Perlukah Mengatur Jarak Kehamilan?

lead image

Bagaimana cara mengatur jarak kehamilan setelah menjalani persalinan normal ataupun caesar? Bacalah ulasannya di sini.

Mengatur Jarak kehamilan

Perlukah Mengatur Jarak Kehamilan?

Mengatur Jarak Kehamilan pasca proses persalinan normal

Dengan proses persalinan normal, sebenarnya untuk mengatur jarak kehamilan bisa didasarkan pada kesepakatan antara suami dan istri, apakah mereka menginginkan untuk segera memiliki momongan lagi ataukah masih perlu melakukan penundaan.

Secara medis, wanita yang melakukan persalinan normal diperbolehkan untuk langsung hamil lagi. Tetapi hal ini kembali juga pada kematangan persiapan dari kedua belah pihak.

Kemampuan secara psikologis maupun materiil, sehingga disarankan agar mengatur jarak kehamilan berikutnya pada saat si kecil sudah berusia 2 hingga 5 tahun agar kebutuhan psikologis anak sudah terpenuhi. Dengan demikian ia dapat menerima adiknya dengan lebih siap.

Ada sebagian pasangan yang ‘dikejar usia’ karena menikah di atas usia 30-an. Kehamilan bagi wanita yang sudah memasuki usia 34 tahun lebih beresiko, sehingga pasangan ini akan cenderung memilih untuk segera mendapatkan momongan lagi.

Apalagi bagi pasangan yang menikah di atas usia 30-an secara ekonomi rata-rata mereka telah berada pada posisi mapan. Jadi tidak ada kendala bagi mereka untuk segera memiliki momongan lagi pasca persalinan normal.

Sebagian pasangan lain berpikir bahwa dengan mengatur jarak kehamilan yang dekat, hal ini akan membuat si sulung lebih bisa bersikap dewasa dan mandiri. Selain itu juga membuat si sulung tidak merasa kesepian karena sudah memiliki adik sebagai teman bermain sebaya.

Ada juga yang berpikirnya sekalian repot di awal karena bagaimanapun juga mengurus bayi adalah pekerjaan yang susah dan menyita waktu. Jadi dengan satu bayi atau dua bayi akan sama saja repotnya.

Bagi kebanyakan anak usia di atas 3 tahun sudah mulai memiliki ego dan perasaan iri sehingga akan semakin merepotkan bagi orang tua untuk membagi perhatian buat si sulung yang sudah terbiasa sendiri dan mendapatkan perhatian penuh. Mereka cenderung akan semakin tampak ‘nakal’ karena ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtua.

 Mengatur jarak kehamilan pasca proses persalinan Cesar

Pasca persalinan Cesar, jarak ideal untuk diperbolehkan untuk mengatur jarak kehamilan sekitar 18 bulan. Jarak waktu ini dibutuhkan untuk persiapan persalinan normal (jika syarat-syarat kelahiran normal bisa terpenuhi).

Untuk mengetahui kesiapan kelahiran normal ini, sang Ibu harus menjalani semacam skoring tes kemampuan untuk mengetahui dapat tidaknya ibu tersebut melakukan persalinan normal (vaginal birth after caesarean scores).

Artikel terkait mengenai Operasi Cesar: Penjelasan tentang Operasi Cesar

Mengatur jarak kehamilan yang terlalu dekat (di bawah tenggat waktu 18 bulan) terlalu berisiko bagi sang Ibu. Karena luka jahitan bekas operasi yang baru sembuh atau bahkan masih dalam masa pemulihan dapat teregang kembali akibat pertumbuhan janin.

Apalagi, dengan teknik cesar yang melakukan pembedahan lapisan bawah rahim, masa penyembuhan dan pemulihannya membutuhkan waktu lebih lama lagi.

Setelah dilakukan operasi, lokasi pembedahan umumnya menjadi lebih tipis sekitar < 3 mm. Jika sang Ibu menginginkan untuk hamil kembali dikhawatirkan bekas jahitan tersebut akan meregang dan sobek sehingga sangat membahayakan bagi keselamatan Ibu dan bayi.

Artikel terkait untuk menunda kehamilan: Alat Kontrasepsi / KB Wanita

 

Mengapa bisa kesundulan (baru melahirkan koq sudah hamil lagi)?

Saat masa nifas habis, sang Ibu bisa langsung mengalami menstruasi kembali. Hal ini bisa saja terjadi meskipun masih dalam periode pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Saat sudah mengalami menstruasi, masa subur sudah mulai berjalan normal dan sejak saat itulah hubungan intim dapat menimbulkan kehamilan.

Sebenarnya KB alami bisa dilakukan dengan cara menyusui secara terus-menerus selama 6 bulan pascabersalin (ASI eksklusif). Proses laktasi atau menyusui akan menekan hormon estrogen sehingga indung telur tidak terpicu untuk mematangkan sel-sel telur dan memulai siklus menstruasi yang baru.

Berdasarkan pengalaman, saat masih menyusui secara eksklusif selama 6 bulan, penulis tidak mengalami menstruasi. Dan karena tugas kantor yang mengharuskan untuk tugas luar kota sehingga produksi ASI berhenti.

Seiring dengan berhentinya pemberian ASI, maka kesuburan-pun mulai kembali normal ditandai dengan menstruasi. Karena saat produksi ASI mulai berkurang atau bahkan terhenti,  hormon estrogen akan terpicu dan memacu indung telur untuk mematangkan sel-sel telurnya. Saat terjadi hubungan seksual dan bila sperma masuk membuahi sel telur ibu yang sudah matang, maka kehamilan bisa saja terjadi.

Baca juga artikel menarik lainnya:

14 Manfaat Menyusui

Aku Hamil Lagi Ketika Bayiku Berusia 2 Bulan

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Tyas