhnya semakin ditentukan oleh jenis kelamin serta peran yang akan dijalankan sang anak nanti.

suku asmat

Gambar: Instagram/@rosalina_meylani

Untuk anak laki-laki biasanya akan diasuh oleh ayah, paman, ataupun kakeknya. Memasuki umur tujuh tahun, anak laki-laki mulai diajak tinggal di rumah adat. Mereka dididik sebaik mungkin bagaimana mengatur anggota suku dan belajar adat istiadat yang berlaku.

Sedangkan anak perempuan, semakin besar semakin dekat dengan keluarga pihak perempuan. Sejak dini mereka sudah diperkenalkan dengan pekerjaan domestik, seperti menyediakan makanan, mencari ikan, mencari kayu, serta mencari keperluan yang kurang dalam rumah.

Artikel terkait: Kaya Budaya! 123 Jenis Tarian Tradisional dari Berbagai Daerah di Indonesia

suku asmat

Gambar: Instagram/@frecyla_habel

Kaum perempuan tidak mendapat pendidikan seperti apa yang diperoleh oleh kaum laki-laki. Jika ayam sudah berkokok dan kondisi masih gelap, para kaum perempuan Suku Asmat justru sudah bertebaran mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

****

Nah, itulah sekilas tentang kehidupan tradisional Suku Asmat. Bagaimana, nih, pendapat Parents sendiri tentang peran perempuan di sana?

Baca juga:

25 Pilihan nama Papua untuk bayi imut Parents, cek di sini!

Cinta yang Menyatukan! 8 Seleb Ini Menikah Beda Suku tapi Tetap Kompak dan Harmonis

5 Fakta Anak-anak Suku Baduy Terkait Pendidikan di Lingkungan Adat

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Titin Hatma

Diedit oleh:

Finna Prima Handayani

  • Halaman Depan
  • /
  • Kebudayaan
  • /
  • Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga
Bagikan:
  • 30 Rempah Indonesia Beserta Kegunaannya untuk Masakan dan Obat

    30 Rempah Indonesia Beserta Kegunaannya untuk Masakan dan Obat

  • Kalender Jawa Januari 2026: Tanggal Weton, Hijriah, Masehi

    Kalender Jawa Januari 2026: Tanggal Weton, Hijriah, Masehi

  • 17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

    17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

  • 30 Rempah Indonesia Beserta Kegunaannya untuk Masakan dan Obat

    30 Rempah Indonesia Beserta Kegunaannya untuk Masakan dan Obat

  • Kalender Jawa Januari 2026: Tanggal Weton, Hijriah, Masehi

    Kalender Jawa Januari 2026: Tanggal Weton, Hijriah, Masehi

  • 17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

    17 Jenis Alat Musik Tradisional Kalimantan yang Unik, Cek di Sini!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti