Parents, ini yang harus diterapkan untuk menjalin komunikasi dengan anak autis

Parents, ini yang harus diterapkan untuk menjalin komunikasi dengan anak autis

Menjalin komunikasi dengan anak autis membutuhkan metode sederhana yang aplikatif. Baca penjelasan selengkapnya dalam artikel ini, yuk, Parents!

Menjalin komunikasi dengan anak autis jelaslah bukan perkara mudah. Namun bukan juga hal yang mustahil untuk dilakukan.  Dibutuhkan metoda yang tepat untuk membentuk dan menjalin komunikasi dengan anak autis, tentunya komunikasi yang baik dan berkualitas. Dan hal itu sebaiknya dilakukan sejak dini.

Orangtua perlu mempelajar cara menjalin komunikasi dengan anak autis.

Orangtua perlu mempelajar cara menjalin komunikasi dengan anak autis.

Menjalin komunikasi dengan anak autis: Langkah tepat untuk memulainya

Leo Kanner dalam tulisannya yang berjudul Autistic Disturbances of Affective Contact, menyebutkan beberapa gejala yang didapat pada anak autisme. Diantaranya adalah kesendirian (bermain seorang diri) pada anak autis begitu hebat serta perkembangan bahasa yang terlambat.

Hal ini menyebabkan anak-anak autis tidak mampu membentuk jalinan emosi dengan orang lain. Selain itu, beberapa anak autis merasa sensitif terhadap bunyi atau suara yang didengar telinga, sentuhan, pandangan mata dan penciuman. Kondisi ini jelas menyulitkan orangtua dan orang lain untuk menjalin komunikasi dengan mereka.

Kita pun amat memahami, berkomunikasi dengan anak autis merupakan salah satu jembatan yang harus dibangun untuk membantu mereka agar berkembang untuk menjadi pribadi-pribadi mandiri, keluar dari dunia mereka menuju dunia luar dan masa depannya.

Untuk berkomunikasi dengan anak autis, hal yang pertamakali harus kita lakukan adalah melihat dan mengembangkan hal-hal penting yang menjadi dasar membentuk komunikasi dengan anak autis.

Metode sederhana dalam menjalin komunikasi dengan anak autis

Berikut beberapa metoda sederhana yang saya kutip dari makalah Keriyadi yang berjudul Percakapan Pada Anak Usia Dini dengan Metode Maternal Reflektif , yaitu :

1. Sikap Keterarahwajahan

Merupakan dasar utama untuk menangkap ungkapan orang lain, sehingga anak dapat memahami percakapan orang di sekitarnya.

Metode yang dilakukan bisa dengan cara :

  • Bermain “ci luk ba” bersama anak
  • Berbicara setiap mendapat kontak mata dengan anak
  • Berbicaralah tentang hal-hal yang disukai anak, untuk mendapatkan kontak mata yang bersifat spontan
  • Hentikan kegiatan sejenak sampai anak melihat kita, barulah sampaikan informasi yang ingin diketahui anak.

2. Sikap Keterarahsuaraan

Penyadaran terhadap adanya berbagai suara dan bunyi akan memperkaya batin anak serta menghubungkannya dengan dunia di luar dirinya.

Latihan dapat dilakukan di dalam maupun di luar ruangan dengan cara bermain.

Misalnya :

  • Selalu mengajak anak bercakap-cakap dalam segala situasi.
  • Menangkap dan membuat bunyi secara bergantian
  • Tunjukkan sumber bunyi, bila anak bereaksi terhadap bunyi tertentu.
  • Menyadarkan anak, bahwa bunyi datang dari berbagai arah. Bisa dari depan, samping, belakang, dsb.

3. Suasana bersama antara anak dan ibu/terapis

Perkembangan bahasa anak sangat tergantung pada terjadinya percakapan-percakapan ringan antara anak dengan ibu atau orang terdekatnya ketika melakukan kegiatan bersama dalam kehidupan sehari-hari.

4. Tanggap terhadap apa yang ingin dikatakan anak

Biasanya anak autis akan menggunakan berbagai cara untuk mengungkapkan dirinya, seperti : gerakan tubuh, suara bermakna, senyuman, tangisan, mimik wajah dan isyarat tangan.

5. Komunikasi dengan anak autis perlu adanya dorongan untuk meniru

Dasar berbahasa bukanlah sekadar memberikan atau menanamkan kosakata pada anak, melainkan menciptakan kondisi yang membangkitkan minat anak untuk berkomunikasi. Salah satunya dengan menggunakan media gambar.

6. Mengapresiasi spontanitas anak

Berlah pujian ketika anak berani mengkomunikasikan dirinya, meskipun ungkapan itu masih sangat sederhana.

7. Komunikasi dengan anak autis perlu menggunakan Reinforcement/Penguat

Kita bisa memberi hadiah terhadap prilaku positif anak dan memberikan teguran untuk hal-hal negatif yang dilakukannya.

8. Menumbuhkan rasa empati dalam percakapan

Untuk membangun rasa empati anak terhadap perasaan orang lain, sejak dini anak harus dikenalkan dan ditanamkan pada berbagai bentuk ungkapan yang mampu mewakili perasaan dan menggambarkan suasana hati.

Misalnya dengan memilih ungkapan yang menyiratkan kesedihan dan diikuti dengan mimik wajah yang mendukung untuk suatu peristiwa yang membuat anak merasa sedih.

Demikianlah metoda sederhana yang bisa kita lakukan dalam keseharian baik di dalam maupun di luar ruangan. Keberhasilan kita menjalin komunikasi dengan anak autis  akan semakin besar seiring dengan besarnya upaya dan intensitas kita dalam menerapkan metoda ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selamat mencoba, Parents!

Baca juga artikel menarik lainnya:

Anak Terlambat Bicara atau Autis?

Autisme Terkait Erat dengan Kelahiran Menggunakan Induksi?

5 Tips Membesarkan Anak Autis

Anugerah Tersembunyi, Hidup Bersama Anak Autis

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner