"Bisa Merusak Jiwa," Maya Septha Ingatkan agar Hati-hati Berucap pada Anak

"Bisa Merusak Jiwa," Maya Septha Ingatkan agar Hati-hati Berucap pada Anak

Maya Septha mengimbau para orangtua untuk tidak sembarangan berucap kepada anak, terlebih ucapan yang mengandung konotasi negatif.

Selebmom sekaligus presenter Maya Septha sering bercerita dan mengungkapkan pendapat pribadinya terkait pernikahan dan hal keluarga. Menariknya, sejumlah orang merasa relate dengan berbagai pendapat Maya Septha tersebut.

Baru-baru ini, ia kembali menuliskan pendapatnya tentang ucapan orangtua kepada anak. Maya menegaskan, para orangtua sebaiknya tidak sembarang berucap kepada anak-anak mereka, terlebih jika omongan itu mengandung makna negatif.

Hati-hati sama omongan yang keluar dari mulut kita. Jangan sampai itu jadi cap yang kemudian jadi kutuk buat anak kita,” tulis Maya di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (04/07).

Artikel Terkait : Suami sempurna tak melulu harus kaya, ini pendapat Maya Septha

Pendapat Maya Septha tentang Omongan Orangtua kepada Anak-anak

pendapat maya septha

Memang, mengontrol ucapan terkadang menjadi hal yang sulit. Namun, setelah punya anak, sebaiknya harus berlatih untuk membiasakannya. Jangan sampai peribahasa ‘Mulutmu Harimaumu’ terjadi dalam hidup Parents, lantaran tidak menjaga ucapan.

Anak bandel. Nakal banget, sih. Nggak bisa diatur. Nggak mau dengar. Malas amat, sih. Dasar lelet. Apalagi yang ekstrem kaya dasar anak bodoh, bawa sial, anak setan, dan sebagainya,” ujar Maya mencontohkan.

Sungguh itu bukan cuma di sinetron, sungguh tidak semua orangtua cukup dewasa untuk membedakan kata yang pantas diucapkan di depan anak dan tidak. Sungguh tidak semua cukup dewasa untuk bisa mengendalikan diri dan emosi,” sambung Maya menjelaskan.

pendapat maya septha

Kalimat-kalimat berkonotasi negatif tersebut sebaiknya tidak Parents ucapkan kepada anak, sekalipun mengaku jika tidak sengaja mengatakannya. Sebab, secara tidak langsung kalimat itu berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak.

Terlebih jika Parents mengucapkan kalimat-kalimat negatif itu cukup sering.

Kata-katamu membentuk duniamu. Apa yang sering kamu ucapkan maka terjadilah demikian. Berapa banyak jiwa anak rusak karena kata-kata orangtuanya, karena itu jadi sesuatu yang mereka percaya,” tegas Maya.

Mereka pikir itu jati dirinya. Anak mana ngerti, sih, omongan orangtuanya bener apa nggak. Semua yang mereka alami sehari-hari yang jadi dunianya mereka,” imbuhnya.

 

View this post on Instagram

 

Hati hati sama omongan yg keluar dari mulut kita. Jangan sampai itu jadi cap yang kemudian jadi kutuk buat anak kita. Anak bandel. Nakal banget sih. Ngga bisa diatur. Ngga mau denger. Males amat sih. Dasar lelet. Apalagi yg ekstrim kayak dasar anak bodoh, bawa sial, anak setan dsb.

Sungguh itu bukan cuma di sinetron, sungguh tidak semua orangtua cukup dewasa untuk membedakan kata yang pantas diucapkan di depan anak dan tidak. Sungguh tidak semua cukup dewasa untuk bisa mengendalikan diri dan emosi.

Kata katamu membentuk duniamu. Apa yang sering kamu ucapkan maka terjadilah demikian. Berapa banyak jiwa anak rusak karena kata kata orangtuanya. Karena itu jadi sesuatu yang mereka percaya. Mereka pikir itu jati dirinya. Anak mana ngerti sih omongan ortunya bener apa engga. Semua yg mereka alami sehari hari yg jadi dunianya mereka. Apa yang kamu perkatakan tentang anakmu? Tentang suamimu? Tentang dirimu sendiri? 😊❤

A post shared by Maya Septha (@mayaseptha7) on

Artikel Terkait : Sering memarahi anak di depan umum? Waspadai bahayanya, Parents

Bisa Berujung pada Child Shaming

Di sisi lain, lontaran kalimat negatif dari orangtua kepada anak dapat berujung menjadi tindakan child shaming atau mempermalukan anak secara sadar maupun tidak. Child shaming terjadi secara langsung atau lisan, termasuk di kehidupan sehari-hari.

Tindakan ini tentu saja bisa berdampak kepada perkembangan si kecil. Menurut seorang terapis Karyl McBride, Ph.D., akan ada beberapa dampak yang timbul, seperti anak akan hilang kepercayaan diri, merasa tidak diinginkan, merasa tidak dicintai, bahkan takut hingga ia beranjak dewasa.

Dapat Merenggangkan Hubungan Anak dan Orangtua

Apabila tindakan ini terus berlanjut dengan intensitas yang sering, tentu saja dapat mengganggu hubungan orangtua dan anak. Kepercayaan anak akan berkurang, serta kedekatan pun tidak terjalin dengan semestinya.

Semakin anak beranjak remaja dan dewasa, berbagai pengalaman buruk seperti ucapan bernada negatif dari orangtuanya yang terjadi saat masa kecil akan turut membentuk kepribadiannya serta pola pikirnya di masa mendatang. Hal inilah yang membuat hubungan orangtua dan anak menjadi renggang.

Oleh karena itu, seperti pendapat Maya Septha, sebaiknya orangtua perlu berhati-hati saat akan berucap kepada anak. Kendalikan diri dan emosi sebaik mungkin, jangan sampai kata maupun kalimat negatif terlontar kepada buah hati kita.

Baca Juga :

Maya Septha berbagi rahasia agar rumah tangga sehat dan bahagia

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner