Makna Mendalam Perayaan Hari Raya Galungan, Momentum Melawan Keburukan

Makna Mendalam Perayaan Hari Raya Galungan, Momentum Melawan Keburukan

Diperingati setiap tahunnya, perlu diketahui makna hari raya Galungan yang filosofis dan sarat nilai kehidupan. Ini ulasan lengkapnya.

Tahukah Parents bahwa tanggal 16 September 2020 diperingati sebagai Hari Raya Galungan dan Kuningan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia? Galungan dirayakan dengan menggunakan Rabu Kliwon Wuku Dunggulan, yakni 6 bulan sekali berdasarkan perhitungan kalender Bali. Lantas, apa makna Hari Raya Galungan yang sebenarnya?

3 Makna Hari Raya Galungan

1. Makna Hari Raya Galungan adalah Pertempuran Melawan Raja yang Sombong

makna Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) dan keduanya bersatu menjadi kekuatan rohani untuk mendapatkan pikiran yang tenang. Dengan kata lain, kemenangan ini melawan ego dan sifat negatif yang ada dalam diri seseorang.

Berdasarkan mitologi Hindu Bali, hiduplah seorang keturunan raksasa bernama Raja Mayadenawa yang dikenal sebagai raja paling sakti mandraguna. Berkat kesaktiannya, ia dapat mengubah diri menjadi apapun yang diinginkan. Kesaktian ini membuat Mayadenawa menjadi sosok angkuh dan sombong.

Di masa pemerintahannya, ia ingin diakui sebagai Tuhan oleh masyarakat Hindu dan melarang umat beribadah ke pura. Lama kelamaan rakyat pun menderita karena dunia tidak seimbang. Tanaman penduduk rusak dan wabah penyakit merajalela.

Artikel terkait: 10 Muharram Lebaran Anak Yatim, Apa Maknanya? Ini Penjelasan Ulama

Menyikapi hal ini, Bhatara Indra mengutus para dewa turun ke dunia untuk menghancurkan kejahatan yang telah diperbuat Mayadenawa. Pertempuran yang sungguh tak mudah karean Mayadenawa selalu berhasil mengelabui Bhatara Indra. Bahkan, ia meracuni sebuah mata air yang mengakibatkan pasukan tempur Bhatara Indra meninggal.

Makna Mendalam Perayaan Hari Raya Galungan, Momentum Melawan Keburukan

Pada akhirnya, kesaktian yang buruk berhasil dikalahkan oleh kebaikan. Mayadenawa terdesak dan melarikan diri dengan meninggalkan jejak telapak kaki miring, yang kini dikenal dengan nama Tampak Siring. Bhatara Indra berhasil mengalahkan keangkuhan sang raja.

Kemenangan inilah yang bermakna kemenangan umat memenangkan diri dari rasa egois. Selain berpangku pada kebajikan, perayaan Galungan juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur umat Hindu atas karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Makna Galungan ini juga tertuang dalam lontar “Sundarigama” berbunyi:

“Buda Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep”

Yang bermakna:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Arahkan untuk bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

2. Ada 8 Rangkaian yang Harus Dilewati Umat Hindu Selama Merayakan Galungan

makna Hari Raya Galungan

Mengingat perayaan ini memiliki nilai filosofis yang tinggi, tak heran jika dalam prosesnya umat Hindu harus melewati deretan rangkaian sarat makna dengan urutan sebagai berikut:

  • Tumpek Wariga. Upacara ini dilakukan pada Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wariga, tepatnya 25 hari sebelum Galungan. Pada waktu ini, masyarakat Hindu Bali menghelat upacara dalam rangka memuliakan tumbuhan yang berperan besar dalam kehidupan manusia dan alam semesta
  • Sugihan Jawa. Sugihan Jawa dilakukan pada Kamis Wage Sungsang atau 6 hari menjelang hari raya suci Galungan. Berasal dari dua kata yaitu Sugi berarti bersih dan suci dan jaba yang artinya luar. Pada Sugihan Jawa, umat melakukan upaya nyomia atau menetralisir segala sesuatu yang negatif
  • Sugihan Bali. Dilaksanakan pada Jumat Kliwon Sungsang atau 5 hari menuju hari raya Galungan, Sugihan Bali bermakna penyucian atau pembersihan diri sendiri (Bhuana Alit). Penyucian diri dilakukan dengan mandi dan memohon tirta suci sebagai simbolis membersihkan jasmani dan rohani

Makna Mendalam Perayaan Hari Raya Galungan, Momentum Melawan Keburukan

  • Panyekeban. Panyekeban dilaksanakan Minggu Paing wuku Dungulan atau 3 hari sebelum Galungan. Nyekeb berarti merenung atau mengekang diri. Secara filosofis, pada hari Penyekeban umat belajar menahan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan agama
  • Penyajan. Dilaksanakan Senin Pon Dungulan, 2 hari sebelum Galungan. Berasal dari kata Saja yang berarti sungguh-sungguh, hari ini bermakna memantapkan diri untuk merayakan Galungan

Artikel terkait: 5 Fakta Menarik Sejarah Hari Pramuka dan Maknanya Bagi Anak

  • Penampahan jatuh sehari sebelum Galungan, yakni Selasa Wage wuku Dungulan. Pada hari inilah umat mempersiapkan diri menyambut Galungan. Penampahan ditandai dengan pembuatan penjor sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain membuat penjor, umat juga menyembelih babi untuk pelengkap upacara. Penyembelihan babi sendiri merupakan simbol membunuh semua nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia
  • Galungan. Galungan dirayakan pada Rabu Kliwon Dungulan, alias hari kemenangan. Upacara dilakukan mulai pagi hari, dimulai dengan sembahyang di rumah masing-masing lalu beribadah ke pura. Pada hari raya Galungan umat semakin melihat ke dalam diri untuk melakukan kebaikan sepanjang hidup
  • Umanis Galungan. Sehari setelah Galungan, umat Hindu saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi. Waktu ini juga saatnya bermaafan untuk memulai awal kehidupan yang baru. Di beberapa daerah di Bali, anak-anak melakukan tradisi ngelawang yang diyakini dapat mengusir segala aura negatif dan mendatangkan aura positif

3.Perayaan Berjalan 1 Bulan Hingga Pelepasan Penjor

makna Hari Raya Galungan

Setelah Galungan, sebulan lagi diadakan perayaan hingga dinyatakan selesai, seperti apa rangkaiannya?

  • Pemaridan Guru berlangsung pada Sabtu Pon Dungulan, 3 hari setelah Galungan. Pada hari ini dimaknai umat sebagai momentum memohon berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Guru
  • Ulihan. Dilaksanakan pada Minggu Wage Kuningan, Ulihan bermakna pulang atau kembali. Konteks ini maksudnya adalah hari kembalinya para dewata dan leluhur ke kahyangan dengan meninggalkan berkat dan anugerah panjang umur
  • Pemacekan Agung. Dilaksanakan Senin Kliwon Kuningan, Pemacekan bermakna keteguhan iman umat manusia
  • Hari Suci Kuningan. Dirayakan pada Sabtu Kliwon Kuningan. Umat memaknainya dengan cara memasang tamiang, kolem, dan endong. Tamiang adalah simbol senjata Dewa Wisnu yang menyerupai Cakra, Kolem adalah simbol senjata Dewa Mahadewa, sedangkan Endong adalah simbol kantong perbekalan Dewata dan leluhur saat berperang melawan adharma. Maknanya agar manusia selalu membentengi diri dengan iman dan hal-hal baik
  • Hari Pegat Wakan. Dilaksakanan pada Rabu Kliwon Pahang, sebulan setelah Galungan. Inilah runutan terakhir perayaan Galungan dan Kuningan. Pada hari ini, umat baru boleh mencabut penjor. Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah

Ternyata dalam juga makna Hari Raya Galungan yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. theAsianparent mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan untuk Parents yang merayakan, semoga selalu mendapatkan keberuntungan melimpah.

Baca juga:

5 Makna Tahun Baru Islam, Sudahkah Diterapkan dan Dikenalkan pada Si Kecil?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner