Pengobatan Kanker Serviks : Operasi, Radioterapi, Kemoterapi, Mana Yang Paling Sesuai?

Pengobatan Kanker Serviks : Operasi, Radioterapi, Kemoterapi, Mana Yang Paling Sesuai?

Ketahuilah berbagai metode pengobatan kanker serviks pada ulasan berikut ini.

Berkaitan dengan artikel Kanker Serviks, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Mencegahnya, kami lanjutkan pembahasan topik ini dengan berbagai cara pengobatan kanker serviks.

Pengobatan kanker serviks bisa meliputi beberapa macam, di antaranya operasi pengangkatan, radioterapi, dan kemoterapi.

Kapan setiap cara pengobatan kanker serviks dilakukan?

Biasanya, jika stadium kanker masih pada tahap awal, operasi pengangkatan rahim atau histerektomi adalah salah satu cara pengobatan kanker serviks yang sering dilakukan. Operasi bertujuan mencegah menyebaran lebih lanjut sel sel kanker ke organ tubuh yang lain.

Operasi biasanya dilakukan jika sel-sel tumor ganas yang mengandung bibit kanker berdiameter tidak melebihi 4 cm atau ukuran setara itu. Namun, jika seorang penderita kanker serviks masih menghendaki/menginginkan memiliki keturunan, maka metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan cara pengobatan kanker serviks.

Cone biopsy adalah sejenis tindakan operasi pengambilan tumor dengan cara mengambil jaringan abnormal (saja) dan tidak mengambil keseluruhan rahim. Kemudian jaringan tersebut ditelaah/dibiopsi untuk mengetahui seganas apakah sel sel tumor tersebut.

Sedangkan untuk stadium yang lebih tinggi dari stadium 2, biasanya dokter menyarankan untuk melakukan radioterapi.  Radioterapi ini merupakan penyinaran luar dan dalam, tergantung dari tingkat stadium dan parahnya penyebaran sel sel kanker.

Untuk penyinaran luar, sinar akan difokuskan ke area seputar rahim yang tentu saja berakibat kulit menjadi sedikit terbakar.  Efek penyinaran ini tidak separah efek kemoterapi, tergantung tingkat kekebalan dan daya tahan seseorang.

Efek penyinaran pada masing-masing orang tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya.  Umumnya yang bersangkutan akan merasakan mual mual, tidak nafsu makan, atau diare ringan hingga berat.

Selama mengalami masa ini, sangatlah patut dijaga tingkat hidrasi tubuh agar tidak menderita dehidrasi ataupun penurunan berat badan yang sangat massive.  Selain itu, kadar sel darah merah atau haemoglobine (HB) sangat dijaga selama menjalani radioterapi dan harus dalam kurun angka normal.

Jika HB kurang dari normal. Maka tindakan radioterapi akan dihentikan hingga kadar HB atau haemoglobin mencapai angka normal. Cara cepat untuk meningkatkan HB biasanya melalui tranfusi darah ataupun pemberian vitamin yang meningkatkan pola makan.  Selama menjalani radioterapi, konsumsilah makanan yang bergizi.

Sedangkan radioterapi dengan sinar dalam, dilakukan dengan cara memasukkan semacam tabung ke dalam vagina untuk mematikan sel sel kanker yang masih bersisa.

Semua jenis penyinaran, baik sinar luar maupun sinar dalam, tentulah berbeda dari tiap penderita ke penderita lainnya. Semuanya disesuaikan dengan tingkat stadium, sehingga dosis masing-masing penderita akan berbeda satu dengan lainnya.

Perbedaan dosis ini ditandai dengan lama waktunya penyinaran antara satu penderita dengan lainnya.  Biasanya, penyinaran ini dilakukan untuk satu paket penyinaran tertentu untuk jangka waktu setiap hari selama beberapa waktu.

Pasien biasanya diperbolehkan pulang setelah dilakukan penyinaran, berbeda dengan kemoterapi di mana pasien biasanya menghabiskan waktu hingga lebih dari 5 jam di rumah sakit dan biasanya harus menginap selama dilakukan kemoterapi.

Anda mengalami salah satu metode di atas? Berikan komentar Anda di kotak komentar di bawah ini.

 

Referensi : Kanker Leher RahimIntensity-modulated radiation therapy

 

Baca juga:

Mengenal Kanker Serviks, Penyakit yang Merenggut Nyawa Julia Perez

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner